01.11.2010 08:58:36 WIB
Oleh Marwaan Macan-Markar
BANGKOK (IPS) – ASIA harus mencari cara bagaimana memberi makan lebih dari satu milyar mulut baru dalam 40 tahun ke depan. Para ahli menyerukan perlunya memperbarui jaringan sistem irigasi untuk menjamin ketercukupan produksi pangan.
Dorongan dari para ahli pertanian dan pengairan ini muncul di tengah kekhawatiran atas sistem sistem irigasi di kawasan ini yang terus-menerus jadi bahan diskusi mengenai dampak perubahan iklim terhadap ketahanan pangan.
Pertanian tadah hujan lebih rentan terhadap pola cuaca yang tak menentu. Penggunaan sistem irigasi dipandang lebih bisa diandalkan bagi para petani padi di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Asia Timur.
“Pertanian yang mengandalkan irigasi adalah platform yang lebih aman,” kata Thierry Facon, pejabat senior manajemen air di kantor Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Asia-Pasifik. “Pertanian tadah hujan kurang produktif.”
Perbedaan ini menjadi lebih mencolok saat pola cuaca tak menentu akibat perubahan iklim. “Petani enggan menanamkan uang untuk benih dan pupuk yang baik di daerah tadah hujan karena ketakpastian perubahan iklim,” ujar Facon kepada IPS. "Di daerah ini Anda akan menemukan sebagian besar penduduk desa yang miskin dan rentan.”
Studi Lembaga Penelitian Padi Internasional (IRRI) menunjukkan realitas ini. “Sekitar 27 juta hektar sawah tadah hujan sering mengalami kekeringan," tulis sebuah laporan dari IRRI, salah satu badan penelitian beras yang besar di kawasan itu, bermarkas di Los Banos, Filipina. “Lingkungan tadah hujan mengalami cekaman abiotik (abiotic stresses) dan ditandai oleh tingginya tingkat ketidakpastian, terutama berkaitan dengan waktu, durasi, dan intensitas curah hujan.”
Tapi jika sistem irigasi yang dibangun dan dikelola oleh pemerintah hendak membantu produksi beras dan gandum yang lebih baik, jaringan distribusi air yang sebagian besar sudah tua ini harus ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan petani, ujar sebuah studi terbaru yang dirilis baru-baru ini pada sebuah pertemuan di Manila yang diadakan Bank Pembangunan Asia (AsDB).
Kebutuhan itu mencakup distribusi air lebih besar dari yang bisa dipenuhi sistem irigasi ini. "Biasanya para petani tak mendapatkan air yang memadai ketika membutuhkannya," kata Elizabeth Humphreys, ilmuwan senior di IRRI. “Ini memaksa petani untuk memompa air tanah.”
“Petani yang berada di ujung-bawah sistem irigasi juga rugi,” ujarnya dalam sebuah wawancara dengan IPS. “Yang untung para petani di ujung-atas sistem irigasi.”
Selain manajemen sistem irigasi dari atas ke bawah (top-dwon) dan minimnya dana untuk meningkatkan mereka, “para petani saat ini perlu lebih fleksibel untuk menanam palawija, namun sistem yang dibangun tak bisa menyediakan layanan ini,” kata Facon. “Apa yang dijanjikan tak lagi cukup bagi petani. Gaya manajemen itu kurang responsif terhadap tren pertanian.”
Banyak sistem irigasi saat ini dibangun ketika Revolusi Hijau mulai dijalankan di seluruh Asia pada 1960-an. Perubahan fundamental ini meningkatkan produksi padi melalui pengenalan varietas padi unggul di sawah-sawah di seluruh Asia yang dimaksudkan untuk memangkas angka kelaparan.
Menurut badan pangan PBB, Revolusi Hijau menyumbang peningkatan 300 persen produksi padi dalam empat dekade terakhir, membantu “mengurangi jumlah kelaparan dari 34 persen pada 1970 menjadi 16 persen pada 2006.”
Dan sekarang, karena kawasan ini menghadapi tantangan untuk memberi makan 1,5 milyar mulut baru dalam empat dekade ke depan, perhatian sekali lagi beralih pada apa yang bisa diberikan sistem irigasi. “Jumlah penduduk di Asia akan mencapai lima milyar pada 2050 dan memberi makan 1,5 milyar orang tambahan akan memerlukan sistem irigasi yang menghasilkan nilai lebih pada tiap tetes airnya,” tulis “Meningkatkan Pangan dengan Air Terbatas: Dapatkah Revitalisasi Irigasi di Asia Membantu?”, salah satu penelitian yang dirilis pada pertemuan AsDB dengan dihadiri sekira 600 pembuat kebijakan.
“Asia menyumbang 70 persen lahan irigasi di dunia serta rumah bagi beberapa pola irigasi tertua dan terbesar,” demikian pernyataan AsDB yang bermarkas di Manila. “Tapi kebanyakan sistem itu dibangun sebelum 1970-an, kurang berfungsi dan sering gagal menyesuaikan kebutuhan petani.”
Beras merupakan makanan pokok bagi lebih dari tiga milyar orang, sebagian besar tinggal di Asia. Benua itu menyumbang 90 persen produksi beras di dunia yang ditanam pada sekira 250 juta lahan pertanian, menurut IRRI.
Produsen padi terkemuka, yang menanam padi pada sekitar 150 juta hektar di seluruh dunia, adalah China, India, Indonesia, Bangladesh, Vietnam, Thailand, Burma, dan Filipina.
Dari jumlah itu, tercatat 79 juta hektar untuk padi yang ditanam di lahan sawah beririgasi, yang memproduksi 75 persen dari panen tahunan dunia, tulis sebuah kertas-kerja IRRI, “Padi dan Air”.
Saat ini, 56 persen daerah irigasi di dunia berlokasi di Asia; yang terbesar Asia Tenggara, diikuti Asia Timur dan Asia Selatan, sebut kertas-kerja itu. “Jumlah lahan sawah irigasi Asia meningkat tajam dari 1970-an (sebanyak 35 persen) hingga pertengahan 1990-an (44 persen).”
“Ini terjadi karena peningkatan daerah irigasi, ditambah dengan penurunan yang besar dalam budidaya padi gogo dan padi air dalam,” tambahnya. “Di banyak daerah irigasi, padi ditanam secara monokultur dengan dua tanaman per tahun.”
India Utara memberikan contoh bagaimana sumber air petani, jika mereka merasa sistem irigasi tak responsif terhadap kebutuhan mereka, akan digantikan air tanah. Punjab memiliki 1,3 juta sumur untuk mengairi lahan pertanian seluas lebih dari empat juta hektar.*
Translated by Imam Shofwan?
Edited by Budi Setiyono?
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS
