Budaya

"Jejak Tak Utuh" Sang Pendidik

coba

19.07.2010 12:35:55 WIB

BERNARKAH banyaknya intelektual dan pemimpin Indonesia hari ini, yang bobrok, merupakan "kegagalan" para guru? Pertanyaan ini akan menimbulkan banyak perdebatan. Ini juga sama ketika menikmati lukisan "Jejak Tak Utuh" karya Erwan Suryanegara yang dipamerkan "Pameran Jejak Sang Guru" di Galeri Kita, Jalan R.E. Martadinata, Bandung, 14-20 Juli 2010.

Kritik Erwan terhadap guru itu seakan diwujudkan pada jejak siput dan kerang yang berputar dan berbelit, sementara mereka yang ingin menempatkan jejaknya secara baik, harus melewati tiga ruang yang sudah terputus; pribadi, keluarga, dan bangsa. Yang terbaca hanyalah "jejak koran" atau catatan di media massa.

Selain lukisan "Jejak Tak Utuh" yang menggunakan Mixed Media (70 X 200: 3 Panel), Erwan memamerkan karya instalasi berjudul "Biduk Tan Akas Saki" (Perahu Kakek Sakit) di halaman Galeri Kita.

"Sejak kehidupan manusia-manusia awal jejak telah dipatrikan. Mereka, kita, kamu, dan aku memiliki jejak masing-masing pun bersama. Dulu, kini, dan mendatang jejak terus ditorehkan sesuai prosesnya. Aku, kita, kamu, dan mereka pada titik tertentu mencoba juga membaca kembali jejak-jejak itu, walau dengan pembacaan dan pemaknaan cenderung tak utuh, mungkin menyempit atau bahkan meluas," kata Erwan.

Komentar


Berita Terkait