05.10.2009 21:14:25 WIB
Oleh FARID GABAN
Dua hari kemarin paling melelahkan tapi menyenangkan.
Di Teluk Kiluan, Lampung, kami menginap di rumah Pak Solihin, nelayan berusia 50 tahun dan beranak empat. Rumah dia di bibir teluk, rumah yang sederhana tapi saya menyebutnya sebagai surga.
Pak Solihin ini praktis punya pantai sendiri, “kolam renang” besar tempat anak lelakinya mulai belajar menambatkan kapal, terumbu karang yang masih lestari di seberang pulau, berbagai jenis ikan yang bisa dimakan. Dan jika mau sedikit berkeringat pergi ke laut lepas Samudra Hindia, orang di sini bisa menikmati pawai dan tarian lumba-lumba–ribuan lumba-lumba pada saat yang sama.
Pak Solihin berselang-seling bekerja mencari ikan dan mengantarkan turis menonton lumba-lumba dengan kapal kecil yang muat empat orang. Tapi, kecuali turis asing yang sangat bersemangat, tak banyak yang datang ke situ karena rusak berat jalan dari Bandar Lampung ke teluk yang indah itu.
Saya bilang ke Ahmad Yunus, Kiluan ini mungkin cermin dari banyak desa pesisir dan kepulauan. Daerah yang kaya. Orang tak mungkin kelaparan di sini. Dan Indonesia sendiri memang negeri yang kaya sebenarnya. Tapi kurang terurus.
Sehari dua malam yang padat di Kiluan buat saya: menonton lumba-lumba menari, snorkeling memotret terumbu karang, rock climbing untuk mendapatkan birunya laut lepas dari ketinggian, berenang 500 meter dari pulau Kiluan ke daratan, hiking di perbukitan. Saya pulang ke rumah Pak Solihin dengan tangan dan kaki luka oleh goresan karang, duri perbukitan dan tusukan tajam batu yang digerus air. Tapi, puas, terutama jika membayangkan macet di Jakarta yang bikin stress.
Tapi, yang lebih melelahkan adalah keesokan harinya. Kami harus menempuh jarak Kiluan-Kota Agung, yang hanya sekitar 80 km, dari pagi hingga malam. Jalan rusak hebat, berubah jadi seperti sungai berbatu di setiap tanjakan dan turunan, dan lebih mirip jalur off-road karena aspal telah digantikan rumput dan ilalang. Banyak tanjakan dan turunan berbatu dan bertanah licin. Tangan pegal semua. Dan saya dua kali jatuh karena motor terpeleset. (Inilah pertama kalinya saya memakai motor trail, dan langsung terjun off-road).
Motor kami harus melewati beberapa sungai yang airnya pasang akibat hujan semalam. Tiga sungai lumayan besar: yang pertama motor harus digotong, yang kedua nekat menerjang air sungai sambil berdoa mesin tak mati di tengah, dan yang ketiga motor harus diangkut dengan rakit kecil.
Kami mewawancara banyak orang sepanjang perjalanan. Banyak dari mereka adalah keturunan transmigran dari Jawa dan Sunda. Rata-rata mereka mengeluh jalan yang rusak, sekolah yang kekurangan guru, puskesmas tanpa dokter. Boro-boro jaringan listrik. Beberapa rumah mengusahakan sendiri generator mikro-hidro dari derasnya air perbukitan.
“Pak Bupati dan anggota DPR hanya ke sini kalau menjelang pemilihan,” kata Bu Kamiatin yang tinggal di rumah terpencil tepi sungai Way Balak. “Mereka bikin janji memperbaiki jalan, kemudian lupa memenuhinya.”
“Kami sedikit beruntung ada jatah raskin (beras orang miskin) dan pembagian BLT,” kata Kamiatin, generasi kedua transmigras asal Kebumen, Jawa Tengah.[fg]
