Internasional

Mempersiapkan Sekolah Elit Swasta di China

coba

11.12.2010 00:04:37 WIB

Oleh Antoaneta Becker

ETON, INGGRIS (IPS) – ZHOU Hongxia merasa ruangkelas King Scholars dingin, lembab, dan agak gelap, dengan bangku-bangku kayu penuh goretan dan noda tinta dari ratusan pelajar yang pernah menempatinya selama berabad-abad.

”Terasa berada di abad pertengahan dan terjebak di masa lalu,” katanya. ”Saya yakin anak-anak pada awalnya menderita. Tapi anak-anak Inggris yang belajar di sini mencapai lebih banyak kemajuan ketimbang yang bisa dicapai anak-anak China.”

Zhou tak menyadari bahwa David Cameron ialah perdana menteri Inggris ke-19 yang pernah belajar di Eton College dekat Windsor. Dan dia tak pernah mendengar tentang George Orwell, yang menggambarkan masyarakat totaliter dalam novelnya, 1984, yang dilarang di China. Namun di dinding memoribilia dari foto-foto pelajar Eton yang tersohor itu, dia mengenali Pangeran William, pewaris tahta kerajaan Inggris, dan adiknya, Pangeran Harry.

”Akan makan waktu lama sebelum kami bisa memiliki sekolah negeri bergengsi seperti Eton di China,” keluhnya.

Zhou, pengusaha kaya dari ibukota China, sedang menjalankan sebuah misi. Bukan hanya ingin mengirim anak-anak muda belajar di perguruan tinggi paling prestisius di Inggris, dia juga berhasrat meniru keunggulan dan kesuksesan Eton College di China. Sekarang, dia dan timnya, para pengusaha perempuan sukses, melawat ke Eropa untuk mencari praktik pendidikan terbaik di sana.

Pemerintah China mengakui tak punya cukup dana untuk membiayai pendidikan prasekolah yang berkualitas bagi anak-anak China. Jalan keluarnya, membuka pasar pendidikan bagi swasta yang selama ini dikontrol ketat.

Dalam sebuah pidato musim gugur ini, Perdana Menteri Wen Jiabao berkata China memerlukan bantuan swasta agar anak-anak mendapatkan pendidikan dini yang memadai. Dia juga mengakui sistem pendidikan tinggi di China tak menghasilkan bakat kreatif dan manajemen yang dibutuhkan bagi China guna menopang ekspansi dan pertumbuhan ekonomi yang cepat.

Zhou dan koleganya tak ingin membuang momen ini. Sejak sinyal itu muncul pada Juni silam, empat perempuan itu, yang memimpin perusahaan periklanan, promosi budaya, dan alat-alat olahraga, mengumpulkan dana bersama dan memutuskan membuka taman kanak-kanak (TK) swasta yang elit guna melayani masyarakat kelas menengah China.

Motif awalnya, memastikan anak-anak mereka menerima pendidikan dini yang memadai untuk melanjutkan ke sekolah-sekolah bergengsi macam Eton dan Dulwich College.

Dengan memiliki banyak uang untuk membayar denda atas pelanggaran kebijakan satu-anak, keempat perempuan itu masing-masing memiliki 3-4 anak yang membutuhkan pendidikan. Namun mereka khawatir kualitas TK di China yang buruk, sekalipun mereka punya banyak uang untuk memasukkan anak-anak mereka ke sekolah terbaik.

”Lebih banyak pelajar China masuk universitas terbaik di Inggris dan Amerika,” kata Wu Runling, kolega Zhou dalam usaha pendidikan. ”Jika uang adalah syaratnya, maka tempat-tempat itu akan dipenuhi 90 persen pelajar China.”

”Kelak semua sekolah akan meningkatkan standar ujian untuk menyaring para peminat. Kami perlu memastikan anak-anak kami menerima pendidikan terbaik sejak dini dan mempersiapkan mereka untuk masa depan.”

Zhou dan timnya bukan tipikal istri kelas menengah China. Mereka ialah contoh tren baru dari permintaan yang meningkat untuk pendidikan terbaik serta kesiapan dan ketetapan hati modal swasta China untuk membangun sekolah elit mereka sendiri.

Untuk saat ini hanya pendidikan prasekolah yang baru dibuka untuk modal swasta. Pertimbangan ideologi dan obsesi pemimpin partai, dengan mengontrol isi pendidikan di sekolah dasar dan menengah, membuat sekolah-sekolah ini di luar jangkauan para pengusaha swasta.

Kurang dana, sedikit staf, dan terjerembab masalah keamanan, TK di China menjadi mimpi buruk bagi sebagian besar orangtua. Namun masalah itu juga terjadi di sekolah dasar dan menengah serta perguruan tinggi. Kecurangan dan plagiarisme merajalela di berbagai kampus di China. Para pemimpin akademik mengeluhkan sistem ujian nasional yang membuat para pelajar berpikiran sempit dan hanya belajar menghafal.

Zhou dan koleganya meyakini ini hanyalah masalah waktu sebelum pemerintah terjebak dalam lubang yang sama serta mengizinkan individu dan pengusaha swasta menyekolahkan anak-anak mereka di TK hingga universitas terbaik.

Sekolah elit Inggris macam Dulwich dan Harrow memiliki waralaba di beberapa kota di China tapi hanya melayani kaum ekspatriat dan pemilik pasport asing karena kebijakan pemerintah China melarang anak-anak China bersekolah di sana.

”Ini kebijakan bodoh, yang membuat orangtua China kaya membayar tiga kali lipat lebih mahal, ketimbang yang dibayarkan di China, untuk mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah di Inggris di mana Anda membutuhkan akomodasi, uang bulanan, uang perjalanan, dan apa lagi,” kata Wu.

Peningkatan pendapatan dan imbas kebijakan satu-anak, yang membuat banyak pasangan ingin memberikan yang terbaik bagi keturunannya, dapat menjelaskan kenaikan jumlah pelajar China di luar negeri.

Jumlah pelajar China di Inggris naik sepuluh kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir menjadi 47.000 orang. Menurut angka terbaru dari Badan Statistik Pendidikan Tinggi, China menjadi negara pertama di luar Uni Eropa yang mengirimkan pelajarnya untuk studi di Inggris. Ini persis dengan yang terjadi di seberang Atlantik; pelajar China di kampus-kampus Amerika tahun lalu melampaui jumlah mahasiswa India yang sebelumnya komunitas terbesar.

”Saya belum pernah segembira ini,” kata Michael Zhao yang bekerja di bagian perekrutan pelajar China untuk sekolah tinggi dan universitas di Inggris. ”Saya sebelumnya bekerja di kehumasan dan periklanan tapi pendidikan adalah bisnis dengan gaji terbaik di China.”

Namun jika Zhou dan pengusaha yang berpikiran sama bisa merealisasikan hasrat mereka, sekolah-sekolah elit di Inggris akan segera kehilangan anak-anak emas dari China.*

Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS

Komentar


Berita Terkait