28.03.2011 00:03:45 WIB
Oleh Abdurrachman CW
SALAH satu nabi yang paling diberikan “kemewahan” hidup di dunia, seperti yang banyak diceritakan di dalam Alquran, tentu saja Nabi Sulaiman A.S. Namun, ternyata kebahagiaan sang nabi masih jauh dibandingkan seorang petani yang saleh.
Kisahnya, Nabi Sulaiman diminta Allah SWT—melalui malaikat Jibril---buat bertanya kepada petani tentang rasa bahagia. Kira-kira seperti ini perkataan Jibril, “Tanyakan wahai Sulaiman kepada petani
yang kamu lihat sewaktu kamu keliling wilayah kekuasaaNya siapa yang lebih berbahagia, dia atau kamu”.
Selanjutnya Nabi Sulaiman dengan mengendarai angin bertanya kepada seorang petani yang saleh. “Wahai saudaraku bolehkah saya bertanya; siapa yang lebih berbahagia di antara kita?” Petani itu pun menjawab, “Bahagia saya dibandingkan engkau wahai Sulaiman.”
“Mengapa?” kata Nabi Sulaiman.
“Sebagai petani saya hanya mengerjakan sawah atau ladang. Mempersiapkan tanah, menanam, memelihara dan memanen. Kalau ada hasilnya saya keluarkan zakat, infaq atau sedekah. Begitu seterusnya. Berbeda dengan engkau wahai Nabi Sulaiman. Engkau akan ditanya semua yang dianugerahkan kepadamu; harta, kekuasaan, mukjizat, waktu dan lainnya.
Mendengar apa yang dikatakan petani itu membuat Nabi Sulaiman menangis dan sujud dengan sejadi-jadinya. Semua kejadian itu dia ceritakan kepada malaikat Jibril. dan dalam salatnya dia mengadukan kerisauan dan ketakutannya kepada Allah SWT.
Namun di masa kini, mungkin banyak petani yang tidak merasa bahagia dibandingkan dengan mereka yang telah diberi kekayaan dan kemakmuran oleh Allah SWT.
Mengapa? Hal ini terkait berbagai kebijakan yang sangat merugikan petani. Mereka jauh mendapatkan penghasilan yang lebih agar dapat bersedekah, mereka justru terkadang kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya.
Misalnya apa yang dirasakan para petani di sejumlah desa di Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan. Sebab produksi berasnya yang melimpah belum dapat ditampung Bulog. Akibatnya, beras para petani itu dibeli para tengkulak dengan harga yang jauh dari Harga Patokan Pemerintah (HPP). Sementara sebelum panen harga beras terbilang stabil dan mahal.
Menurut Bupati Banyuasin, Amiruddin Inoed, saat kunjungan kerja (Kunker) di Desa Daya Bangun Harjo Kecamatan Muara Sugihan, Selasa (22/03/2011), saat ini masih ada 40 persen sawah yang belum dipanen.
Amiruddin meminta para petani tidak menjualnya ke para tengkulak, sebab dapat saja ketika gudang Bulog kosong, mereka akan mengambil kebijakan impor beras. Nah, saat itu beras Banyuasin sangat
dibutuhkan. Bahkan stok dari petani Banyuasin ini dapat memenuhi kebutuhan beras di Sumatra Selatan.
Mengembalikan Kebahagiaan Petani
Melihat kondisi yang dialami para petani tersebut, Gubernur Sumatera Selatan H Alex Noerdin, tentu saja gusar hatinya. Sebagai pemimpin dia tidak mau para petani itu tidak bahagia atau tidak bersyukur dengan hasil melimpah yang telah diberikan Allah SWT.
Dia pun berjanji segera menginstruksikan pada Kepala Dinas Pertanian Sumatra Selatan untuk berkoordinasi dengan Bulog. Diharapkan, Bulog dapat membeli beras para petani di Banyuasin, dan sesuai HPP.
“Masalah ini akan saya perintahkan pada kepala dinas untuk berkoordinasi dengan Bulog agar membeli beras sesuai dengan HPP. Pemerintah pun hakikatnya tidak ingin menyusahkan petani,” kata Alex, saat ikut panen raya di Muara Sugihan.
Selain itu, guna mendukung nasib para petani di Banyuasin, Alex Noerdin, yang hadir bersama Ketua DPRD Provinsi Sumsel, Bambang Wasista, serta Bupati Banyuasin Amiruddin Inoed menyampaikan bantuan benih padi kepada kelompok tani.
Bantuan lainnya berupa biaya pembangunan 30 kantor kepala desa di Banyuasin, serta dana penanggulangan bencana. Dengan kebijakan dan bantuan yang disampaikan Gubernur Sumatra Selatan, Alex Noerdin, semoga saja para petani di Banyuasin mendapatkan kebahagiaan setelah diberikan rezeki dari Allah SWT, berupa panen padi yang melimpah.
