Peristiwa

Mang Ujuk Telah Berpulang

coba

27.06.2011 03:02:13 WIB

Innalillahi waina ilaihi rojiun. Telah berpulang ke rahmatullah wartawan senior Sriwijaya Post Kiagus Muhammad Arpan dalam usia 78 tahun, Minggu (26/6). Almarhum telah menggeluti dunia jurnalistik sejak 1970-an, meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya.

DENGAN air mata yang berlinang, Nasir, putra ke-2 dari alm Kgs Muhammad Arpan (78), menuturkan ayahnya merupakan sosok yang memiliki sifat jujur dan sederhana dalam hidupnya. Selain itu almarhum juga merupakan orang yang cukup disiplin.

"Bapak tu uwongnyo jujur dan penuh kesederhanaan. Dio jugo dak galak nerimo sesuatu yang bukan haknyo," kenang Nasir pada Sripo ketika mengunjungi rumah duka.

Menurutnya, almarhum merupakan sosok yang tidak pernah mengeluh dan patuh terhadap peraturan. Pesan terakhir, Kgs Arpan kepada Nasir, meminta anaknya tersebut untuk buat SIM motor karena belum memilikinya, "Pas waktu berangkat kerja dak katek kendaraan dio jalan kaki. Apo lagi, waktu aku nak minjem motor untuk jalan-jalan, dak dikasihke. Karno aku dak katek SIM," cerita Nasir.

Kgs M Arpan, merupakan wartawan Harian Umum Sriwijaya Post yang
sudah bekerja sejak 1980-an. Ia meninggal dunia di rumahnya Jl Talang Wirosantika Lr Jambi RT 23 No 48 Kelurahan 30 Ilir, Minggu (26/6) pukul 15.30. Pria yang dikenal jujur dan penuh kesederhanaan ini, meninggal lantaran penyakit yang dideritanya sekitar tiga tahun yang lalu yakni radang usus dan maag.

"Sakitnya sudah 3 tahun yang lalu, tapi sebulan terakhir yang cukup parah dan akhirnya meninggal,"ungkap Nasir.

Almarhum sendiri meninggalkan 6 anak 3 laki-laki dan 3 perempuan, 24 cucu, dan 8 cicit.

Dikediamannya yang sangat sederhana, almarhum tinggal bersama dengan anaknya yang pertama. Sementara, istri almarhum sendiri telah lebih dulu berpulang tahun 2007 lalu.

Almarhum rencananya akan dimakamkan pihak keluarga di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Puncak Sekuning, Senin (27/6) sekitar pukul 14.00.

Masih Bekelakar
Pak Arpan, demikian beliau disapa karyawan Sripo. Pak Arpan termasuk sesepuh Harian Umum Sriwijaya Post. Dia salah satu perintis berdirinya Sripo tahun 1987, selain almarhum H Adam Mutholib dan mantan ketua PWI Sumsel H Kurnati Abdullah.

Istimewanya Pak Arpan adalah pengasuh "abadi" rubrik ber-bahasa Palembang dengan tokoh Mang Ujuk. Meski sudah lama pensiun dari Sripo, beberapa tahun lalu, Pak Arpan tetap dikaryakan khusus untuk menulis rubrik yang sejak lima tahun terakhir bernama Gesa Mangujuk. Jadi bila ditotalkan, tak kurang 24 tahun, posisi Pak Arpan tak tergantikan untuk menulis rubrik tersebut, hingga satu bulan sebelum akhir hayatnya.

Sripo, terakhir berkunjung ke rumahnya sekitar seminggu lalu. Ketika itu, dia sengaja menelepon menggunakan ponsel anaknya, agar datang ke rumahnya.

"Bapak sudah tidak bisa bangun lagi Lis. Ke sinilah. Kasih tahu teman-teman yang lain," katanya lirih.

Kondisi Pak Arpan mulai drop sejak satu bulan terakhir, akibat penyakit kronis yang menahun, maag dan radang usus.

Dedikasinya di dunia menulis, masih diperlihatkan meski dalam kondisi sakit. Biasanya Pak Arpan mencari inspirasi menulis dari hal-hal yang dilihatnya di lingkungan masyarakat. Tapi saat dia sakit, Pak Arpan mengaku masih bisa mendapat ilham menulis dari menonton TV dan baca koran.

Pun saat, sosok pria yang pernah mendapat penghargaan sebagai pelestaari budaya Palembang ini tak kuat mengendarai motor sendiri. Pak Arpan, mengajak anak atau cucunya untuk membawa dia ke Mabes Sripo, hanya untuk menulis cerita Mang Ujuk.

"Tapi sejak awal Juni, bapak dak sanggup lagi," katanya yang memang terlihat
kurus karena sedikit sekali makanan bisa ditelannya. Meski hanya bisa duduk dan terbaring, Pak Arpan masih bisa berkelakar, dua minggu sebelum kepergiannya. "Bapak ni, keno sakit wong kayo. Tapi janganlah kamu cak bapak," ujarnya bercanda.


Ekspresif
Almarhum Kgs Muhammad Arpan semasa hidupnya aktif dalam bidang seni yakni dunia teater. Ia pernah melatih teater di kepolisian. Ketika Sumatera Barat diguncang gempa pada tahun 1980-an, ia mementaskan teater yang dilatihnya untuk sumbangan bencana alam di tempat tersebut.

Lantaran keaktifnya dalam bidang seni khususnya seni teater, pada tahun 2003, almarhum mendapat penghargaan dari Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS) sebagai seniman di bidang sastra.

Selain bidang seni, almarhum Kgs M Arpan juga mencintai bidang jurnalistik.

Pada tahun 1970-an, selain aktif dalam seni teater, ia juga aktif dalam menulis cerita pendek (cerpen). Hasil karya-karyanya tersebut dimuat diberbagai surat kabar dan majalah di Indonesia.

Almarhum Kgs Muhammad Arpan menggeluti bidang jurnalistik dengan terjun dan menjadi pioner awal berdirinya Harian Umum Sriwijaya Post.

Di HU Sriwijaya Post, ia lebih banyak menggarap tulisan patroli berita kecil. Berita tersebut berupa berita singkat yang sumber beritanya diambil dari lorong ke lorong. Misalnya, ada RT gotong royong, penyuluhan tingkat RT, jembatan yang sudah lama tidak direnovasi dan tidak diurus oleh pemerintah, almarhumlah yang mengurusi.

Selain menulis patroli berita kecil dari lorong ke lorong, Alm Kgs Muhammad Arpan juga menulis kelakar Palembang yakni Mang Ujuk. Kelakar tersebut merupakan bentuk refleksi peristiwa yang terjadi di tengah-tengah kota Palembang yang dituangkan dalam tokoh mang Ujuk tersebut.

"Pagi sekali ia datang ke kantor, membaca berita hari itu, kemudian didiskusikan untuk penggarapan Mang Ujuk. Siangnya sebelum makan siang, ia kembali lagi ke kantor dan langsung menggarap Mang Ujuk. Secara pribadi, almarhum merupakan sosok ekspresif dan teman ngobrol yang menyenangkan," ujar Yudi Sarofi, teman almarhum.

Tak ada lagi Pak Arpan, tak ada lagi obrolan Mang Ujuk dan Cek Mat. Gesa Mangujuk terakhir terbit 2 Juni 2011 dengan judul Informasi Pelayanan. Itulah karya terakhir K Arpan. Selamat jalan Mang Ujuk. (sripo)

Komentar


Berita Terkait