Budaya

Pentas Prajurit Perempuan

coba

11.04.2011 00:12:16 WIB

Mengiring peringatan Hari Kartini yang jatuh pada 21 April, Teater Tubun SMA Negeri 15 Palembang tak mau membuang kesempatan ini untuk ikut dalam menyampaikan pesan moral terhadap kalangan pelajar, dan warga di Palembang, tentang peran kaum perempuan.

Kaitannya dengan Hari Kartini itu, teater yang pernah menduduki terbaik pertama pada Festival Teater Pelajar se-Sumsel di Graha Budaya Jaka Baring 2010, akan mementaskan naskah “Perempuan Prajurit” karya penulis Palembang, Imron Supriyadi, pada 23-24 April 2011 di Graha Budaya Jaka Baring Palembang, dengan harga tiket Rp 10 ribu per orang.

Ketua Teater Tubun, Yondi Auodyto mengatakan, sampai saat ini tim-nya masih melakukan maksimalisasi latihan, dibawah bimbingan pelaku teater Palembang, Jaid Saidi dan Yosep Soetrisno. “Persiapan pementasan sedang dilakukan. Dan kami sangat berterima kasih, karena Pak Jaid dan Pak Yosep bisa ikut mengawal dan membimbing kami dalam pementasan ini,” tegasnya.

Lebih lanjut Yondi menjelaskan, naskah ‘Perempuan Prajurit’ ini merupakan adaptasi dari naskah ‘Pulau Terakhir’ karya Imron Supriyadi. Ada beberapa perubahan sedikit dalam naskah, tetapi tidak mengurangi esensi cerita. “Karena penulis sendiri yang melakukan adaptasi, jadi kami tidak punya beban moral ketika naskah ini diolah kembali. Kalau yang merevisi kita, sementara karya orang diluar Palembang, tentu kita harus izin dulu, tetapi untuk naskah ini tidak begitu, kita berdayakan penulis naskah dari Palembang, supaya semua bisa berjalan seimbang, antara penulis dan pemain.,” tegas Yondi, seraya menambahkan saya potensi penulis di Palembang banyak yang berkualitas, tinggal setiap penulis itu mau atau tidak menggali potensi yang dimilikinya untuk menuangkannya dalam naskah.

Seiring dengan itu, Jaid Saidi, yang ikut membidani pementasan ini mengatakan, potensi di kalangan anak-anak SMA ini sangat besar. Tinggal bagaimana pihak sekolah, lembaga yang berkompeten lainya bisa ikut mendorong proses percepatan kreatifitas sejumlah teater di beberapa sekolah. “Gagasan untuk pentas tunggal bagi siswa sekolah ini sangat baik, dan ini perlu dimotivasi oleh pekerja seni di Palembang dan di Sumsel pada umunnya. Sayang kalau potensi ini tidak dimbangi dengan dorongan moral dan material, baik dari sekolah maupun dari lembaga lainnya,” tambahnya.

Senada dengan itu, Yosep Soetrisno, mantan pelaku Teater Leksi Palembang yang mendampingi Jaid Saidi mengemukakan, pentas ‘Perempuan Prajurit’ ini menjadi embrio bagi sejumlah teater di sekolah di Palembang, meskipun sebelumnya sudah dilakukan pelaku teater lainnya. Oleh sebab itu, Direktur Lembaga Kebudayaan Venesia dari Timur ini menegaskan, dengan pementasan teater yang lahir dari SMA ini bisa mendorong sejumlah seniman di Palembang ikut membantu secara moral, agar konsistensi siswa dalam seni teater tetap terjaga. “Menurut saya, datang dan duduk menonton saja, sudah menjadi bagian apresiasi. Jadi ini yang seharusnya kita lakukan terhadap bentuk pementasan apappun dan siapapun. Tidak perlu melihat siapa yang pentas dulu. Tetapi bagi senior, niatkan saja ketika hadir minimal untuk memberi semangat oada mereka,” tegasnya.(*)

Komentar


Berita Terkait