20.04.2010 19:40:28 WIB
Oleh MA GUIHUA
BEIJING (IPS) – SELAMA beberapa dekade, perempuan “menggapai separoh langit di China,” karena desakan mendiang Ketua Mao Zedong. Tapi dalam beberapa tahun terakhir, banyak dari mereka ingin meraih karena pesonanya ketimbang kemuliaan sosial.
Di sini dan di tempat lain, perempuan China mengantri kursus pendidikan yang di negara-negara lain –dan di masa lalu– akan disebut “kelas sekolah tingkat akhir”.
Nyatanya, kursus kepemimpinan tingkat lanjut bagi perempuan ditawarkan Universitas Tsinghua yang bergengsi di Beijing. Seorang pegawai administrasi di sana mengatakan, ”Sekitar 80 persen dari materi kursus adalah manajemen dan pengembangan perusahaan. Sisanya (tentang) citra, komunikasi publik, dan keseimbangan karier-keluarga.”
Zhang Lehua, seorang instruktur dalam bidang perempuan dan etiket, mengatakan perempuan tertarik pada kursus semacam itu: ”Mereka cukup sukses dalam bisnis. Di sisi lain, mereka menyadari citra dan esensi lain dalam hidup terabaikan, padahal merupakan ‘langit-langit kaca’ mereka sendiri.”
Sejak Republik Rakyat China berdiri pada 1949, perempuan memperoleh kedudukan mereka yang dulu dianggap rendah dalam masyarakat China kuno. Praktik pemasungan perempuan –yang dilakukan kaum pria dalam masyarakat feodal China– akhirnya menghilang setelah perempuan mulai bekerja berdampingan dengan laki-laki.
Kini perempuan China bisa ditemukan dalam posisi-posisi penting di pemerintahan dan sektor swasta. Data statistik resmi menunjukkan 41 persen bisnis swasta di China dipimpin oleh perempuan dan 28 persen eksekutif di perusahan milik negara atau swasta adalah perempuan.
Tapi kesuksesan dalam karier membuat perempuan berusaha tampil “jantan” seperti mitra laki-laki mereka. Pakaian atau aksesoris apapun yang mencerminkan femininitas dan kecantikan sering dianggap sebagai “borjuis kecil”.
Persaingan dengan kaum pria juga memaksa mereka bertutur bahasa dan bersikap kasar seperti kolega pria mereka. Zhang mengatakan: ”Perempuan China dulu dikenal moderat, baik hati, sopan, dapat mengendalikan diri, dan murah hati. Tapi sekarang kualitas tersebut menurun.”
”Sayang, ketika nenek moyang kami menggulingkan dinasti terakhir, budaya dan etika anggun yang tertanam kuat selama ribuan tahun juga terbuang,” katanya.
Tak jarang ada perempuan berpakaian mahal, lengkap dengan tas bikinan desainer ternama, bicara keras di depan umum atau melompat antrian tanpa pikir panjang.
Menurut Zhang, perilaku semacam itu bisa ditelusuri dari sistem sosial dan pendidikan yang menekankan ketrampilan untuk mendapatkan pekerjaan dan hidup mandiri, juga pelatihan profesional. Semua itu terpuji, tapi sayangnya perhatian terhadap pendidikan estetika dan keanggunan budaya telah ditinggalkan, ujarnya.
Reformasi ekonomi China membuka negeri ini bagi selera dan tren fashion Barat. Perempuan pun mulai menemukan kembali sisi feminin mereka. Jika dulu mereka tak punya alasan untuk berpaling pada etika dan cara berdandan, kelas-kelas khusus yang menawarkan hal semacam itu kini populer.
Zhang sendiri melatih perempuan berpakaian, beretika sosial, bertata-krama, membangun citra dan kepercayaan diri selama tujuh tahun terakhir di Youlan Women’s Institution yang didanai swasta. Dia menjadi direkturnya.
Lembaga itu menawarkan kepada anggota salon beragam aktivitas dengan topik seperti musik atau apresiasi puisi, analisis karakter, dan kombinasi warna. Dari waktu ke waktu, upacara minum teh dilakukan. Para anggotanya bisa berpartisipasi.
”Semua anggota kami datang atas kemauan mereka (sendiri),” kata Zhang, yang berpakaian rapi, seorang dokter medis lulusan Beijing Capital Medical University dan mendapat PhD dalam bidang patologi dari New Jersey Medical School di Amerika Serikat. ”Kami berjalan tanpa iklan. Hanya dari mulut ke mulut.”
Saat ini jumlah anggotanya –Zhang bilang sebagian besar pengusaha berusia 30-an– membengkak hingga 700 orang. Yang menghambat perempuan lain mendaftarkan diri adalah biaya kursus 15.000 yuan atau 2.200 dolar per orang.
Biaya itu terhitung wajar untuk kelas semacam itu. Di Tsinghua, biaya kursus kepemimpinan tingkat lanjut bagi eksekutif perempuan “bisa dijual 500.000 yuan (73.500 dolar) per tahun”. Sementara biaya kursus selama 35 hari sebesar 36.800 yuan (5.294 dolar), permintaannya tetap.
Beberapa orang berkata kursus semacam ini menghamburkan uang dan tak berguna bagi masyarakat. Yang lainnya tak sependapat. Kata Lin Hua, ahli perempuan dan keluarga: ”Kita harus membiarkan jiwa kita melambung tinggi selagi kekayaan dan kepercayaan kita berada di jalur cepat (secara karier).”
Ratu Musik China dan feminis terkenal Zhang Aojia menambahkan, ”Sudah saatnya (kita) memelihara rumah spiritual kita dan berinvestasi untuk kebutuhan-kebutuhan kultural, baik buku, konser, atau koleksi seni sebelum kita menjadi vulgar dan kasar.”
Zhang berkata mereka fokus pada perempuan “bukan karena pria lebih baik atau terbebas dari perilaku buruk, tapi (karena) kebiasaan jelek mereka yang keras kepala”. Selain itu, ”perubahan di antara perempuan dapat menghasilkan keajaiban dan berdampak (bagi) satu generasi.”
Dia menambahkan, ”Esensi hidup seperti sopan-santun dan etika penting bagi kualitas suatu bangsa, dan karenanya harus tertanam sejak dini dan dilakukan pada setiap tahap pendidikan sekolah. Tapi (karena ia) tak lagi ada dalam sistem pendidikan berbasis ujian, kita sebaiknya mulai (mengembalikannya) dari sekarang sebelum terlambat.”*
Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS
