18.07.2011 10:03:03 WIB
Oleh Dedy Pranata
POLITIK dan ekonomi mungkin sudah merobek kebhinekaan masyarakat Nusantara, tapi puisi tetap menjaga keberagaman budaya Nusantara. Hal ini tercermin dari Pertemuan Penyair Nusantara V di Palembang, yang berlangsung dari 16-18 Juli 2011.
“Puisi-puisi yang terkumpul dalam buku Akulah Musi sangat menunjukkan kebhinekaan Nusantara. Itu menandakan secara kebudayaan Nusantara terus terjaga atau masih ada,” kata kritikus sastra Maman S. Mahayana dari Universitas Indonesia, dalam bincang-bincang, Senin (18/07/2011).
Kebhinekaan itu dapat dilihat dari pilihan bahasa, idiom, maupun tema dari setiap puisi yang disajikan penyair yang berasal dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, Srilangka dan Swedia.
“Oleh karena itu agar Nusantara ini tetap terjaga, ada baiknya para penyair terus mengambil tempat dan ditempatkan oleh masyarakat maupun pemerintah di depan guna menghadapi perkembangan budaya dunia,” kata Maman.
Kritik yang disampaikan Maman justru pada penggarapan buku para penyair. Maman menilai judul “Akulah Musi” cukuplah menarik. “Sejarah membuktikan Sungai Musi merupakan sungai yang paling banyak dikonsumsi maupun disinggahi berbagai suku-bangsa di Nusantara, sebab Palembang
sendiri merupakan kota tertua di Nusatara. Tapi, para editornya tidak menjelaskan soal latar-belakang tersebut,” kata Maman.
