Internasional

Perempuan Bercelana Hidupkan Pasar

coba

21.09.2011 21:37:40 WIB

Oleh Ahn Mi-Young

SEOUL (IPS) – PEMERINTAH komunis Korea Utara tak suka perempuan memakai celana panjang, menganggapnya sebagai nilai “gaya hidup borjuis yang busuk”. Namun, para istri, mengenakan celana panjang, menjual barang-barang di pasar lokal untuk membantu penghasilan suami mereka yang amat kecil.

Sementara para suami bekerja keras di pabrik bobrok dan tambang yang suram, para istri menggenjot sepeda menuju pasar terdekat untuk menjual apa saja yang bisa dijual dan membawa hasilnya yang mungkin justru menjadi pendapatan utama keluarga.

“Upah ayah turun drastis, sementara uang ibu yang didapatkan di pasar meningkat drastis,” kata Hyun Geong, seorang ahli urusan Korea Utara, kepada IPS dalam sebuah wawancara.

“Ibu, seorang penjual yang baik, bisa membawa 10-20 kali lebih banyak dari yang ayah peroleh sebagai gaji bulanan,” kata Hyun, bekerja di Free North Korea (FNK) yang berbasis di Seoul dan didirikan pembelot Korea Utara untuk menyiarkan program-program melintasi perbatasan.

Para pengunjung Korea Selatan di beberapa pasar yang tersebar di Korea Utara, sebuah negara miskin, membawa pulang kisah-kisah perempuan giat, biasanya berusia 30 dan 40-an, yang dengan percaya diri menjalankan warung.

“Mereka cerdas namun agresif,” kata seorang penginjil Korea Selatan yang rutin mengunjungi Korea Utara untuk memberikan bantuan makanan. Dia menambahkan, hal umum melihat ibu-ibu muda melayani pembeli sementara bayi mereka, yang kurus akibat gizi buruk, terlelap dalam gendongan mereka.

“Sementara ibu berjualan di pasar, ayah biasanya bermalas-malasan di rumah atau pabrik-pabrik yang nyaris tak beroperasi karena kekurangan pasokan listrik,” ujar Kim Chung-Chull, 26 tahun, yang meninggalkan Korea Utara beberapa tahun lalu.

“Pada 1980-an kami menunggu ayah membawa ransum. Tapi pada 1990-an kami lebih bersemangat menunggu ibu kembali dari pasar dengan membawa sesuatu untuk dimakan,” kata Kim.

Tipikal baru perempuan yang bisa membawa diri membawa pulang daging babi asap, mematahkan ajaran Konfusian bahwa istri berada dua langkah di belakang suaminya sebagai bentuk pengabdian.

“Ransum makanan pada 1990-an berisi 300 gram hingga 600 gram per orang, tergantung pada banyak faktor, termasuk kedudukannya. Ini sedikit namun cukup kuat untuk membuat perempuan tetap di rumah,” kata Hyun.

Pada akhir 1990-an, kondisi seperti kelaparan mulai menghampiri jutaan keluarga di Korea Utara, memaksa para istri mendatangi pasar sebagai penjaja yang menjual harta milik mereka hanya untuk mendapatkan sedikit beras.

Terjadi kemunduran pada 2007 ketika rezim mendevaluasi mata Korea Utara yang mengakibatkan nilai uang tunai yang disimpan para istri giat itu jatuh.

Tapi pasar memulihkan semangat mereka pada 2010, berkat terbukanya saluran pasokan dari Korea Selatan dan memantapkan permintaan akan barang-barang konsumen.

“Orang Korea Utara suka barang-barang dari Selatan –dari coklat dan kue beras hingga DVD film drama Korea Selatan. Sebagian besar barang datang melalui China atau dikirim kerabat yang bekerja di Korea Selatan,” kata Lee Ban, berusia 38 tahun, yang melarikan diri ke Korea Selatan pada 2003.

Kegairahan pasar yang tiba-tiba itu meninggalkan keadaan pada 1990-an, yang ditandai dengan antrian panjang demi mendapatkan jatah.

“Saat itu (pada 1990-an), bahkan jika ada pasar, hampir tak ada yang dijual dan dibarter di Korea Utara. Sekarang pasar ada, karena mendapat pasokan dari Korea Selatan melalui China,” kata Shin Sun-Dae, seorang penerbit.

Produk budaya Korea Selatan dianggap sebagai “polusi dari luar” sehingga masyarakat perlu dilindungi dan menjadi sebuah tantangan langsung bagi rezim Korea Utara.

“Kerajaan Pertapa” bahkan mengancam akan menjatuhkan hukuman mati bagi rakyatnya yang ketahuan menjual atau menonton CD dan DVD drama televisi, film, atau musik Korea Selatan.

Kendati berbahaya, opera sabun teve Korea Selatan tetap populer. “Ketika kali pertama menonton drama teve Korea Selatan, saya tertegun melihat orang Korea Selatan tinggal di rumah yang layak, makan makanan yang baik, dan mengendarai mobil bagus. Sejak kecil saya diajarkan bahwa kami harus membantu rekan-rekan kami di Korea Selatan yang kelaparan,” kata Kim Hyun-Ji, berusia 28 tahun, seorang pembelot Korea Utara.

“Saat ini, permintaan (budaya Korea Selatan) sangat tinggi sehingga pemerintah Korea Utara hampir tak berdaya,” kata Kim Seong-Min, yang menjalankan Radio FNK –kerap didengarkan banyak warga Korea Utara secara ilegal.

Kim mengatakan, ribuan komputer, kendati usang, dipakai di Korea Utara untuk mengkopi opera sabun dan film-film yang populer. “Harga satu kopi CD drama teve Korea Selatan setara dengan upah bulanan rata-rata seorang pekerja Korea Utara, namun permintaan sangat besar.”

Ibu dan saudari, yang bekerja sebagai pembantu di Korea Selatan, dengan upah yang terlihat kecil menurut standar orang Korea Utara, merupakan sumber utama dari CD dan barang-barang yang didambakan lainnya.

Salah satu barang yang sering dikirim perempuan Korea Utara ke rumah adalah penganan yang disebut Choco Pie, yang harganya murah di Korea Selatan, tapi dijual sebagai suguhan di pasar di seluruh Pyongyang dengan harga yang bisa untuk membeli beberapa makanan.

Choco Pie terutama populer di Kaesong Industrial Park, 10 km sebelah utara dari Zona Demiliterisasi Korea, yang mempekerjakan ribuan perempuan Korea Utara dan memberikan dua atau tiga potong Choco Pie setiap hari sebagai makanan penutup.

Alih-alih memakan kue dalam lapisan foil itu, mereka menyusupkan keluar dari zona industri bebas untuk dijual dengan harga mahal atau dibarter di pasar Korea Utara.

Shin Sun-Dae berpendapat, ketimbang mengirim beras sebagai bantuan pangan ke Korea Utara mungkin akan lebih baik jika Seoul menyumbangkan cokelat. “Jika mengirim beras, orang Korea Utara akan menghabiskannya dengan cepat. Tapi jika mengirim cokelat, mereka akan menjual atau membarternya dan pasar akan ramai.”*



Translated by Basilius Triharyanto
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerja sama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik.

Komentar


Berita Terkait