22.12.2009 08:08:39 WIB
Oleh SIGID WIDAGDO
“Saya namakan kitab ini Sarinah sebagai tanda terima kasih saya kepada pengasuh saya ketika saya masih kanak-kanak. Ia ‘mBok’ saya. Ia membantu ibu saya, dan dari dia saya menerima banyak cinta dan rasa kasih. Dari dia saya mendapat pelajaran mencintai ‘orang kecil’. Dia sendiri pun ‘orang kecil’. Tapi budinya sangat besar.”
Demikian Ir. Soekarno dalam kata pendahuluan bukunya yang diberi judul Sarinah, menunjukan begitu terkesannya Sang Proklamator Indonesia akan pengasuhnya.
Walau buku itu tidak menceritakan kehidupan Sarinah, namun nama Sarinah dalam buku itu kerap kali digunakan Soekarno sebagai simbol dari ketertindasan kaum hawa atas pasangan jenisnya laki-laki, sekaligus sebagai perempuan hebat yang melahirkan berbagai kebaikan, sampai membawa perubahan hebat dalam peradaban manusia.
Mungkin kita tidak tahu banyak tentang Sarinah, namun kita tahu jauh lebih banyak tentang Soekarno. Dan apa yang ada dibenak kita, ketika seorang Soekarno begitu terkesan terhadap ibu asuhnya, kalau tidak sesuatu yang teramat berharga telah diberikan Sarinah kepada dirinya. Dan tentu tidak berlebihan kiranya, kalau sosok perempuan yang dikenang Sang Proklamator Indonesia itu merupakan seorang ibu yang luar biasa.
Sarinah, ibu dari kalangan “orang kecil” itu, telah memberi pelajaran yang sangat berarti kepada seorang anak yang diasuhnya, yang kemudian hari seorang anak kecil itu tumbuh besar dan menghantarkan kemerdekaan bangsa ini. Sarinah telah menjadi salah satu ibu yang melahirkan kemerdekaan Indonesia, bersama ibu-ibu lainnya yang telah menanamkan jasa luar biasa terhadap bangsa ini, sampai lahirnya ibu pertiwi.
Tulisan ini tidak mencoba mengatakan ibu kandung Soekarno dan ibu-ibu kandung kita lainnya tidak berjasa dalam membesarkan dan mendidik anaknya. Dengan hanya berbatas benang tipis, yang memisahkan antara hidup dan mati, disaat seorang ibu melahirkan anaknya, sudah cukuplah itu menunjukan kepada kita betapa besar jasa ibu kandung terhadap anaknya.
Sehingga begitu akrab di benak kita sebuah kalimat, “Surga di bawah telapak kaki ibu.” Sehingga kata ‘durhaka’ tidak pernah menempel bersama kata ‘Ibu’. ‘Durhaka’ selalu bersanding dengan kata ‘anak’ didepannya. Begitu selanjutnya, dan terasa tiada yang tidak adil karenanya, karena seorang ibu pun pernah menjadi anak sebelumnya. Dan seorang anak, tidak perduli itu perempuan atau laki-laki, berkesempatan menemukan surga itu di bawah telapak kaki ibunya.
Bahagialah kita sebagai seorang anak, tidak perduli perempuan atau laki-laki, kalau memiliki surga-surga lainnya di bawah telapak kaki ibu-ibu yang bukan ibu kandung sekalipun.
Tidak hanya Soekarno. Mungkin banyak dari kita yang memiliki pengasuh yang memberi kita cinta dan kasih yang tulus dan pelajaran yang berharga lainnya. Seperti halnya R.A. Kartini. Siapa yang tidak kenal dia, yang kemudian kita tahu ia lebih bahagia dipanggil Kartini saja. Sebagai seorang perempuan pribumi, Kartini tercatat sebagai salah seorang pahlawan yang pertama kali menyalakan lilin emansipasi perempuan Indonesia, bahkan juga menyalakan obor nasionalisme tahap awal bangsa ini.
Namun kenalkah kita siapa pengasuh Kartini ? Mungkin banyak orang tidak tahu sosok ibu pengsauh itu, Rami namanya. Ia adalah emban atau pengasuh Kartini semenjak kecil. Seperti yang dikutip Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya Panggil Aku Kartini Saja, dari tulisan Marie C. van Zenggelen Sekelumit dari Kehidupan R.A. Kartini, yang pernah dimuat dalam Bintang Minggu, 13 Maret 1960.
“Malam itu Kartini sakit. Dan ketika fajar menyingsing, dan ayam mulai berkokok, Rami, embannya, yang tiap malam tidur di atas tikar di depan kamar R.A. Kartini, …”
Dalam buku Pramoedya Ananta Toer, yang dikutip dari tulisan Marie C. van Zenggelen itu, Rami merupakan sosok ibu yang menjaga keselamatan dan kesehatan Kartini, bukan saja sewaktu Kartini masih jabang bayi, tapi pun sampai jauh di kemudian hari.
Sehingga Rami, sang emban itu, bukan hanya sebagian hidup Kartini saja, melainkan telah menjadi sebagian dari tubuhnya. Demikian Rami, menjadi sosok ibu yang terdapat surga di telapak kakinya. Namun apakah surga itu juga untuk Kartini yang bukan anak kandungnya? Seperti halnya surga di telapak kaki Sarinah, untuk Soekarno yang juga bukan anak kandungnya ?
Kartini juga dalam sebuah tulisannya, yang dimuat dalam buku Panggil Aku Kartini Saja, menyebutkan terdapat seorang wanita tua yang pernah bertembang kepadanya dan tembang itu sangat terpatri di benak Kartini. Dalam tulisan itu, Kartini dengan indah mengungkapkan banyak mendapat pelajaran yang didapat dari seorang wanita tua itu. Demikian Kartini menulis :
Ada disini seorang wanita tua, padanya aku mengemis bunga yang mengharum di dalam hati. Banyak yang telah diberikannya kepadaku, dan dia memiliki lebih banyak lagi, jauh lebih banyak, dan aku ingin mendapatkan jauh lebih banyak pula. Ia mau memberi lebih banyak lagi, tapi aku pun harus bermodal, untuk pembayaran bunganya … dengan apa ? Dengan apa aku harus membayar ? …
Dan terdengar suara sangat syahdu dari mulutnya : “Berpuasalah seharmal dan sementara itu jaga terus di dalam kesunyian.” Lalu desah lagu ditelingaku : “Habis malam terbitlah terang, habis badai datanglah damai, habis juang sampailah menang, habis duka tibalah suka.”
Rasanya kurang lengkap kalau makna yang ditangkap Kartini dari tembang itu tidak disampaikan. Lanjut Kartini dalam tulisannya : Inilah makna, isi, yang terkandung dalam kata wanita tua itu. Puasa dan jaga adalah lambang, dengan jalan melewati penderitaan, penanggungan, renungan, sampai kepada terang. Tiada terang yang tiada didahului oleh gelap … mengendalikan diri adalah kemenangan jiwa atas tubuh kita, kesunyian adalah jalan menuju pemikiran.
Dengan indah Kartini mengungkap, tembang jawa yang disenandungkan seorang wanita tua membekas dalam dirinya. Memberi pelajaran berarti untuknya, dan karenanya sampai kini masih dapat kita ketahui tembang itu, bahkan menjadi terkenal yang melekat pada sosok Kartini, habis gelap terbitlah terang..
Sayang kita tidak dapat mengetahui sejatinya, seperti apa seorang Soekarno kecil dimata Sarinah, juga Kartini kecil dimata embannya, sehingga Sarinah dan Rami setia menjadi sebagian hidup Sang Pahlawan bangsa ini. Atau juga kenapa wanita tua itu menembangkan syair di telinga Kartini ?.
Layaknya Sarinah banyak memberi dan mengajarkan kasih dan cinta kepada Soekarno yang kemudian hari menghantarkan kemerdekaan Indonesia, layaknya Rami yang menjadi sebagai tubuh Kartini yang bersumbangsih besar untuk bangkitnya martabat perempuan pribumi dan kebangkitan nasionalisme tahap awal, serta wanita tua itu yang bersenandung kepada Kartini akan falsafah hidupnya yang dapat kita pelajari sampai sekarang, juga Kartini sendiri dengan pemikirannya, semua itu masih dapat kita rasakan sampai sekarang. Peradapan, khususnya bangsa ini banyak berhutang budi kepada ibu-ibu itu.
Mereka, ibu-ibu itu, termasuk Kartini didalamnya, memiliki : pandang mata yang tajam menembus hati, belai tangan yang menghaluskan batu karang, lembut tutur sapa yang menjinakkan halilintar, dan barang tentu telapak kaki mereka terdapat surga dibawahnya hanya untuk anak-anak yang ingin menemukannya.
Bukankah surga-surga itu tidak hanya untuk anak kandungnya. Surga itu juga anak untuk anak-anak yang diasuhnya, diajarinya. Bahkan surga itu tersedia juga untuk kita, kita semua, sampai kini! Dan tiada orang, bahkan bangsa yang besar tanpa menemukan dan mengingat surga-surga itu dalam juangnya. “Moga-moga Tuhan membalas kebaikan Sarinah itu,” doa Soekarno dalam bukunya. Juga untuk kebaikan ibu-ibu kita lainnya.
