16.04.2010 00:49:49 WIB
Oleh STEPHEN de TARCZYNSKI
MELBOURNE (IPS) – POLISI "menjemput saya, lalu menaruh saya di bagasi mobil. Mereka membawa saya (ke tempat sepi), memukuli (dengan sumpah serapah), dan meninggalkan saya di sana," ujar anak muda Afrika dalam sebuah penelitian terbaru mengenai penanganan pemuda asal Afrika oleh polisi Australia di Melbourne.
Laporan berjudul “Keterlibatan Polisi terhadap Komunitas Rasial di Melbourne” itu dirilis pertengahan Maret lalu. Ia merupakan bagian dari proyek mengenai rasisme yang dilakukan tiga lembaga hukum komunitas di Australia.
Laporan itu menunjukkan bahwa pemuda Afrika-Australia di Melbourne, kota terbesar kedua di Australia, selalu diawasi; pelecehan dan kekerasan oleh polisi tidak dilaporkan dan tidak diselidiki oleh lembaga yang berwenang; serta polisi sering bersikap bermusuhan dan agresif ketika anak-anak muda menuntut hak-hak mereka.
Tigapuluh pemuda, 27 laki-laki dan 3 perempuan berusia 15 hingga 27 tahun, diwawancarai untuk penelitian itu. Kebanyakan punya latar belakang Somalia atau Sudan.
Sebagian dari mereka merasakan pengalaman negatif dan seringkali kekerasan dengan petugas polisi negara bagian Victoria, termasuk pelecehan, komentar rasis, dan serangan yang serius. Penelitian itu tak menyebutkan nama karena takut pembalasan oleh polisi.
Salah satu sumber yang diwawancarai bilang mengalami perlakuan rasis, diludahi dan dipukuli kepalanya oleh polisi sebelum dibawa ke kantor polisi, dan di sana dia "dipukuli selama sepuluh menit."
Setelah dilepas melalui jalan keluar di belakang stasiun, pemuda itu kembali masuk ke kantor polisi lewat pintu depan, mengatakan kepada petugas jaga bahwa ia ingin mengajukan keluhan.
Menurut pemuda itu, petugas kemudian "memanggil salah satu polisi yang memukuli saya. Polisi lain datang dan menghampiri saya, ‘Jika Anda tak keluar sekarang juga, saya akan memasukkan Anda kembali'. Dan saya pun pergi.”
Tredwell Lukondeh, ketua Federasi Dewan Komunitas Afrika (FACC) di Sidney, mengatakan bahwa dia tak terkejut dengan temuan laporan itu.
"Yang mengejutkan adalah sejauh mana laporan itu menyoroti masalah itu. Kami punya keprihatinan dari berbagai tokoh masyarakat yang mempertanyakan masalah tersebut," kata Lukondeh kepada IPS.
FACC, yang mengumpulkan kelompok-kelompok Afrika dari seluruh Australia, sekarang sedang menyusun data mengenai perlakuan polisi terhadap warga Afrika-Australia, lalu menyampaikannya kepada kepolisian dan pemerintah negara bagian. Tapi Kepala Kepolisian Victoria Komisaris Simon Overland mengatakan, polisi sudah berbuat banyak hal untuk mempererat hubungan dengan berbagai komunitas etnis, termasuk masyarakat Afrika.
Upaya-upaya ini termasuk forum komunitas, pengangkatan lebih banyak pejabat multikultural, kemah polisi-pemuda, dan kegiatan olahraga bersama.
Overland mengatakan, ketegangan antara polisi dan pemuda imigran "bukanlah masalah baru."
"Dalam setiap gelombang migrasi, kami memiliki masalah dengan anak-anak muda. Jika kembali jauh ke belakang, ada gelombang orang Italia, Yunani, Vietnam, dan apa yang kita lihat sekarang adalah gelombang migrasi dari Afrika. Dan sudah diperkirakan ada ketegangan dengan anak muda," kata Overland kepada radio lokal milik Komisi Penyiaran Australia pada Maret lalu.
Sekalipun tak ada bangsa Afrika di antara 10 negara-asal teratas dari lebih 158.000 orang yang bermigrasi secara permanen ke Australia selama 12 bulan sebelum 30 Juni 2009 –periode terakhir berdasarkan angka yang tersedia– komunitas Afrika di Australia telah membengkak dalam beberapa tahun terakhir.
Warga Afrika menonjol di antara penerima visa baru-baru ini di bawah program kemanusiaan Australia, yang disediakan untuk pengungsi dan orang-orang yang membutuhkan perlindungan.
Warga Sudan, Ethiopia, Republik Demokratik Kongo, Somalia, Liberia, dan Sierra Leone masuk di antara 10 negara-asal teratas yang menerima visa kemanusiaan, yang diberikan pada 2008-2009.
Meski Lukondeh mengakui polisi telah mengambil langkah-langkah positif untuk mengatasi masalah dengan Afrika-Australia, ia percaya masih banyak hal yang bisa dilakukan.
"Kita musti menetapkan koridor pembelajaran tentang latar belakang budaya dari imigran-imigran baru itu. Ini penting karena pada dasarnya kebodohan yang menyebabkan masalah ini," kata Tredwell Lukondeh.
Setiap kemajuan atas upaya polisi untuk menciptakan hubungan yang lebih baik tampaknya rusak oleh temuan laporan itu, juga terungkapnya sebuah email rasis yang beredar di kalangan perwira polisi Victoria.
Overland berjanji akan menindak tegas para petugas yang disebut dalam laporan itu, "jika ada bukti untuk mendukung tuduhan ini." Tapi sekira 100 petugas harus diselidiki terkait email itu, di mana media lokal telah menyuguhkan gambar seorang laki-laki disiksa.
Laporan mengenai penanganan polisi terhadap anak-anak muda asal Afrika muncul mengakibatkan aksi kemarahan atas dugaan serangan bermotif rasialis terhadap orang India di Australia –dan Melbourne khususnya– tampaknya memudar.
Ini menyusul temuan Australian Comunication and Media Authority (ACMA), lembaga yang dibentuk berdasarkan UU yang bertanggung jawab atas regulasi media, November lalu bahwa tiga stasiun televisi komersial yang populer di Melbourne melanggar Kode Praktik Televisi Komersial tahun 2007 dalam laporan mengenai pengungsi Sudan di tenggara Melbourne.
ACMA menemukan, berita jaringan televisi Ten, Nine, dan Seven, yang fokus pada ketegangan rasial, kelompok-kelompok, dan keputusan pemerintah mantan Perdana Menteri John Howard untuk mengurangi asupan pengungsi Afrika, tak akurat.
Nine dan Ten melanggar syarat fair dan tak memihak yang diatur lembaga itu tentang penyajian berita.
"ACMA menganggap ulasan mereka berisi materi-materi yang dipilih secara tak fair, menjajarkan dan menyajikan secara tak fair, bahwa semuanya, khususnya orang Sudan, cenderung melakukan kekerasan dan kejahatan," demikian pernyataan ACMA.*
Translated by Imam Shofwan
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS
Foto (Ilustrasi): schools4schools.wordpress.com
