27.02.2010 18:26:49 WIB
Oleh MARWAAN MACAN-MARKAR*
TRAT, THAILAND (IPS) – VEENA Panudej menjalani hidup di malam hari seperti kebanyakan perempuan dan lelaki lain di sudut timur Thailand yang tenang. Mereka bekerja di cahaya bintang di perkebunan karet yang tersebar di luar kota dekat perbatasan Kamboja.
Saat matahari terbit, Veena mengambil hasil apa yang sudah dia kerjakan di malam hari: getah pohon karet di batok kelapa yang melekat pada batang setiap pohon karet.
Perempuan berusia 34 tahun itu tak kecewa dengan aktivitas itu, yang biasa dimulai setelah malam tiba. Alat-alat yang dia gunakan untuk menyadap pohon karet di tanah milik keluarganya adalah obor dan pisau khusus.
Setelah enam jam bekerja, tidur jauh dari benaknya. Pada jam delapan pagi, Veena sudah siap menjalankan tugas lain: menangani sebuah komunitas yang dia dirikan setelah didiagnosis mengidap HIV.
"Saya pergi ke rumah sakit setempat dan tinggal di sana sampai pukul tiga sore untuk membantu dalam layanan konseling bagi perempuan HIV-positif," ujarnya. "Selama beberapa hari, saya melakukan kunjungan dari rumah ke rumah untuk menemui keluarga-keluarga di komunitas-komunitas terdekat."
Jalan hidupnya dua tahun ini sudah berubah. Hidup dengan HIV sudah menunjukkan satu sisi dalam dirinya yang sebelumnya hampir tak dia kenal. Dia melangkah jauh dari orang-orang seusianya untuk jadi pemimpin yang percaya diri menghadapi stigma terhadap perempuan yang didiagnosis terkena virus mematikan itu.
“Saya harus berani bicara dan mengungkapkan keprihatinan saya dan perempuan lain,” ujar Veena, yang juga ketua jaringan perempuan positif-HIV di kotanya, Laem Ngob, sepuluh kilometer sebelah timur Trat. “Tugas kami membantu perempuan positif yang mengalami diskriminasi di rumah, masyarakat, atau bahkan di rumah sakit.”
Veena salah seorang penerima manfaat inisiatif bersama Raks Thai Foundation, sebuah organisasi nonpemerintah yang membantu perempuan pengidap HIV/AIDS, dan Badan PBB urusan Perempuan (UNIFEM).
Program itu berusaha meningkatkan martabat dan keamanan hak-hak perempuan yang hidup dengan HIV. Salah satu tujuannya, mengembangkan komunitas-sesama penderita yang akan mendukung perempuan penderita HIV di Trat dan provinsi Chiang Mai. Juga melakukan kampanye peningkatan kesadaran terhadap pemerintah lokal dan penyedia layanan kesehatan.
Veena tak sendirian. Ada sejumlah perempuan, seperti Naowares Khlangkamnerd, yang menghadapi kondisi kesehatan serupa di pusat dan pinggiran kota serta desa-desa, tapi menunjukkan keberanian seperti pendahulu mereka untuk mengurangi beban hidup perempuan yang hidup dengan HIV.
Naowares mengatakan, ketika kali pertama mendatangi masyarakat, orang tak bicara tentang perempuan HIV-positif, menganggapnya tak ada. "Tapi setelah beberapa waktu, setelah orang tahu siapa saya dan apa yang saya kerjakan, perempuan mulai berkonsultasi dengan saya,“ ujarnya.
Tapi ini tugas berat bagi perempuan untuk keluar dari bayang-bayang menakutkan dan memecah kebisuan perempuan lain yang bertahan hidup dengan HIV.
Persepsi negatif merupakan tantangan, ujar Dararat Boonpak, seorang psikolog di rumah sakit pemerintah dengan 312 tempat tidur di kota itu. "Perempuan HIV-positif dipandang tercela oleh sebagian besar masyarakat. Mereka sering mengalami pelecehan secara lisan dan secara seksual jika status mereka diketahui orang. "
Lingkungan semacam itu mendorong perempuan HIV-positif untuk diam, kata Wantong Rattanasongkram, petugas lapangan Raks Thai. "Mereka mengalami kesulitan untuk mengungkapkan status mereka."
"Perempuan sering dipersalahkan saat tertular," ujar Wantong, yang juga bekerja untuk program Raks Thai-UNIFEM. "Tugas kami membangun kepercayaan diri dan hal-hal yang berhubungan dengan masalah kehidupan berkualitas."
Selama dua tahun terakhir, sekitar 250 perempuan terlibat dalam program ini di Trat, dan hasil awal menunjukkan adanya tanda-tanda perubahan. Klinik persalinan di rumah sakit setempat, yang dulu menutup pintu bagi perempuan seperti Veena, sekarang mau menerimanya.
Misalnya, perawat di klinik-klinik persalinan mulai merujuk perempuan hamil, yang menurut hasil tes HIV-positif, ke perempuan yang hidup dengan HIV dan sudah mendapat pelatihan Raks Thai-UNIFEM.
Perubahan juga terjadi pada dewan-dewan lokal. Para pemimpin jaringan perempuan HIV tak lagi malu seperti sebelumnya jika berhubungan dengan pejabat pemerintah. "Ketika perempuan positif pergi ke kantor kecamatan, sekarang mereka menampilkan diri sebagai perempuan positif dan mereka masuk ke kelompok perempuan yang sama," ujar Wantong.
Kampanye ini untuk membantu perempuan yang mengalami diskriminasi karena status HIV mereka dan membuka satu sisi tergelap dari perjuangan melawan virus mematikan itu di Thailand. Negara ini mendapat pujian internasional pada satu dekade terakhir atas keberhasilannya mencegah penyebaran HIV dan inisiatif kesehatan publiknya yang memastikan orang yang hidup dengan HIV memiliki akses ke obat-obatan antiretroviral untuk memperpanjang hidup.
Di Thailand tercatat lebih dari 1,1 juta kasus HIV sejak awal epidemi HIV/AIDS pada 1984. Lebih dari sepertiga orang yang terinfeksi HIV –sekitar 400.000– adalah perempuan.
Thailand juga mencatat sekitar 300.000 kematian akibat AIDS –jumlahnya bisa jauh lebih besar lagi. Obat generik ARV yang tak murah diberikan melalui rumah sakit pemerintah. Saat ini, lebih dari 150.000 orang menjalani pengobatan tahap pertama itu.
Thailand memang berhasil melakukan kampanye publik bagi pekerja seks untuk menggunakan kondom. Tapi, menurut laporan PBB, tingkat penularan di kalangan perempuan menikah cukup memprihatinkan. Mereka berada di antara tiga penduduk yang rentan terhadap penyebaran virus; yang lainnya adalah lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki dan pengguna narkoba dengan jarum suntik.
Menurut laporan terbaru Joint U.N. Programme on HIV/AIDS, jika epidemi itu di Thailand menyebar melalui lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki dan pengguna narkoba dengan jarum suntik, "sekarang cara penularannya di antara pasangan menikah." Perempuan terinfeksi oleh partner positif-HIV mereka, yang meminta berhubungan seks tanpa memakai kondom. Naowares satu di antara perempuan itu.
Beberapa lelaki yang hidup dengan HIV bersimpati kepada perempuan HIV-positif karena cobaan yang mereka hadapi. Rungroj Nuamprem, petani buah, mengatakan tekanan semestinya ditujukan pada perempuan di komunitas lokal yang memaksa mereka untuk diam ketakutan.
"Karena tekanan dan kurangnya kepercayaan itu, ada banyak perempuan HIV-positif yang belum mengungkapkan status mereka kepada masyarakat," katanya. "Bagi perempuan, ini juga sulit karena harapan terhadap peran mereka untuk jadi ibu yang baik dan ibu rumah tangga."
"Saya tahu bagaimana rasanya ketika hasil tes saya positif. Saya merasa tak berharga,” ujarnya. "Tapi saya menemukan kekuatan batin setelah itu dan membuka status saya ke masyarakat. Tapi tetap saja saya menghadapi diskriminasi, seperti ditolak ikut dana tabungan yang membantu biaya pemakaman."*
(Naskah ini diterbitkan oleh IPS Asia-Pasifik di bawah serial gender dan pembangunan, yang didukung oleh Kantor UNIFEM Regional Asia Timur dan Asia Tenggara.)
Translated by Basilius Triharyanto
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS
Foto: http://www.allpeoplebehappy.org
