Pemerintahan

Burung Garuda Diinjak, Ganyang Malaysia

coba

17.10.2009 03:49:48 WIB

Oleh SUMARDONI

KONFRONTASI Indonesia-Malaysia atau yang lebih dikenal sebagai Konfrontasi adalah sebuah perang mengenai masa depan pulau Kalimantan, pada tahun 1962-1966. Saat itu, Soekarno bilang "gayang Malaysia" setelah burung Garuda Pancasila diinjak-injak.

Perang ini berawal dari keinginan Malaysia untuk menggabungkan Brunei, Sabah, dan Sarawak dengan Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1961. Keinginan itu ditentang Presiden Soekarno yang menganggap Malaysia sebagai "boneka" Britania.

Latar Belakang
Pada 1961, Kalimantan dibagi menjadi empat administrasi. Di utara adalah Kerajaan Brunei dan dua koloni Inggris; Sarawak dan Britania Borneo Utara, kemudian dinamakan Sabah. Sementara bagian selatan milik Indonesia.

Sebagai bagian dari penarikannya dari koloninya di Asia Tenggara, Inggris mencoba menggabungkan koloninya di Kalimantan dengan Semenanjung Malaya untuk membentuk Malaysia.

Rencana ini ditentang pemerintahan Indonesia. Dicatat Wikipedia, Presiden Soekarno berpendapat Malaysia hanya sebuah boneka Inggris, dan konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini, sehingga mengancam kemerdekaan Indonesia. Filipina juga membuat klaim atas Sabah, dengan alasan daerah itu memiliki hubungan sejarah dengan Filipina melalui Kesultanan Sulu.

Di Brunei, Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU) memberontak pada 8 Desember 1962. Mereka mencoba menangkap Sultan Brunei, ladang minyak dan sandera orang Eropa. Sultan lolos dan meminta pertolongan Inggris. Dia menerima pasukan Inggris dan Gurkha dari Singapura. Pada 16 Desember, Komando Timur Jauh Inggris (British Far Eastern Command) mengklaim bahwa seluruh pusat pemberontakan utama telah diatasi, dan pada 17 April 1963, pemimpin pemberontakan ditangkap dan pemberontakan berakhir.

Filipina dan Indonesia resminya setuju untuk menerima pembentukan Malaysia apabila mayoritas di daerah yang ribut memilihnya dalam sebuah referendum yang diorganisasi oleh PBB. Tetapi, pada 16 September, sebelum hasil dari pemilihan dilaporkan. Malaysia melihat pembentukan federasi ini sebagai masalah dalam negeri, tanpa tempat untuk turut campur orang luar, tetapi pemimpin Indonesia melihat hal ini sebagai perjanjian yang dilanggar dan sebagai bukti imperialisme Inggris.

Sejak demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur, ketika para demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno, membawa lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan Tunku Abdul Rahman—Perdana Menteri Malaysia saat itu—dan memaksanya untuk menginjak Garuda, amarah Soekarno terhadap Malaysia pun meledak.

Soekarno yang murka karena hal itu mengutuk tindakan Tunku yang menginjak-injak lambang negara Indonesia, dan ingin melakukan balas dendam dengan melancarkan gerakan yang terkenal dengan nama “Ganyang Malaysia”.

Komentar


Berita Terkait