02.05.2011 12:05:25 WIB
Oleh Dedy Pranata
MENYUSUL dugaan suap terhadap anggota Komite Eksekutif FIFA terkait pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022, Presiden Asosiasi Sepak Bola Internasional (FIFA) Sepp Blatter memiliki rencana dalam menentukan tuan rumah Piala Dunia lewat mekanisme voting. Jika ini berlangsung Indonesia maupun negara Asia lainnya lebih berpeluang menjadi tuan rumah Piala Dunia pasca 2022. Lo?
Alasannya, Indonesia merupakan negara bagian dari Asia, sementara benua Asia sendiri yang menjadi anggota FIFA sebanyak 52 negara. Jadi, jika Indonesia mampu melobi negara-negara Asia hal tersebut dapat terjadi. Sentimen Indonesia juga dapat diraih dari negara-negara Afrika, sebab saat ini sekitar 55 negara di Afrika bergabung ke FIFA.
Sejumlah negara di Afrika memang simpati dengan Indonesia, terutama dengan gagasan pertemuan Asia-Afrika tahun 1955, yang menaikkan posisi tawar negara-negara di dua benua tersebut dengan Eropa yang saat itu masih menjajah negara-negara di Asia dan Afrika.
Dengan cara ini, minimal dominasi Eropa dan Amerika Latin sebagai penyelenggara Piala Dunia menjadi berkurang. Di Eropa sendiri terdapat 45 negara anggota FIFA, sementara Amerika Latin sekitar 12 negara.
“Proyek ini sudah ada dalam benak saya. Saya akan mengadopsi cara dari Komite Olimpade Internasional untuk menghindari kejadian yang sama (kecurangan) di masa depan,” kata Blatter kepada surat kabar Jerman, Frankfurter Allgemeine.
“Komite Eksekutif akan menerima 10 atau 12 suara dan merekomendasikan yang terbaik dan kemudian kami akan mengadakan rapat pleno untuk mengambil suara. Itu akan jadi solusi yang tepat untuk FIFA. Dari pengalaman yang tak mengenakkan di masa lalu, ini adalah ide yang layak dipertimbangkan,” katanya.
Ide ini mungkin jadi salah satu "senjata" Blatter yang akan maju sebagai calon Presiden FIFA berikutnya. Ia tentu ingin merebut hati para anggota FIFA agar bisa mengalahkan saingannya, Presiden AFC Mohamed bin Hammam, pada pemilihan presiden FIFA 1 Juni 2011 mendatang.
