Internasional

Musik dan Seni di Balik Jeruji Besi

coba

23.11.2010 13:02:40 WIB

Oleh Zofeen Ebrahim

KARACHI, PAKISTAN (IPS) – INI kelompok yang unik; 30 lelaki dengan beragam usia, berdesakkan dalam satu kamar. Ada seorang lelaki yang menjalankan sebuah toko komputer. Ada dealer mobil bekas. Ada penjahit, dan di sampingnya seorang sopir truk.

Tak seorang dari mereka pernah memegang kuas. Namun seni membawa mereka bersama saat ini –juga fakta bahwa mereka narapidana di Penjara Pusat Karachi.

“Awalnya saya sedikit takut,” kata Sikander Ali Jogi, yang mengajar mereka. “Tapi hanya dalam 10 hari berinteraksi, saya menyadari mereka seperti Anda dan saya.”

Tak sulit untuk memahami ketakutan Jogi. Di antara mereka terdapat narapidana terkenal seperti pembunuh wartawan Wall Street Journal Daniel Pearl dan ekstremis yang menyerang konsulat AS di selatan kota pelabuhan Pakistan pada 2006.

“Rumah” mereka saat ini juga merupakan penjara terbesar di antara 18 penjara di provinsi Sindh yang seharusnya menampung maksimum 1.800 tahanan. Namun sekarang lebih dari 3.400 tahanan ditempatkan di semua ruang yang tersedia.

Inilah mengapa Inspektur Penjara Penjara Nusrat Mangan berpikir menyediakan jalan keluar bagi para narapidana, sekalipun mereka tetap berada di balik jeruji besi, yakni lewat seni, dengan program rehabilitasi kriminal yang dinamakan “Criminon”.

Ide di balik Criminon, kata instruktur Wasim Akhlaq, adalah untuk “memulihkan rasa hormat pada diri mereka sendiri”. Selain keterampilan komunikasi yang lebih baik, narapidana diajarkan untuk memanajemen amarah, berpikir positif, dan terapi lain yang membantu diri mereka.

Kursus itu dilengkapi dengan kelas kreatit, termasuk menggunakan musik. Inspektur Mangan percaya seni adalah terapi, dan bisa “mengubah narapidana menjadi seorang manusia.”

“Sementara beberapa tahanan menjadi religius, yang lainnya masuk melalui seni,” katanya, "dan kami menyediakan ruang untuk melakukannya.”

Dengan cara itu, Mangan melihat sebagian besar bangsalnya menjadi “tempat terapi”, bukan hukuman. Dia mengatakan musik, melukis, dan menggambar memberi “kualitas yang lebih baik bagi seseorang".

"Dia menjadi sensitif terhadap hubungan," kata Mangan, "dan membuat seseorang lebih toleran terhadap umat manusia."

Sayangnya, kelas musik berlangsung terbatas selama tiga bulan. Beberapa narapidana masuk ke ruang musik dan menghancurkan semua alat musik. Seorang narapidana mengatakan kepada IPS, "Alasan yang diberikan (pelaku) adalah musik tak diperbolehkan dalam Islam."

Kata narapidana lainnya, salah seorang murid kelas seni: "Ada beberapa elemen ekstremis di barak kami yang tak menyukai kami melukis orang."

"Penjara adalah sebuah mikrokosmos dari masyarakat dan kota kita," kata Mangan, yang mengakui keberadaan ekstremis di penjaranya dan kecenderungan mereka untuk menganggu. "Sama seperti orang berbaur dalam masyarakat kita, hal yang sama berlaku di sini. (Tapi) kita tak bisa 'mengucilkan' mereka karena mereka perlu reintegrasi ke dalam masyarakat ketika mereka (adalah) dilepas."

Bahkan, Mangan mengatakan bahwa narapidana adalah orang yang paling membutuhkan bermacam saluran yang dia tawarkan. Ketimbang menempatkan mereka di ruang isolasi, ujarnya, lebih baik "membunuh ide (mereka) dengan sebuah ide".

Bagi pelaku kejahatan yang tak didorong oleh ideologi, pemikirannya adalah bahwa seni, terutama Criminon, akan mengurangi risiko mereka akan melakukan tindakan ilegal lagi setelah mereka dibebaskan.

"Sekali seseorang masuk penjara, kemungkinan ‘penurunan tajam’ untuk mengulang perilaku yang tak diinginkan –disebut residivisme– meningkatkan,” kata Saleem Khan, direktur eksekutif Society for Advancement of Health Education and Environment (SAHEE), yang menjalankan Criminon.

Sebagai bentuk terapi yang diakui internasional, Criminon dianggap membantu menurunkan residivisme 10 hingga 15 persen.

"Kami diberitahu otoritas penjara bahwa jumlah pelaku yang mengulangi pelanggaran di penjara juga sekitar 10 hingga 10 persen," kata instruktur Criminon Akhlaq.

Paling tidak, Ghaffar Alavi, yang dijatuhi hukuman mati, sekarang mengatakan bahwa kursus itu membuatnya sadar bahwa "kemarahannya yang membuat dia masuk penjara." Dan dengan hukumannya diperingan menjadi hukuman seumur hidup, Alavi mengatakan "dengan berdamia dengan dirinya sendiri" akan memudahkan baginya untuk menjalani masa hukumannya di balik jeruji besi.

Guru seni Jogi juga mengatakan bahwa dia melihat perbedaan yang ditandai dengan perilaku dan penampilan fisik murid-muridnya selama dua tahun dia bekerja di penjara. Dia mengaitkannya dengan seni, yang dia katakan “membawa perdamaian dan penghibur” bagi para tahanan.

Murid-murid Jogi menciptakan berbagai karya seni –dari sketsa hingga kaligrafi, pemandangan hingga potret dengan cat air dan minyak. Seorang tahanan dari kawasan ekstremis Swat Valley di barat laut provinsi Khyber Pakhtunkhwa bahkan membuat sketsa perempuan tertindas.

Sementara itu, Inspektur Mangan menjalankan lagi kelas musik. Dia mengatakan, dia akan menghidupkan kembali “berapapun biaya” dan sekarang sedang mencari bantuan dari individu-individu atau kelompok untuk menyumbangkan alat-alat musik.*



Translated by Basilius Triharyanto
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama IPS dan Yayasan Pantau

Foto: ipsnews.net

Komentar


Berita Terkait