Internasional

Melawan Trauma Tentara

coba

23.02.2010 00:47:02 WIB

Oleh ZACK BADDORT*

LONDON (IPS) – SEBUAH film dokumenter baru, Diary of a Disgrace Soldier, menggambarkan pemecatan seorang veteran perang Irak dari militer Inggris dan pergulatannya melawan tekanan mental pascatrauma (post traumatic stress disorder atau PTSD) terkait rekaman videonya mengenai kebrutalan teman-temannya terhadap pemuda Irak.

Selama lima hari pada 2004, Kopral Martin Webster dan sekitar 100 tentara Inggris dari Batalyon 1, Infanteri Light, terkepung di antara ribuan warga Irak yang rusuh di jalanan Al Amara, Irak. Beberapa warga Irak melempar batu, sementara yang lainnya menembakkan granat-roket (RPGs) atau melemparkan granat.

Di atas sebuah atap selama kerusuhan itu, Webster mengarahkan video –bukan peluru.

Apa yang dia rekam menjadi skandal internasional. Sekelompok tentara Inggris menguber empat pemuda Irak. Mereka lalu memukul, menghantam, dan menendang. Seorang tentara menendang salah seorang pesakitan di antara kaki. Ketika merekam insiden itu, Webster bisa mendengar tawa dan teriakan, “Oh, ya. Oh, ya. Kamu kena hajar. Ya. Dasar anak nakal!”

Pada 2006, video ini bocor ke tabloid Inggris dan disebarkan ke seluruh dunia. Webster ditahan oleh polisi militer, tapi seluruh tuduhan terhadapnya dibatalkan. Dia keluar dari ketentaraan tak lama setelah peristiwa itu.

Dalam Diary of a Disgrace Soldier, yang akan tayang November, Webster menuturkan bagaimana video dua menit itu “menghancurkan” hidupnya. Tapi dia bilang kepada IPS dia tak menyesal memfilmkan pengalamannya di Irak.

”Saya sudah berpikir kelak ia merusak hidup saya,” ujar Webster, seorang Cornwall asli. “Tapi sebenarnya ia membuat saya terbangun dan sadar siapa saya, apa yang saya lakukan, dan membuat saya sadar akan kengerian perang dan kenapa banyak orang terlibat perang, termasuk saya… Saya menjadi orang yang lebih baik setelah melewati proses ini.”

Lebih jauh, Webster mengatakan video itu menyadarkan orang tentang realitas perang, yang dia gambarkan sebagai “kegilaan.”

“Saya seorang tentara dan saya dirancang untuk membunuh,” kata Webster, yang juga pernah bertugas di Irlandia Utara dan Sierra Leone. “Pemerintahan Inggris menghabiskan 12 tahun untuk mengubah saya jadi seorang pembunuh sadis. Dan ketika saya bertingkah seperti pembunuh sadis dan ditayangkan di TV, tak seorang pun menyukainya atau bisa menerimanya. Itulah seorang tentara yang dirancang lakukan.”

Webster mengatakan, media arus utama saat ini menyembunyikan realitas perang.

“Saya yakin, dengan media menghilangkan apa yang sekarang terjadi di Afganistan, masyarakat umum tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana. Semua yang ditampilkan sudah ditulis ulang dan diperiksa,” ujarnya.

Webster ingin membagi sudut pandangannya tentang apa yang terjadi di Irak. Pada 2007, dia mendekati sutradara film Richard Atkinson dan Chris Rowe untuk bikin Diary of a Disgrace Soldier. Neil Cole belakangan masuk tim.

Film dokumenter itu dimulai dari penjelasan dan eksplorasi mengenai insiden pemukulan dan akibatnya, ujar Atkinson kepada IPS. Tapi mereka segera sadar bahwa “kisah yang lebih kuat” adalah bagaimana Webster mengatasi PTSD.

Para sutradara film itu ingin menampilkan perspektif tentara. Setelah mengikuti Webster selama 18 bulan, Atkinson mengatakan film ini mendapat “esensi dari apa yang terjadi pada seorang penderita PTSD.” Film dokumenter ini memasukkan video diaries yang difilmkan Webster sendiri.

“Dampak emosional dan mental dari perang tampaknya menjadi sesuatu yang jarang dibahas,” ujar Atkinson. “Selain itu, begitu banyak opini dari komentator media tapi hanya sedikit dari tentara yang mengalami langsung di garis depan peperangan.”

Studi RAND Corporation tahun 2008 menemukan satu dari lima anggota militer AS yang bertugas di Irak dan Afganistan menderita PTSD atau depresi berat.

Dalam satu adegan dalam film dokumenter itu, Webster berkata dia merasa seperti punya dua kepribadian. “Rasanya seperti saya mengendalikan iblis,” katanya. Lalu, dia heran dan, dengan suara keras berkata, “Mungkin saya orang jahat.”

Dalam sebuah wawancara dengan IPS, Webster berujar dia bukanlah orang jahat. “Tak ada yang betul-betul jahat,” ujarnya.

Bagian dari proses penyembuhan Webster melalui kesenian. Dalam film dokumenter itu, Webster dan sesama veteran Lee Kamara menggelar konser musik “Voices of War” guna mengumpulkan dana bagi para veteran yang jadi tunawisma, Royal British Legion, dan organisasi amal Combat Stress.

Tapi Webster sadar hanya segelintir orang yang tertarik. “Mereka tak ingin mendengar tentang perang dan depresi,” katanya dalam film dokumenter itu. “Tak seorang pun ingin tahu.” Dalam film, Webster juga berpikir untuk bunuh diri dan suatu ketika jadi tunawisma.

Sejak itu Webster membentuk sebuah organisasi bersama Kamara dengan nama yang sama, Voices of War. Webster melukis, menulis puisi, dan membuat musik tentang pengalamannya di Irak. Situswebnya menyatakan bahwa mereka ingin “seluruh dunia mendengar musik (mereka) dan terinspirasi oleh lagu-lagunya.”

Kamar, yang bertugas di Basrah, Irak, mengatakan dia mengatasi PTSD melalui musik.

“Musik membawa saya ke tempat berbeda dan membantu mengurangi stres,” katanya. “Saya menemukan piano membantu saya mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian.”

Sebagai seorang ayah, Kamara menganjurkan tentara lain menggunakan seni untuk membagikan pengalaman militer mereka. “Semua yang menenangkan [tentara],” ujar Kamara, “adalah cara terbaik untuk melupakan.”

Lovella Calica, seniman multimedia Amerika, juga mendorong para veteran yang mengalami stres traumatik pascaperang untuk menggunakan seni sebagai bagian dari proses penyembuhan. Dia adalah pendiri dan direktur Warrior Writers Project, sebuah komunitas kreatif untuk para veteran mengartikulasikan pengalaman mereka.

“Bagus atau tidak seorang veteran mengidentifikasi diri sebagai seorang seniman atau penulis, saya rasa pantas dicoba,” ujar Calica. “Ini tak menyakitkan. Ada beberapa titik dalam proses itu yang mungkin berat dan sulit. Tapi saya pikir Anda harus benar-benar mendorong melalui cara itu untuk meraih yang terbaik di masa depan.”

Bob Paxman setuju seni bisa membantu. Pendiri dan kepala eksekutif lembaga nirlaba Talking 2 Minds ini berujar, dia telah membantu sekira 200 tentara tugas-aktif dan veteran yang menderita PTSD.

“Untuk seorang yang sangat visual, melukis akan begitu menakjubkan,” kata Paxman, seorang master practitioner synergy trainer yang juga menderita PTSD. Dia bertugas di Pasukan Khusus Angkatan Udara Inggris di “banyak medan perang di seluruh dunia” selama 10 tahun.

Seperti Webster, Paxman mencari cara membantu tentara dengan PTSD selain melalui penyembuhan tradisonal. Paxman akhirnya menemukan sebuah proses unik melalui program therapeutic neural linguistic, hipnosis, dan timeline therapy.

Paxman mengatakan, organisasinya “membutuhkan dukungan dana” tapi pemerintahan Inggris mengabaikannya. Dia berujar pemerintah Inggris tak menyediakan perawatan memadai bagi tentara tugas-aktif dan veteran yang kembali dari perang. “Ini masalah sistematis,” ujarnya.

Webster juga mengkritik penanganan medis bagi tentara dengan PTSD di Inggris.

“Terabaikan, benar-benar terabaikan,” kata Webster. “Cara [pemerintah] menangani tentara dengan PTSD benar-benar kejahatan yang dibiarkan. Kami diperlakukan seperti warga kelas dua.”

Meski Webster mengatakan kini dia bisa mengendalikan hidupnya dan “benar-benar meninggalkan Irak di belakang,” dia akan “selalu ingat.”

“Selama sisa hidup saya, saya tak akan pernah melupakannya,” ujar Webster.*

[*Zack Baddorf adalah veteran militer AS yang pernah bertugas di Irak]

Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS

Foto: http://blogs.myspace.com

Komentar


Berita Terkait