Internasional

Cengkeraman Militer Rusia dan China

coba

08.01.2010 14:53:12 WIB

Oleh THALIF DEEN

PBB (IPS) – RUSIA bergerak lebih cepat dari AS dalam perdagangan senjata bernilai jutaan dolar di Yaman yang kekurangan uang. Pembelian senjata sebagian besar didanai oleh negara tetangganya, Arab Saudi.

Angkatan bersenjata Yaman, yang sedang menjalankan program modernisasi milter ambisius senilai sekira empat milyar dolar, diperlengkapi dengan senjata-senjata yang sebagian besar berasal dari Rusia, China, Ukraina, dan bekas Eropa Timur dan republik Soviet.

Dengan adanya upaya peledakan pesawat udara AS pada hari Natal oleh pelajar Nigeria, yang menurut laporan dilatih oleh al Qaeda di Yaman, pemerintahan Barack Obama berjanji untuk menggandakan bantuan militer dan kontraterorisme, hingga hampir 150 juta dolar, untuk memperkuat pemerintahan Presiden Ali Abdullah Saleh.

Saat ini Yaman menerima bantuan beberapa program yang didanai AS, termasuk Pendanaan Militer Asing (Foreign Military Financing/FMF), Pendidikan dan Pelatihan Militer Internasional (International Military Education and Training/IMET), Nonproliferasi, Antiterorisme dan Pembersihan Ranjau Darat, serta Memerangi Senjata Pemusnah Massal.

Namun bantuan militer yang ditawarkan ke Yaman –semuanya gratis– bersama suplai senjata AS tak seberapa jika dibandingkan senjata, pelatihan militer, dan keahlian teknis dari sumber-sumber non-AS.

Menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), sebuah lembaga think-thank terkemuka di dunia yang menelaah penguasaan dan pelucutan senjata, hampir 59 persen dari seluruh pengiriman senjata ke Yaman selama 2004-2008 berasal dari Rusia, diikuti Ukraina 25 persen, Italia10 persen, Australia 5 persen, dan AS kurang dari 1 persen.

Dr. Paul Holtom, direktur Program Pengiriman Senjata SIPPRI, mengatakan kepada IPS bahwa awal tahun ini, media Rusia melaporkan bahwa Yaman telah menandatangani kesepakatan untuk membeli senjata-senjata dari Moskow senilai sekitar satu milyar dolar –laporan lainnya memberi angka hingga 2,5 milyar dolar.

Senjata-senjata ini, ujarnya, termasuk pesawat tempur MiG-29, helikopter, tank, dan kendaraan lapis baja.

Holtom mengatakan, juga ada laporan yang mengaitkan pembelian ini dengan program modernisasi militer senilai 4 milyar dolar.

Tapi dia mengatakan tak punya informasi terbaru mengenai perkembangan kesepakatan senjata ini.

Dan Darling, analis Pasar Militer Eropa dan Timur Tengah di Forecast International Inc, yang berkantor di Connecticut, sebuah penyedia intelijen pasar (market intelligence) terkait militer, mengatakan kepada IPS bahwa pemasok senjata utama ke Yaman, “hampir semuanya berkutat di Rusia”.

Inti kekuatan Angkatan Udara Yaman adalah warisan Rusia, termasuk MiG-21s, MiG-29s, dan Su-22s, ujarnya.

Pada 2001 hingga 2008, Yaman menerima senjata senilai 1,4 milyar dolar, menurut Congressional Research Service (CRS), dengan senjata senilai 600 juta dari Rusia. China menyediakan alat-alat perang senilai 200 juta dolar, sedangkan sekitar 400 juta dolar berasal dari gabungan bekas republik Soviet dan negara-negara Eropa Timur (terutama Ukraina, tapi juga Belarusia, Republik Czechnya, Polandia, Italia, dan lain-lain).

Sebagai negara Timur Tengah yang miskin sumber alam, Yaman hanya memiliki sedikit minyak dan tergolong sebagai salah satu negara termiskin di dunia.

Departemen Luar Negeri AS menyebut Yaman “sangat miskin” tapi “patner penting dalam kontraterorisme”.

The New York Times Selasa lalu melaporkan bahwa Arab Saudi memberikan bantuan sekitar dua milyar dolar untuk Yaman – “sebuah jumlah yang menjadikan kecil bantuan keamanan senilai 150 juta dolar dari AS yang akan meminta persetujuan Kongges untuk tahun fiskal 2010”.

Dengan ancaman teroris baru dari pemberontak di Yaman, AS mempersiapkan diri untuk medan pertempuran baru yang sesungguhnya melawan al Qaeda –selain Irak, Afghanistan, dan Somalia.

Darling dari Forecast International Inc mengatakan kepada IPS: “Menurut penilaian saya, Washington paham betapa penting Yaman untuk keamanan dan stabilitas regional.”

Dia mengatakan, kedekatan Yaman dengan Arab Saudi –di mana banyak mata-mata al Qaeda dipercaya melintas ke Yaman- serta pentingnya jalur kapal di mulut Laut Merah dan upaya memerangi perompakan di kawasan itu membuat AS tak mau ambil risiko dengan mengabaikan Yaman.?

Intensitas pertempuran dengan pemberontak di utara akhir-akhir ini, ditambah tekanan yang dihadapi Presiden Saleh dan keyakinan bahwa al Qaeda mungkin menemukan sebuah tempat persembunyian di Yaman, membuat negeri ini mendapat perhatian lebih dari lingkaran pemerintah AS, ujarnya.

“Departemen Luar Negeri sadar potensi bencana di Yaman, sebuah kombinasi pertikaian sipil, ledakan jumlah penduduk, minimnya cadangan minyak, lemahnya struktur ekonomi, tingginya angka kemiskinan dan pengangguran, buruknya persediaan air, semuanya mengancam negeri ini menjadi negara yang gagal,” ujar Darling.

“Bagaimana mereka akan melawan kemungkinan ini di luar bidang saya. Tapi saya kira Anda akan melihat peningkatan bantuan pembangunan yang lebih besar dan kesalahan bagaimana dana itu dialokasikan.”*

Translated by Imam Shofwan?
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS

Foto: www.muslimdaily.ne

Komentar


Berita Terkait