Internasional

”Mereka Tahu Saya Bukan Mata-Mata”

coba

08.04.2010 19:14:34 WIB

Wawancara Omid Memarian dengan wartawan dan penulis Roxana Saberi

NEW YORK – KETIKA para pemimpin dunia bertemu di Washington akhir bulan ini dalam pertemuan puncak mengenai keamanan nuklir, yang diharapkan akan mendiskusikan sanksi terhadap Iran, mereka juga seharusnya membahas situasi HAM di negara itu, ujar wartawan Iran-Amerika, Roxana Saberi.

”Saya pikir lebih banyak tekanan bisa diarahkan pada rezim Iran atas catatan HAM mereka yang mengerikan,” kata Saberi, penulis buku baru Between Two Worlds: My Life and Captivity in Iran, kepada IPS. ”Komunitas internasional seharusnya berpikir bahwa keduanya bisa dan harus dikejar secara simultan, dan HAM harus jadi isu pertama, bukan kedua atau ketiga.”

Saberi, perempuan berusia 31 tahun, berkewarganegaraan AS dan Iran, besar di Fargo, Dakota Utara. Enam tahun lalu, dia pindah ke Iran dan mulai bekerja sebagai freelancer untuk berbagai kantor berita, termasuk National Public Radio, BBC, dan Inter Press Service.

Saberi ditangkap pada Januari 2009. Awalnya ia dituduh mencoba membeli wine, barang ilegal di Iran, dan kemudian kartu persnya dianggap tak sah. Dia akhirnya dituduh sebagai spionase. Pada April 2009, dia dijatuhi hukuman delapan tahun, setelah menghabiskan lebih dari tiga bulan di Penjara Evin yang terkenal kejam.

Atas tekanan internasional terhadap pemerintah Iran, dia dibebaskan pada 11 Mei 2009.

Usai merilis bukunya, Saberi berbicara dengan koresponden IPS, Omid Memarian, tentang masa dia di penjara dan situasi HAM di Iran. Berikut kutipan wawancaranya:

T: Apa isi buku Anda?

J: Buku ini memiliki tiga bagian. Bagian pertama disebut “Terperangkap” –berbicara tentang penangkapan saya, apa yang saya lakukan di Iran sebelum penangkapan, dan interogasi yang intens selama awal-awal menjadi tahanan. Saya membahas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada saya, dan menjelaskan beberapa metode yang mereka gunakan untuk menekan saya agar membuat pengakuan palsu sebagai mata-mata Amerika Serikat

Saya jadi tahu metode yang mereka gunakan, termasuk mengunci tahanan dalam kurungan tersendiri tanpa akses kepada penasihat hukum atau keluarga, serta kombinasi intimidasi dan manipulasi, yang disebut “penyiksaan bersih”, yang tak meninggalkan tanda luka pada tubuh tapi menghancurkan pikiran dan hati nurani.

Bagian kedua disebut “Malaikat di Evin”, dan di dalamnya saya berbicara tentang bagaimana saya dipindahkan dari kurungan tersendiri ke sel lain, tempat saya bertemu dengan tahanan politik lainnya. Bagian ketiga mengenai pengadilan saya, mendapatkan hukuman delapan tahun, pengadilan banding saya, dan kemudian pembebasan saya.

T: Apa bagian dari masyarakat Iran yang tercermin dalam buku Anda?

J: Saya mencoba menggambarkan banyak aspek dari masyarakat Iran, sebagian melalui cerita teman satu sel saya. Saya menggambarkan situasi agama minoritas (khususnya keyanikan Baha'i) di Iran. Melalui teman satu sel saya, seorang mahasiswa, saya menjelaskan aktivisme mahasiswa di Iran dan taruhan yang harus dihadapi sebagai aktivis karena kegiatan mereka. Dan melalui tahanan lain, saya menerima berbagai pandangan mengenai agama menurut warga Iran biasa dan agama yang dipolitisir.

T: Apakah pengalaman Anda di penjara mengubah pikiran atau persepsi Anda tentang Iran?

J: Ya. Sebelum ditahan, saya tak berpikir tentang keadilan, HAM atau kebebasan. Meski saya telah melaporkan dan menulis tentang isu ini, saya mencoba melakukannya seobjektif mungkin –dengan kata lain, saya tak memihak. Tapi ketika kebebasan saya dicabut dan dihadapkan dengan ketidakadilan, saya mulai lebih memahami apa artinya memiliki hak-hak dasar yang dilanggar dan bagaimana rasanya kehilangan kebebasan.

T: Mengapa mereka menahan Anda setelah enam tahun?

J: Saya masih tak yakin mengapa mereka menahan saya, meski saya yakin mereka tahu saya bukan mata-mata. Mereka hanya berpura-pura berpikir begitu, untuk menekan saya agar membuat pengakuan palsu, menggunakan buku saya sebagai alasan bahwa saya bekerja untuk mata-mata Amerika.

T: Apakah ada bedanya jika Anda ditangkap sebelum Ahmadinejad memegang kekuasaan pada 2005?

J: Saya tak yakin saya akan ditahan selama periode Khatami, meski ada banyak tahanan politik saat itu.

Tampaknya kelompok garis keras di Iran mendapatkan kekuasaan lebih sejak presiden [Mahmoud] Ahmadinejad dan mengintensifkan penggunaan “pendekatan keamanan” kepada masyarakat. Dengan pendekatan ini, mereka melihat orang-orang biasa –mahasiswa, aktivis, pekerja kemanusiaan, akademisi, wartawan, warganegara ganda, dan lain-lain– sebagai ancaman bagi keamanan mereka, yang harus dihadapi melalui langkah-langkah pengamanan seperti pelecehan, intimidasi, dan penjara.

T: Bagaimana buku Anda bisa membantu orang belajar lebih banyak tentang Iran dan masyarakat Iran?

J: Apa yang terjadi pada saya di Penjara Evin tahun lalu adalah sebuah pola untuk hampir semua tahanan politik atau “tahanan hati nurani” di Iran, dari penahanan hingga pengadilan.

Sistem itu tak adil dan tak fair: interogasi tanpa seorang pengacara, dilarang memberitahu orang yang Anda cintai mengenai keberadaan Anda, dengan licik dituduh membuat kejahatan, dipaksa membuat pernyataan dan pengakuan palsu, dilarang mendapatkan pengacara sesuai pilihan Anda, berusaha diadili dalam sidang tertutup di mana Anda dilarang menguji dakwaan dengan menghadirkan “saksi” dan mempelajari apa yang disebut bukti –daftarnya bisa panjang.

Saya berharap melalui cerita saya dan kisah teman satu sel saya, orang dapat melihat bahwa begitu banyak orang tak berdosa ada di balik jeruji di Iran sementara penjahat sebenarnya adalah mereka yang berkuasa.*

Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS

Foto: www.telegraph.co.uk

Komentar


Berita Terkait