Budaya

Pekerja Budaya Harus Kawal Palembang Heritage Hotel

coba

06.05.2011 00:25:32 WIB

Oleh Putra Kurusetra

SEBUAH lembaga nonpemerintah yang fokus pada isu-isu cagar budaya, yakni Madya (Masyarakat Advokasi Warisan Budaya) Indonesia, meminta seluruh pekerja seni dan budaya di Palembang untuk terus mengawal proses pembangunan Museum Tekstil Sumsel menjadi hotel yang bernama Palembang Heritage Hotel. Sebab pernyataan pemerintah yang tidak akan merusak gedung tersebut dapat saja kamuflase.

“Tolong pastikan maket bangunan, benar atau tidak. Terkait penamaan menjadi Palembang Heritage Hotel, berdasarkan pengalaman kami di daerah lain, itu hanya kamuflase untuk mengelabui masyarakat,” tulis pengurus Madya Indonesia di akun mereka di jejaring sosial facebook, Kamis (05/05/2011), menanggapi pemberitaan yang mengutip pernyataan Gubernur Sumsel Alex Noerdin mengenai pembangunan Palembang Heritage Hotel.

Kamuflase itu, yang mana pihak yang membangun, seolah-olah peduli akan cagar budaya, tetapi yang terjadi sebaliknya, yaitu menghancurkan bangunan yang ada di balik pagar seng yang dibuat. “Biasanya untuk menguatkan pesan mengelabui, di pagar seng bahkan dibuat lukisan atau gambar-gambar tentang pelestarian warisan budaya. Mudahan di Palembang tidak terjadi seperti di daerah lain. Mohon terus dikawal,” tulisnya.

Seperti diberitakan sebelumnya Gubernur Sumsel Alex Noerdin menjelaskan peralihan Museum Tekstil Sumsel menjadi hotel tidak akan mengubah nilai sejarah bangunan tersebut. Hotel tersebut bernama Palembang Heritage Hotel.

"Bangunan hotel berada di belakang bangunan utama dengan enam lantai. Bangunan lama dipertahankan, dan dijadikan objek wisata Palembang tempo dulu,” kata Alex Noerdin, kepada pers, seusai menghadiri pelantikan pengurus Orwil ICMI Sumsel di Hotel Aryaduta Palembang, Kamis (05/05/2011).

Hotel tersebut akan digunakan selama SEA Games XXVI. Isinya hanya 40 kamar, dan diperuntukkan khusus tamu penting dan kenegaraan.

Sementara Kepala Dinas PU Cipta Karya Sumsel Rizal Abdullah, kepada pers, mengatakan fokus pengembangan hotel bukan di bangunan utama yang kini dijadikan Museum Tekstil, Ruang Pameran. Akan tetapi, membongkar bangunan tambahan dari museum itu, yakni di belakang dan terpisah dengan bangunan utama.

Sebelumnya sejumlah pekerja budaya dan seni di Palembang memprotes soal rencana alih fungsi bangunan Museum Tekstil Sumsel menjadi hotel. Alasan mereka, itu sama saja dengan menghancurkan bukti-bukti sejarah di Palembang. Mereka mendesak agar rencana tersebut dibatalkan.

“Kami bukan menolak pembangunan. Tapi sebuah pembangunan jangan sampai merusak lingkungan dan sejarah,” kata budayawan Palembang Erwan Suryanegara.

Komentar


Berita Terkait