29.07.2009 17:11:12 WIB
Oleh YASIR AMRI
PROGRAM sekolah gratis memberi dampak terhadap sejumlah sekolah di Palembang menghapus sejumlah kelas unggulan atau holistik. Ini misalnya yang diambil Sekolah Menengah Umum Negeri 13 Palembang, yang menghapuskan lima kelas holistik menyusul pemberlakuan sekolah gratis. Langkah ini terpaksa diambil karena adanya larangan pungutan sumbangan sementara dana operasional unggulan mahal.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Palembang, H Hatta Wazol, kepada peras, Rabu (29/07/2009), mengatakan keputusan ini berlaku sejak tanggal 13 Juli 2009 atau hari pertama masuk sekolah.
"Terpaksa kita lakukan, dari pada mengorbankan mutu, kan ada larangan dari pemerintah mengambil pungutan," kata Hatta, di ruang kerjanya, Kamboja, Palembang. Kenyataan lain, kelas holistik membutuhkan biaya operasional yang relatif besar dibandingkan kelas reguler. Selain itu, siswa juga wajib menerima pelajaran tambahan hingga pukul 16.00 sore setiap hari.
"Pelajaran tambahan di kelas holistik lebih dari empat jam dan banyak diisi praktek dibandingkan teori," kata Hatta seraya mengakui keberadaan kelas holistik di SMAN 13 Palembang sejak tahun 2001. "Kita hanya menghindari protes saja, tidak mungkin mengadakan kelas unggulan sementara status sekolah tidak termasuk sekolah unggulan," kata Hatta.
Sementara Kepala Sekolah SMAN 13 Palembang. Drs Somad membenarkan hal tersebut. Pihaknya terpaksa mengambil keputusan atas instruksi dari Kadisdikpora Palembang. Siswa yang semula masuk pada kelas holistik dikembalikan ke kelas reguler. Waktu belajar yang semula pukul 16.00 diperpendek hingga pukul 13.00. Materi belajar pun dipadatkan.
