Internasional

Pustakawan Lawan Pelarangan Buku

coba

02.10.2010 15:19:40 WIB

Pustakawan Lawan Pelarangan Buku
Karoline Kallweit

NEW YORK (IPS) – PENGUIN adalah binatang lucu. Dan sebuah buku anak-anak tentang binatang jinak seperti itu tak akan memicu kontroversi nasional. Tapi kemudian muncul And Tango Makes Three yang menimbulkan perdebatan sengit.

Buku karya Justin Richardson dan Peter Parnell itu merupakan kisah nyata yang terjadi di Kebon Binatang New York. Ia mengisahkan dua penguin jantan yang mengadopsi seekor anak ayam yatim –dan menimbulkan pertanyaan pedas apakah mereka membangun sebuah keluarga.

Walhasil And Tango Makes Three masuk 10 besar buku paling ditentang di Amerika Serikat sejak kali pertama ia diterbitkan tahun 2005.

Bulan ini, buku-buku yang "ditentang" atau "dilarang" akan menjadi pusat perhatian pada sebuah aktivitas selama seminggu. “Banned Books Week“ (Minggu Buku Terlarang) adalah inisiatif para pustakawan di seluruh negeri untuk menyorot upaya beberapa kelompok untuk menghapus sejumlah buku dari rak-rak perpustakaan. Saat ini, di tahun ke-29, “Banned Books Week“ akan diadakan pada 25 September - 2 Oktober.

Penolakan dan pelarangan buku bukanlah hal baru. Pada 1873, UU Comstock adalah legislasi nasional pertama yang melarang penyebaran buku-buku "cabul, tak senonoh, dan/atau menimbulkan nafsu berahi".

Pada awal 1980-an, tiba-tiba datang gelombang penolakan atas sejumlah buku di perpustakaan, sekolah, dan toko buku. Para pustakawan pun mulai khawatir. Asosiasi Perpustakaan Amerika (ALA) mulai menghitung penolakan terhadap buku yang dilaporkan kepada mereka oleh warga. Mereka kemudian menerbitkan daftar buku-buku yang seringkali ditentang setiap tahunnya.

And Tango Makes Three masuk dalam daftar itu bersama buku-buku remaja yang lagi laris seperti serial Twilight. Buku-buku klasik macam The Color Purple - Alice Walker, To Kill a Mockingbird - Harper Lee, dan Catcher in the Rye - JD Salinger juga tercantum.

"Banyak orang mengasumsikan sendiri kebebasan membaca," kata Angela Maycock, asisten direktur Bagian Kebebasan Intelektual di ALA, yang berusaha menyediakan akses bebas ke bahan pustaka bagi semua orang.

Tahun lalu, sekitar 460 buku yang ditentang dilaporkan ke ALA. Tapi itu hanyalah puncak gunung es karena banyak buku serupa belum terhitung. Banyak guru melakukan swasensor –berusaha menghindari masalah dengan menampik buku kontroversial dari kelas mereka. Itulah yang Joan Bertin, direktur eksekutif Koalisi Nasional Melawan Sensor (NCAC), sebut "efek ketakutan".

Sebuah terbitan yang ditentang tak harus disingkirkan dari rak-rak perpustakaan. "Dalam kebanyakan kasus," ujar Maycock, "buku-buku itu tak disingkirkan." Tak ada data statistik jumlah karya yang berakhir di ruang belakang perpustakaan.

Meski sejumlah organisasi yang mengedepankan nilai-nilai keluarga atau moralitas mengajukan keberatan di media terhadap "buku-buku jelek", kebanyakan penolakan justru dimulai ketika seseorang –biasanya orangtua– mengeluh tentang sebuah buku yang dia tak suka.

Buku-buku ditentang karena bahasanya kasar atau mengandung muatan seksual, menyerang pandangan agama mereka, menggambarkan homoseksualitas, ketelanjangan, seksisme, atau hanya karena dianggap tak cocok bagi kelompok umur tertentu.

Bulan ini, The Absolutely True Diary of a Part-Time Indian karya Sherman Alexie, yang ditulis pada 2007, dilarang dari sekolah distrik Stockton di Missouri. Novel peraih penghargaan tentang seorang anak Indian yang memutuskan masuk ke sebuah sekolah untuk anak kulit putih merupakan bagian dari kurikulum SMA di Stockton.

Tapi beberapa orangtua di sana merasa buku itu melanggar nilai-nilai masyarakat karena bahasanya yang kasar dan penggambaran seksualnya. Para pendukung di kedua belah pihak bersitegang.
Awalnya dilarang pada bulan April, larangan itu kemudian dipertimbangkan kembali, tapi akhirnya buku itu disingkirkan dari rak-rak perpustakaan distrik itu beberapa minggu lalu.

Bertin dari koalisi antisensor yang membela peredaran buku Alexie menyebut penyingkiran semacam itu "tak konstitusional". Beberapa putusan pengadilan –termasuk satu putusan oleh Mahkamah Agung pada 1982– menyebutkan bahwa buku tak boleh disingkirkan hanya karena keberatan dengan ide mereka. Maycock menambahkan: "Jika ada satu orang dalam masyarakat yang bisa mengambil manfaat dari sebuah buku, menyingkirkannya adalah sebuah kejahatan."

Larry Siems, direktur program kebebasan untuk menulis di PEN American Center, prihatin karena pelarangan buku melanggar konstitusi yang melindungi kebebasan berpendapat.

Selama Banned Books Week, sejumlah acara akan digelar di seluruh negeri. Situs ALA mencantumkan puluhan kegiatan keprihatinan yang bisa diadakan di toko buku, perpustakaan, dan media. Pengorganisasian sebuah forum diskusi atau menampilkan daftar buku yang dilarang hanyalah dua dari puluhan kegiatan itu.

Anggota komunitas –berjumlah 180 juta– di dunia maya "Second Life" juga dapat berpartisipasi dalam serangkaian acara yang digelar di apa yang disebut "ALA Island". Selama "pertunjukan game ala Jeopardy", misalnya, para kontestan bisa menunjukkan buku pengetahuan yang dilarang. Setiap orang juga dapat mengirimkan video pendek yang akan ditayangkan di "Second Life" –dengan tema: "Pikirkan untuk dirimu sendiri dan biarkan orang lain melakukan hal yang sama."

Sementara itu, pembacaan buku-buku yang ditentang di depan publik di Chicago pada 25 September akan menjadi puncak acara Banned Books Week tahun ini. Justin Richardson dan Peter Parnell dijadwalkan tampil pada acara itu. Mereka akan menceritakan kepada audiens bagaimana Silo dan Roy membesarkan ayam mereka, Tango.*

Translated by Imam Shofwan
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS

Foto: mj277.wordpress.com

Komentar


Berita Terkait