06.11.2010 22:30:14 WIB
BERBEDA dengan di Jawa atau Bali, perkembangan senirupa di Palembang di masa lalu tepatnya di masa kerajaan Palembang maupun Kesultanan Palembang Darussalam, bukan seni lukis atau seni patung dengan objek manusia atau binatang. Senirupa di Palembang lebih didominasi kaligrafi Islam, selain berbagai karya ukiran dan kain dengan objek bunga atau tumbuhan.
Seni lukis kaligrafi Islam ini, diperkirakan datang bersama para ulama Islam yang menyebarkan agama akhir jaman itu di Nusantara, khususnya di Palembang, puluhan abad lalu. Baik yang dibawa para ulama dari Tiongkok, Persia, India maupun Arab. Bukti awalnya berupa kaligrafi yang ditulis pada nisan-nisan makam para ulama, raja, maupun orang biasa. Misalnya di batu-batu nisan di kompleks makam Ki Gede Ing Suro di 1 Ilir, Sabokingking, Kawah Tengkurep atau Kambang Koci di 3 Ilir.
Peninggalan kaligrafi Islam lainnya di masa lalu itu, dapat juga kita lihat pada hiasan dinding, pintu, dan jendela, di masjid Agung atau masjid Sultan Mahmud Badaruddin I, serta sejumlah masjid tua lainnya di Palembang seperti masjid Ki Marogan, Lawang Kidul, Suro, dan Jami Sungai Lumpur. Meskipun sebagian kaligrafi tua tersebut sudah diganti dengan kaligrafi yang baru. Selain di masjid juga di sampul-sampul kitab kuno.
Di awal abad 20, di Palembang atau Sumatra Selatan kaligrafi bukan hanya menghiasi masjid, rumah, batu nisan, atau sampul kitab. Kaligrafi juga menjadi jimat yang dipakai seseorang atau yang diletakan di rumah, kendaraan, dan lainnya.
Tahun 1960-an hingga 1970-an, kaligrafi mulai menjadi hiasan dinding rumah yang mulai berwujud binatang atau tumbuhan. Yang cukup dikenal, yang banyak menghiasi rumah-rumah wong Palembang yakni kaligrafi berwujud kuda, harimau, dan burung buraq.
Memasuki tahun 1980-an hingga 1990-an, seni lukis kaligrafi Islam nyaris kehilangan tempatnya. Kita hanya dapat menikmatinya di dalam masjid atau peninggalan lainnya dari masa lalu tersebut. Nyaris tidak ada karya kaligrafi yang baru.
Pelukis Usha Kismada
Pada pertengahan 1990-an, pelukis nasional asal Sumatra Selatan yang menetap di Yogyakarta, Amri Yahya, melakukan pemeran lukisan kaligrafi di Palembang. Pameran ini cukup memberikan kesadaran baru tentang senirupa Indonesia, baik di nasional maupun di Palembang. Pameran itu member tempat baru pada senirupa modern Indonesia, yang mana tetap mempertahankan nilai-nilai budaya masa lalu khususnya ajaran Islam, dengan teknik modern senirupa.
Dua lukisan kaligrafi karya Amri Yahya itu, kini dapat dinikmati setiap saat di masjid Agung Palembang. Dua karya tersebut merupakan sumbangan Taufiq Kiemas, suami mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, dan Amri Yahya.
Salah satu pelukis Palembang yakni Usha Kismada tersentuh dengan pameran lukisan kaligrafi Amri Yahya tersebut. Dia pun memutuskan untuk mengkhususkan diri menjadi pelukis kaligrafi. “Saya melukis kaligrafi sejak tahun 1972, tapi tidak khusus. Baru setelah menyaksikan pameran Amri Yahya itu, saya putuskan buat melukis khusus kaligrafi,” kata pria kelahiran Palembang pada 26 April 1955, yang ditemui di ruang pameran “abadinya” bersama Suharno Manap di Museum Tekstil, Jalan Merdeka, Palembang, belum lama ini.
Hingga saat ini, lukisan kaligrafi karya suami dari Nyanyu Era Nurdiana ini mencapai ratusan. Yang sudah menjadi koleksi para penggemar lukisan sekitar 300 buah. Salah satunya dikoleksi mantan Gubernur Sumatra Selatan Ramli Hasan Basri. Dan hampir semua pejabat di lingkungan PT Pupuk Sriwidjaja mengkoleksi karya Usha Kismada.
Sejak mengkhususkan menjadi pelukis kaligrafi, cicit dari ulama besar Palembang yakni Abdu Somad Al-Valimbani, mengaku mendapatkan sebuah kabahagian tersendiri sebagai seniman. “Selain menjadikan seni lukis sebagai ibadah, juga secara duniawi lukisan kaligrafi banyak peminatnya,” kata putra kedua dari delapan bersaudara pasangan Ishaq Maiji yang pernah menjadi imam masjid Agung dan Nyanyu Hajir.
Lukisan kaligrafi milik Usha Kismada yang telah dikoleksi penggemar lukisan harganya berkisar Rp500 ribu-15 juta.
Sayangnya, Usha Kismada di masa tuanya ini merasa sendirian menjadi pelukis kaligrafi. Dia mengharapkan di Palembang akan lahir banyak pelukis kaligrafi, sehingga jejak Islam di Palembang terus tertandai.
Mengapa sulit sekali melahirkan pelukis kaligrafi di Palembang, padahal begitu banyak anak muda yang menekuni seni lukis? “Saya pikir menjadi seorang pelukis kaligrafi itu sayaratnya memang tidak mudah. Selain memiliki kemampuan melukis, juga mengerti baca-tulis Alquran, serta memiliki pengetahuan yang luas mengenai ajaran Islam dan budayanya,” kata Usha.
“Sebab jika salah menulis hurup Alquran yang dijadikan bahan lukisan kaligrafi, akibatnya tidak baik. Menurut saya bukan menjadi ibadah justru berdosa. Mungkin beratnya syarat ini yang menyebabkan banyak pelukis ragu melukis kaligrafi. Padahal kalau dia muslim, dan mau belajar agama Islam itu tidaklah sulit,” ujarnya.
Mungkin, lantaran minimnya pelukis kaligrafi ini, kata Usha, sering kali kita temukan sejumlah masjid salah menuliskan ayat Alquran setelah dijadikan kaligrafi buat menghiasi masjid. “Masjid Agung saja pernah salah dalam kaligrafi yang baru dibuat, untung segera diperbaiki. Beberapa masjid lainnya juga salah ejaannya pada hiasan kaligrafinya, tapi entah kenapa masih dipertahakan, padahal saya sudah mengirim surat pemberitahuan kepada mereka, seperti di masjid di likungan PT Pusri di Sei-Lais,” kata bapak dari tiga putra ini.
Sebelum menutup perbincangan dengan Berita Jumat, Usha mengajak para pelukis muda maupun tua di Palembang memperbanyak melukis kaligrafi. Selain buat ibadah, mendatangkan rezeki, juga sebagai sumbangsih di masa depan bagi perjalanan Islam di Palembang.
