Internasional

Berenang Melawan Arus

01.06.2011 00:46:40 WIB

Oleh Frank Mulder??

UTRECHT, BELANDA (IPS) – MESKI para politisi tampaknya menempatkan proses perdamaian di atas es, ada banyak kelompok berbeda di Israel dan wilayah Palestina yang masih percaya pada rekonsiliasi. Mereka menyerukan dunia untuk tak percaya stereotipe. “Begitu Anda memihak satu sisi, Anda menjadi bagian dari konflik.”

“Kami minoritas, tapi revolusi selalu dimulai dengan hanya sebuah kelompok kecil,” kata Shlomit Benjamin, sosiolog Universitas Tel Aviv. Dia seorang Yahudi, tapi karena ayahnya adalah orang Suriah, dia mizahi, seorang Yahudi-Arab. “Itulah mengapa saya tak menganggap Arab sebagai musuh. Mereka adalah bagian dari budaya keluarga saya.”??

Benjamin adalah salah satu penandatangan manifesto “Ruh Jedida: Sebuah Semangat Baru untuk 2011”, yang baru-baru ini ditulis oleh anak-anak muda Yahudi-Arab untuk mengekspresikan solidaritas mereka terhadap para demonstran muda di jalan-jalan di dunia Arab. Mereka memahami persoalan mereka, Yahudi-Arab menulis: “Kami, juga, hidup di sebuah rezim yang menindas hak-hak ekonomi dan sosial warganya (…) dan menciptakan batas-batas rasis terhadap Yahudi-Arab, rakyat Arab, dan budaya Arab.” ??

Konflik antara Yahudi dan Arab seringkali dipertajam oleh stereotipe-stereotipe. Tapi para Mizrahi muda tak mau memilih satu sisi. Dan meereka bukan satu-satunya.

“Banyak orang, saya tahu, sesungguhnya mendambakan perdamaian, tapi sebagian besar dari mereka tak mempercayai pihak lain,” kata Rabi Yehiel Grenimann, yang bekerja pada West Bank for Rabbis for Human Rights, kepada IPS melalui telepon. “Orang-orang Palestina takut, sudah jelas, karena tanah mereka diduduki. Tapi orang Yahudi juga takut dilarang terbang. Banyak keluarga mereka tersapu bersih dalam Perang Dunia II. Mereka takut Hamas, karena mereka mendengar Hamas bicara tentang penghancuran Israel. Kedua pihak harus mengubah dan membangun kepercayaan.” ??

Sekitar 120 rabi dari latar belakang politik berbeda dalam organisasi itu pantas menerima penghargaan bergengsi American Gandhi Peace bulan ini. “Kami ingin menerapkan nilai-nilai Torah, fokus pada tingkat mikro. Misalnya, kami membantu orang-orang Palestina memanen zaitun, atau kami bertindak sebagai juru bicara untuk mereka dalam sidang pengadilan melawan para pendatang. Pada momen itu, saya menunggu sebuah kelompok orang-orang Amerika untuk memimpin mereka di sekitar Yerusalem Timur.” ??

“Kami bertahan hidup atau binasa bersama,” kata Hanna Siniora, orang Palestina yang jadi wakil direktur eksekutif Pusat Riset dan Informasi Israel Palestina (IPCRI), sebuah lembaga think-tank yang mengkaji solusi praktis atas konflik itu. ”Masalah lingkungan, misalnya. Kami menelantarkan sumber air kami karena konflik. Terkadang akuifer tercemar. Jika kami tak bekerja sama, kami akan menghadapi bencana. ??

“Tentu, rakyat saya, orang Palestina, tertindas oleh pendudukan, dan mereka membutuhkan negara mereka sendiri. Tapi setelah itu masa depan kami masih terbelit. Kami hidup bersama di sebuah petak kecil tanah. Itulah sebabnya kami menjalin hubungan hangat di antara kedua bangsa.”??

Itu bisa menjadi sangat sulit, ujar Amnon Be’eri-Sultzeanu, wakil direktur eksekutif Abraham Fund, yang mempromosikan kepaduan dan solidaritas antara mayoritas Yahudi dan minoritas Arab di dalam negara Israel.??

“Kami bekerja sama dengan kedua komunitas, dan terkadang, sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari setiap orang pada waktu bersamaan. Terutama karena kami tak menentang pemerintah, seperti yang sering dikerjakan kelompok advokasi lain. Kami mencoba bekerja dengan komunitas dan pemerintah, misalnya ketika kami mengajarkan bahasa dan kebudayaan Arab di Departemen Pendidikan, atau ketika kami membantu polisi untuk memperbaiki pelayanan untuk warga Arab. Anda bisa membayangkan bahwa ini sangat sensitif.”??

Secara internasional, pekerjaan itu juga sangat sensitif, ujar Salim Munayer, direktur Musalaha Reconciliation Ministries. “Organisasi-organisasi di seluruh dunia menerima satu pihak tapi menolak pihak lain. Kami sering diminta untuk memberikan loyalitas kami kepada warga Palestina atau Yahudi dengan mencela pihak lain. Tapi kami tak bisa melakukannya karena kami sedang memperjuangkan rekonsiliasi. Kami harus mengadvokasi dari sisi lain. Kami harus berpihak kepada kedua bangsa. Begitu Anda memilih satu pihak, Anda menjadi bagian dari konflik.”?

Musalaha terdiri dari Kristen Palestina dan Yahudi mesianik. “Kami memiliki keimanan yang sama kepada Yesus, yang mengajarkan kami untuk mencintai musuh. Tapi kami bekerja dengan orang-orang dari semua latar belakang. Salah satu kegiatan kami adalah Pertemuan Gurun, bagi pemuda serta tokoh pemuda Palestina dan Israel. Selama perjalanan dengan unta atau berjalan kaki, mereka belajar untuk mengenal satu sama lain.” ??

Apa artinya belajar mengenal satu sama lain, sementara orang lain menderita, dan konflik kian mendalam? Itulah yang kerap Musa Subeh, akuntan di kota Betlehem, pikirkan.

“Saya punya kesempatan bertemu dengan orang Israel yang bekerja untuk perdamaian. Ini tak membuang-buang waktu dan mengubah orientasi kami sedikit pun. Tapi pada akhirnya itu tak membantu dalam mewujudkan perdamaian. Kedua pemerintah terpilih menjadi sangat ekstrim; Anda bisa lihat kecenderungan itu. Mayoritas berada jauh dari perdamaian, dalam tindakan maupun pemikiran.”??

"Satu-satunya hal yang bisa saya katakan kepada orang-orang seperti Musa adalah, kami membutuhkan Anda," kata Rabi Grenimann. "Bangsa saya memiliki ketakutan yang nyata. Kami ingin orang-orang Palestina menemui mereka dan mengusir ketakutan ini. Ketika orang tak ingin bertemu satu sama lain, karena mereka berpikir pihak lain berbahaya, ini akan menjadi ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya (self-fulfilling prophecy). Tapi pemerintah kami memanfaatkan ketakutan ini. Itulah sebabnya kami harus membantu agar orang percaya satu sama lain dan melihat bahwa pihak lain diciptakan dalam citra Allah. Dengan demikian, kepercayaan juga akan terpenuhi dengan sendirinya."*



Translated by Basil Triharyanto
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerja sama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik

Komentar


Berita Terkait