28.10.2009 18:27:45 WIB
Oleh Antoaneta Bezlova
BEIJING (IPS) –FRANKFURT Book Fair tahun ini mungkin lebih mendapat malu ketimbang gengsi atas kehadiran tamu kehormatannya, China. Tapi orang-orang China masih yakin bahwa masa depan ide-ide kultural Kerajaan Tengah itu dan krisis keuangan global akan memainkan peranan dalam membantu mereka mencapai hal itu.
Wu Wie –sosok perempuan di balik proyek “going global” Beijing dalam kesusastraan China– mengatakan kepada suratkabar populer Southern Weekend minggu lalu bahwa kemerosotan ekonomi telah membuat perhatian internasional tertuju ke China dalam hampir semua aspek.
“Di Barat, khususnya, banyak orang bicara soal model China dan apa yang akan terjadi jika China ‘mengatur dunia’,” ujarnya. “Tapi Barat hanya tahu sedikit tentang ide dan budaya China, dan ketidaktahuan itu melahirkan ketakutan. Ia sumber segala macam teori ‘ancaman’ dan ‘kegagalan’. Tapi perhatian ini juga menjadi kesempatan bagi kami untuk menyebarkan ide-ide kami.”
Beijing memanfaatkan perhatian internasional itu sepenuhnya, untuk meningkatkan profil globalnya dalam masalah ekonomi dan politik, dan bahkan berusaha mengekspor model ekonominya. Tapi memberikan sebuah nilai dalam dunia pemikiran budaya menghadirkan tantangan lebih keras.
Selama beberapa tahun Beijing berjuang untuk membalikkan “defisit kebudayaan,” dengan mengimpor buku sepuluh kali lebih banyak ketimbang ekspor. Kini, sebagai salah satu kekuatan perdagangan dan ekonomi terbesar di dunia, China melancarkan serangan balik dalam hal kebudayaan dengan sebuah keyakinan bahwa industri budaya adalah langkah berikutnya dalam transformasi sebagai negara yang baru naik menjadi superstar.
Sebagai bagian dari upaya meningkatkan profil budaya China di luar negeri, Beijing menginvestasikan ratusan institut Konfusianisme, mengajarkan bahasa Mandarin di seluruh dunia, dan meluncurkan saluran media berbahasa asing. Dalam penerbitan, Wu Wei dari Departemen Informasi di Dewan Negara memimpin sebuah tim ahli yang bertugas memilih judul-judul yang paling menarik untuk diterjemahkan dan dipasarkan ke seluruh dunia.
Mereka menghabiskan hampir lima tahun dan menginvestasikan 15 juta dollar Amerika untuk mempersiapkan debut mereka di pameran buku Frankfurt –di sini dikenal sebagai “Olimpiade dunia penerbitan”, yang digelar pada 14-18 Oktober. China tampil sebagai tamu kehormatan –pilihan yang tentu saja menyenangkan Beijing pada tahun yang menandai perayaan 60 tahun republik komunis.
Tapi pejabat kebudayaan cemas terhadap pameran itu, yang berakhir pekan lalu, karena kontroversi dan perselisihan mengenai HAM dan kebebasan pers.
Dua gambaran mengenai China yang saling bertentangan menjadi pusat perhatian saat pameran itu. Di satu sisi dikemukakan Beijing dan sisi lainnya dari China di pinggiran, yang disajikan oleh para pelarian yang tinggal di luar negeri dan berjuang agar suara mereka didengar.
Xi Jinping, wakil presiden China dan ahli waris yang ditunjuk ketua partai Hu Jintao, memimpin delegasi pemerintah yang terdiri atas 50 penulis dan 600 seniman. Mereka membawa sekitar 100 buku terjemahan –buah pertama dari proyek “going out” Beijing dalam kesusasteraan China.
Mereka menonjolkan dua volume karya mantan ketua partai Jiang Zemin –satu berisi China yang terjun dalam industri teknologi dan informasi, satunya lagi tentang kebijakan energi negeri itu. Judul karya fiksi termasuk karya laris penulis terkenal China macam Wolf Totem-Jiang Rong dan Brothers-Yu Hua. Beijing jelas tak nyaman dengan orang-orang di luar payung negara yang berbicara mengenai China. Meski mereka mendapat undangan dari penyelenggara pameran, China melarang Liao Yiwu untuk menghadiri acara tersebut.
Setelah menjalani hukuman empat tahun penjara karena menulis puisi tentang pembantaian Tiananmen 1989, Liao tetap di bawah pengawasan polisi, yang menolak mencabut larangan bepergiannya. Buku Liao mengenai kekurangan China, The Corpse Walker, juga esai-esainya tentang korban dan orang-orang yang selamat dari gempa bumi tahun lalu di Sichuan, menurut laporan terkena sensor di dalam negeri.
Tapi ada banyak orang yang tak bisa dikontrol delegasi resmi China. Pembangkang China diwakili oleh penulis-eksil Bei Ling dan Dai Qing, yang menulis buku tentang gerakan pro-demokrasi Tiananmen dan Three Gorges Dam –bendungan terbesar di dunia yang mengundang beragam kontoversi di dalam dan luar negeri– dilarang di China. Utusan Dalai Lama, pemimpin Tibet yang dikucilkan, dan pengacara pro-kemerdekaan etnis Uighur Rebiya Kadeer, yang dikutuk Beijing sebagai teroris, juga hadir.
Beijing tak bisa mencegah media asing menulis soal tidak adanya kebebasan berbicara di China dan kritik terhadap partai komunis. Ketika majalah Jerman Der Spiegel menurunkan liputan mengenai pameran itu, dengan judul “China, the Unwelcome Guest”, delegasi China protes bahwa media dan kalangan politik Eropa bias.
Pengaruh China terasa di belakang layar. Bei Ling dan Dai Qing dilarang berpidato pada upacara penutupan. Kecaman dari publik dan media memaksa penyelenggara pameran untuk memecat manajer proyek karena mencoret nama-nama penulis itu dari daftar pembicara pada saat-saat terakhir.
Meski malu karena tarik-menarik lobi antara delegasi resmi China dan para pembangkang, Beijing menilai positif hasil pameran itu. Paviliun China di Frankfurt –menampilkan gulungan kaligrafi dengan beragam gaya dan goresan “genangan tinta”– digambarkan media di sini sebagai “tempat tinggal”.
“Ini prestasi yang membanggakan kami,” ujar Li Pengyi, anggota delegasi dan wakil presiden China Publishing Group Corp., kepada wartawan di akhir pameran. “Orang bisa bilang bahwa kami pulang dengan “dua panen besar” –kebudayaan China umumnya dan pembelian hak cipta China”.
Untuk terus meningkatkan profil budaya China di luar negeri, bahkan di tengah kemersotan ekonomi saat ini, pemerintah China memutuskan untuk menawarkan buku-buku gratis kepada sekitar 100 perpustakaan di seluruh dunia, ujar Wu Wei. Saat pemeran buku domestik di Ditan Park di Beijing, yang masih berlangsung, orang-ramai mendengar tentang sambutan atas Beijing di Frankfurt.
“Orang luar selalu berusaha mempermalukan China,” ujar pelajar Zhang Ziying. “Dengan begitu banyak prasangka, bagaimana mungkin mereka menyukai buku-buku kami?”
Tapi Lin Xuecong, yang memperkenalkan diri sebagai “pecinta buku,” mengatakan terlalu sedikit buku bagus yang ditulis di China saat ini. “Ini bukan tentang siapa penulisnya. Ini tentang apakah mereka bisa menyentuh hati dan pikiranmu.”*
*Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS.
Foto : guardian.co.uk
