Internasional

Bahasa Arab Masuk Sekolah Yahudi?

coba

12.10.2010 18:54:23 WIB

Oleh Jerrold Kessel and Pierre Klochendler

YERUSALEM (IPS) – "SEBAGAI negara demokrasi, Israel bercita-cita memenuhi persamaan hak bagi seluruh warganegaranya," kata Dr Shlomo Alon, kepala divisi pendidikan Arab dan Islam di Departemen Pendidikan saat meluncurkan sebuah program pada awal tahun ajaran baru untuk membuka kelas wajib bahasa Arab di seluruh sekolah umum Yahudi. Tapi sebulan kemudian, komitmen untuk "melengkapi persamaan" tampaknya mundur ke belakang. ??

Pada 3 Oktober lalu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyampaikan proposal ke kabinetnya. Isinya, mewajibkan setiap warga non-Yahudi, yang mengajukan kewarganegaraan Israel, untuk menyatakan kesetiaan kepada "Negara Israel sebagai negara demokrasi Yahudi." ??

Ini akan menjadi perubahan mendasar. Di bawah UU Kewarganegaraan Israel saat ini, setiap calon warganegara harus menyatakan kesetiaannya hanya untuk "Negara Israel".

Akibatnya, persyaratan itu berlaku bagi sebagian besar orang Palestina yang menikahi orang Arab-Israel. Setiap orang Yahudi dari seluruh dunia yang ingin menjadi warganegara Israel secara otomatis memenuhi syarat itu tanpa harus melakukan sumpah setia. ??

Netanyahu menekankan, proposalnya sesuai dengan desakannya bahwa Palestina, sebagai bagian dari perjanjian perdamaian di masa depan, menerima Israel sebagai "negara Yahudi".

Sementara dia mendapat dukungan dari koalisi nasionalisnya, beberapa menteri menolak keras proposal itu. Deputi Perdana Menteri Dan Meridor mengatakan: "Ini hanya akan merusak hubungan antara minoritas Arab di Israel dan negara." ??

Saat ketegangan meningkat antara mayoritas Yahudi dan 20 persen minoritas Arab, usulan pengajaran bahasa Arab di sekolah-sekolah dirancang untuk meredakan rasa saling curiga. ??

Sekalipun wajib, rencana itu awalnya hanya mencakup sekolah-sekolah di Israel utara, sekitar seperlima sekolah-sekolah umum di kawasan Yahudi. Hingga instruksi resmi turun, hanya murid Yahudi berusia 12 tahun yang mempelajari bahasa Arab, dan hanya setelah belajar bahasa Inggris di kelas-kelas awal. Bahkan kemudian, bahasa Arab tak lagi diwajibkan. ??

Untuk memenuhi kebutuhan belajar bahasa kedua, siswa Yahudi punya pilihan –bahasa Arab atau bahasa lain yang digunakan luas di sini seperti bahasa Rusia, Amharic, atau Prancis. Beberapa remaja memilih bahasa Arab. ??

Sekarang, di 170 sekolah umum di Israel utara, program baru menulis dan bicara bahasa sudah mengakar. Ia disebut “Ya Salaam” (“betapa indahnya”, dalam bahasa Arab). ??

Untuk murid kelas lima di kelas Mahmoud, bahasa Arab masih asing. Perlahan-lahan, dengan susah-payah, ia terasa lebih akrab di telinga, dan bagi tangan. ??

"Ia jauh lebih sulit daripada bahasa Ibrani," kata Yossi, berusia 10 tahun. "Tapi saya sudah mulai suka mendengarnya." ??

Miriam, seorang guru di sekolah Yahudi, mengatakan, "Sebagai anak-anak, ketika kami mendengar bahasa Arab di jalanan, kami takut. Menanamkan bahasa Arab pada usia muda dapat membantu mengatasi ketakutan." ??

Akhirnya, tujuannya adalah menerapkan skema percontohan itu ke sekolah-sekolah Yahudi di seluruh negeri. "Kami berharap," kata Dr Alon, "pelajaran bahasa Arab mempromosikan toleransi di antara anak-anak kami, menyampaikan pesan penerimaan, dan membangun jembatan budaya antara orang-orang Yahudi dan Arab." ??

Tapi bagi banyak orangtua Yahudi dan anak-anak mereka, bahasa Arab tak selalu dilihat sebagai sarana untuk mengenal tetangga Arab mereka atau memahami mereka dengan lebih baik. ??

Banyak orang Arab-Israel fasih berbahasa Ibrani. Kata-kata Ibrani seringkali terjalin dalam bahasa Arab mereka. Kata salah satu orangtua Yahudi, yang menolak menyebutkan namanya, "Pentingnya mengenal bahasa Arab adalah anak-anak kami dapat mengerti apa yang orang-orang Arab katakan tentang kami dalam bahasa mereka sendiri." ??

Hingga kini, bagi para pelajar Yahudi, generasi demi generasi, yang belajar bahasa Arab, ia sering dianggap sebagai " kebutuhan nasional", sebagai "kewajiban demi keamanan", berdasarkan kebijaksanaan konvensional "ketahui musuhmu". ??

Banyak siswa Yahudi memilih belajar bahasa Arab dengan benar di sekolah untuk masuk wajib militer di unit-unit intelijen atau jasa keamanan. ??

Kebanyakan orang Yahudi Israel merasa mereka lebih punya nilai-nilai Eropa atau Amerika ketimbang tetangga dekat mereka: Arab, meski banyak anggota keluarga mereka datang dari negara-negara Arab dan bahasa Arab digunakan di rumah (seringkali sebagai cara bagi orangtua untuk memastikan anak-anak mereka tak memahami mereka). ??

Apa yang mendorong anak muda Yahudi Israel menjauhi bahasa Arab adalah rasa terperangkap mereka terkait perjuangan tanpa akhir atas penerimaan Israel di Timur Tengah.

Dalam pandangan mereka, tempat Israel di "lingkungan keras" biasanya hanya dilihat melalui prisma sempit tentang konflik Arab-Israel yang sudah berlangsung lama. Dan mereka merasa berada di "negara Yahudi kecil yang dikepung oleh" –bukan dekat dengan– negara-negara tetangga Arab. ??

Jadi, mengapa ada inisiatif ini sekarang? ??

"Permintaan yang meningkat dari siswa dan orangtua –sederhananya seperti itu," ujar Alon. "Tapi harapan kami, sebagai satu-satunya negara demokrasi di Timur Tengah, mewajibkan bahasa Arab akan mendorong rasa hormat terhadap hak-hak sipil dan penerimaan lebih besar dari minoritas Arab sebagai warganegara penuh. Selain itu, kami ingin memberikan kesempatan kerja lebih besar untuk guru-guru Arab."

Dari seribu lebih guru bahasa Arab di sistem sekolah umum Yahudi, mayoritas adalah orang Yahudi. Sekarang, 50 guru Arab tambahan mulai mengajar di sekolah-sekolah Yahudi.

Bahkan Alon mengatakan, demi tujuan baik itu, dua jam seminggu untuk pelajaran bahasa Arab hanyalah sebuah awal, memenuhi kebutuhan untuk menjembatani kesenjangan antara orang Yahudi dan Arab-Israel. Bukan hanya kesenjangan budaya, tapi ketimpangan mendalam dalam penerapan hak-hak sipil. ??

Namun, meski lingkupnya terbatas, jika diperluas dan dilaksanakan dengan benar, proyek “Ya Salaam” yang sekarang diterapkan mungkin menghilangkan permusuhan terhadap bahasa Arab, dan bahkan mendekatkan orang-orang Yahudi dan Arab.*

Translated by Imam Shofwan?
Edited by Budi Setiyono?
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS

Komentar


Berita Terkait