Internasional

Panggilan Sejarah untuk Masuk ke Afrika

coba

06.10.2010 21:14:52 WIB

Oleh Antoaneta Becker

LONDON (IPS) – KESAL dituduh sebagai penjajah baru di Afrika, China menggunakan pendekatan lunak (soft power) dan bukti-bukti sejarah tentang benua itu untuk membenarkan pelukan ekonominya di Afrika.

Arkeleog China dikirim untuk mencari bangkai kapal yang lama hilang di lepas pantai Kenya untuk mendukung klaim bahwa China yang mula-mula menemukan Afrika, bukan penjelajah kulit putih. Beijing juga mempersiapkan dana untuk riset-riset soal benua itu untuk membantu bank dan dan perusahaan-perusahaannya berekspansi ke Afrika.

Bulan lalu diluncurkan Pusat Penelitian China-Afrika di bawah Departemen Perdagangan. Tujuannya, “untuk menyediakan basis teoritis bagi pemerintah China membuat kebijakan terkait Afrika,” ujar Huo Jianguo, ketua Akademi China untuk Kerjasama Perdagangan dan Ekonomi Internasional, yang berada di bawah departemen tersebut, dalam pembukaan acara. Ia juga menyediakan layanan konsultasi bagi perusahaan-perusahaan yang berencana melakukan ekspansi bisnis ke Afrika, tambahnya.

”Untuk jangka waktu panjang, strategi kami di Afrika mirip strategi untuk pembangunan ekonomi –‘menyeberangi sungai dengan sentuhan batu,” kata He Wenping, direktur Studi Afrika, lembaga di bawah Institut Studi Asia Barat dan Afrika di Akademi China untuk Penelitian Sosial. ”Kami tak pergi ke Afrika dengan persiapan yang baik dan harus membayar biaya tinggi, belajar dari kesalahan kami sendiri. Namun kini kami melakukan konsolidasi strategi kami dan akan ada fokus baru dalam mempelajari Afrika yang terkait diri kami sendiri.”

Ada banyak harapan yang tersimpan dalam pencarian harta-harta terpendam yang dilakukan arkeolog China dan Afrika di Kenya. Mereka mencari sebuah bangkai kapal kuno dan bukti lain dari perniagaan antara Afrika dan China, yang dimulai pada awal abad ke-15. Kapal karam itu dipercayai sebagai bagian dari sebuah armada yang dipimpin Laksamana Zheng He, seorang kasim Muslim dari Dinasti Ming, yang diklaim China telah mencapai Afrika timur 80 tahun sebelum pelaut Portugis, Vasco da Gama.

Proyek eksplorasi selama tiga tahun itu diluncurkan pada bulan Juli dan menjadi simbol upaya intensif China untuk menunjukkan penaklukannya di era modern di Afrika sebagai kelanjutan “petualangan damai dan bersahabat” Zheng He di dunia kuno.

Sejarah China merekam jejak armada Zheng He yang terdiri dari 300 kapal dan ribuan pelaut yang mengarungi Samudera Hindia dan Pasifik. Dimulai pada 1405, Zheng He melakukan tujuh perjalanan ke Asia, Afrika, dan Timur Tengah.

Dia disebut-sebut mencapai pantai Kenya pada awal 1418 dengan membawa barang dan hadiah dari Kaisar China. Para arkeolog kapal karam itu berharap menemukan benda-benda yang diyakini sebagai kapal yang tenggelam dalam perjalanan kembali ke China, mengangkut di antaranya jerapah pemberian Sulatn Malindi sebagai hadiah untuk pemerintah China.

”Perjalanannya merupakan bentuk simbolik akan niat China terhadap Afrika saat itu dan untuk saat ini,” ujarnya. ”Orang China mencapai Afrika bukan untuk menjajah; mereka pergi sebagai pedagang dan penjelajah.”

China merupakan importir utama sumberdaya mineral mentah dari Afrika. Upayanya di negara-negara Afrika digambarkan beberapa pengkritiknya sebagai “penjarahan,” yang menimbulkan kemarahan pemerintah China. Proyek arkeologi itu menyoroti keinginan China untuk mengungkapkan hubungan dengan Afrika yang memiliki sejarah panjang dari apa yang dipercayai sekarang, dan ini bukan hanya tentang bisnis tapi juga warisan sejarah.

Sampai beberapa tahun lalu, para pejabat China suka menekankan dukungan China terhadap gerakan pembebasan Afrika dalam perjuangan mereka meraih kemerdekaan dan kesamaan ideologi antikolonialisme. Namun sejarah 60 tahun hubungan kontemporer dengan Afrika, dalam penilaian akademisi lokal, kini tak sesuai lagi karena kehadiran Barat di Afrika sejak abad ke-15.

Banyak sarjana China memandang bahwa China tak memiliki kekayaan pengetahuan tentang Afrika, sementara negara-negara Barat mengumpulkannya selama berabad-abad. Tanpa latarbelakang agama yang mengaitkan Afrika dengan negara-negara Eropa, China harus menekankan sejarah kuno dalam upaya membenarkan ekspansinya ke Afrika.

Sadar perlunya menghadirkan pandangan sendiri akan sejarah dan perkembangan di antara kedua negara, Beijing mempertimbangkan pembentukan Dana Riset China-Afrika yang dapat menyokong institusi maupun individu dalam studi Afrika. Kebanyakan penelitian Afrika yang kini dilakukan sarjana China didanai institusi internasional dan bantuan dana dari negara-negara Barat.

Para pelajar Afrika juga menjadi faktor yang akan memainkan peran dalam membentuk wacana China baru di Afrika. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah China mendorong lebih banyak pelajar Afrika belajar di sini dengan menawarkan ribuan beasiswa. Pada 2009, China memiliki 120.000 pelajar dari Afrika, sepuluh kali lebih banyak daripada tahun 2000. Dididik sebagai elit pemerintah di masa depan, para pelajar ini diajarkan bukan hanya tentang China tapi juga teknik, sains, dan pertanian.

Semua ini tak menarik perhatian Eropa, sementara China menganggap Afrika sebagai “halaman belakang” rumah mereka. Laporan terbaru dari Chatham House di London, mengatakan sumberdaya dan keahlian di Afrika tak dipandang oleh pemerintahan, akademisi, dan media berita di Barat.
”Di bawah retorika pentingnya Afrika, diplomatik dan sumber-sumber perdagangan masih dipotong di banyak ibukota Barat, yang mengarah pada spiral kebodohan dan marjinalisasi dalam kesadaran trategis,” menurut penulis laporan, Tom Cargill.

Jika tak dicegah, laporan itu memperingatkan, tren ini akan menghapus keunggulan komparatif negara-negara Barat atas China dalam kebijakan dan pemahaman akademis soal Afrika.*

Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS

Komentar


Berita Terkait