07.08.2010 03:53:50 WIB
Oleh Jerrold Kessel dan Pierre Klochendler
YERUSALEM (IPS) – YERUSALEM adalah sebuah kota yang diberkati namun juga dikutuk karena kesuciannya sendiri. Ia tak lebih dari sekadar Ground Zero (daerah kosong), pusat keagamaan di dalam Kota Tua, di bawah situs suci yang dipersengketakan –orang Muslim menyebutnya Haram al-Sharif atau Bait Suci, orang Yahudi menyebutnya Har Habiyat atau Bukit Kuil.
Tembok Barat adalah sisa terakhir dari Kuil Yahudi kuno, situs tersuci Yudaisme. Sejak Israel mengambil-alih Kota Tua dalam Perang Arab-Israel tahun 1967, Tembok Barat menjadi simbol persatuan nasional.
Baru-baru ini ia menimbulkan perpecahan di antara orang Yahudi Israel. Juga pertentangan pendapat antara Israel dan kelompok Yahudi liberal di Amerika Serikat.
Peristiwa memalukan dalam perselisihan ini terjadi di Tembok Barat bulan lalu. Pertikaian itu melibatkan polisi Israel, warga Israel Ortodoks, dan kelompok perempuan Yahudi dari Israel dan AS yang berusaha menegaskan klaim mereka atas sebuah tempat dalam praktik keagamaan Yudaisme. Dalam Yudaisme Ortodoks, perempuan diingkari.
Pertikaian pecah ketika Women of the Wall mencoba bersembahyang di Tembok Barat dengan gulungan Taurat, sebuah salinan perkamen dari Buku Alkitab, teks sumber ajaran Yudaisme.
Taurat memberikan pukulan dan Anat Hoffman, ketua dari kelompok pendoa perempuan itu, ditahan. Ketika dia dibekuk ke dalam mobil polisi, dia berteriak, “Kami tak melakukan kesalahan apapun. Kami sepenuhnya menaati aturan Mahkamah Agung. Tak ada alasan sama sekali untuk menahan saya.”
Di bawah tekanan para rabi Ortodoks, pada 2003, Mahkamah Agung Israel? melarang perempuan membaca Taurat di pelataran Tembok Barat.??
Namun, dalam upaya mengakhiri protes yang terus-menerus oleh Women of the Wall, Mahkamah Agung memutuskan mereka boleh melakukan layanan doa, termasuk dengan gulungan Taurat, di bagian yang jauh dari Tembok Barat. Area itu dikenal sebagai Lengkungan Robinson yang jauh dari pandangan para penganut Ortodoks.??
Rabi Shmuel Rabinowitz, yang bertanggung jawab atas Tembok Barat, mengatakan perempuan melancarkan perlawanan politik dengan “fanatik”. “Orang-orang dari semua agama dan kalangan Yahudi boleh beribadah di sini. Tapi mereka diharapkan menghargai perasaan orang-orang yang berdoa di sini sepanjang waktu, dan berperilaku yang sesuai.”??
Hoffman membalas bahwa kelompoknya bukan menghina: ”Kami bernyanyi dan berdoa, memegang Taurat dalam perjalanan kami ke Lengkungan Robinson untuk menyempurnakan layanan doa kami.”
Ini bukan kali pertama Hoffman dan anggota kelompoknya ditahan saat hendak berdoa di Tembok Barat. Pada Januari lalu, Hoffman diinterogasi, diambil sidikjarinya, dan diancam dengan tuduhan melakukan tindak pidana.??
Menurut ajaran Ortodoks, perempuan dapat bersembahyang di Tembok Barat tapi hanya dalam area kecil sementara ruang yang lebih luas untuk laki-laki.??
“Perempuan dilarang di sini”, bunyi tanda peringatan yang terdapat di jalan masuk area laki-laki. Perempuan dapat mendengar layanan doa, tapi tak bergabung dengan laki-laki; ada pembatas tinggi yang memisahkan mereka.??
Pertikaian antara rabi Ortodoks dan Women of the Wall adalah sebuah pertarungan gender dalam masyarakat Yahudi. Ketahuilah posisimu, kata orang-orang Ortodoks kepada perempuan yang menentang dominasi rabi dalam wilayah agama.??
Ini menambah keruwetan medan perang agama antara Yudaisme dan Islam. Selain pertarungan agama sesaudara (sister religions) untuk memperjuangkan hak dan supremasi, kini “saudara perempuan” berhadapan melawan “kakak” dari agama yang sama.??
“Hari ini mereka mengatakan perempuan tak boleh memegang Taurat,” kata Hoffman, “Besok, perempuan tak boleh melihat Taurat. Berikutnya, perempuan tak boleh berada di Tembok Barat sama sekali. Sebelum Anda mengalaminya, seluruh Yerusalem akan dipisahkan. Itulah tujuan kami.”??
Rabi Rabinowitz membantah: “Ini adalah tempat persatuan, bukan perpecahan dan polarisasi. Jangan kita lupakan bahwa duaribu tahun lalu Kuil Suci kami hancur akibat kebencian dan perselisihan internal.”??
Masyarakat tak selalu baik terhadap anggotanya. Beberapa orang diizinkan masuk, yang lainnya harus di luar. Terkadang mereka bahkan menjadikan yang di luar sebagai “liyan”.??
Hoffman mengatakan: “Pada saat musuh-musuh kami bekerja untuk menjatuhkan negara Yahudi, pesan dari pendirian Israel adalah untuk menjatuhkan paham liberal di dalam Yudaisme.”??
Perjuangan Women of the Wall mencerminkan cara Yahudi Ortodoks menghadapi tantangan yang diprakarsai kelompok Yahudi reformis. ??
Bentuk liberal atas praktik Yahudi yang dianjurkan Hoffman, pemimpin gerakan Reformasi Yahudi di Israel, dan Gerakan Yudaisme Konservatif (sebagian besar orang Yahudi AS) tak pernah berakar di Israel.
Upacara keagamaan dipercayakan kepada Ortodoks, sekalipun sebagian besar orang Yahudi Israel hidup sekuler dan hanya menemui rabi saat ada upacara penting –kelahiran, kedewasaan, pernikahan dan perceraian, serta kematian.??
Pertarungan ini terjadi di saat sulit dalam hubungan antara Israel dan Yahudi Diaspora.
Sebagian besar Yahudi AS bergerak melawan RUU Konversi (soal perpindahan agama) di Knesset, parlemen Israel, yang akan menegaskan kontrol para rabi Ortodoks atas seluruh penganut Yudaisme di Israel. ?
Di menit akhir, celah dalam perselisihan antara Yahudi di AS dan Israel ini dialihkan – setidaknya ditunda; kedua pihak menyetujui waktu enam bulan untuk “peninjauan kembali”.??
Krisis itu mereda setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang berpendapat bahwa RUU Konversi itu “bisa memecah-belah orang Yahudi,” campur tangan.??
Dia menuduh Natan Sharansky, kepala Badan Yahudi (institusi yang menjadi penghubung antara orang Yahudi di luar negeri dan Israel) bekerja tanpa kompromi. “Ketika serangan atas legitimasi Israel meningkat, orang Yahudi harus bersatu,“ kata Sharansky, sebuah pembelaan yang biasa terlontar ketika Israel dalam masalah.??
Tapi Netanyahu mengakui bahwa “masalah” itu sudah berlalu melampaui perpecahan agama di dalam Yudaisme. Tantangan sebenarnya, dia tahu, bagaimana menangani kegelisahan yang berkembang di kalangan orang Yahudi di AS dengan balutan kebijakan pemerintahannya –pada saat bersamaan dia mungkin butuh dukungan lebih dari sebelumnya.*
Translated by Weka Swasti Wardhani?
Edited by Budi Setiyono?
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS
