09.01.2010 04:29:15 WIB
Oleh FARIDA INDRIASTUTI
Terik matahari begitu menyengat, hingga membuat wajah terbakar. Di sepanjang jalan desa, muda-mudi tertawa riang. Ada yang berbeda dari biasanya. Begitu juga pria dan wanita dewasa, berikut anak-anaknya berbondong-bondong menuju tanah lapang di ujung desa. Sebuah perhelatan akbar akan dilangsungkan oleh para sesepuh adat, perangkat desa dan pemerintah daerah. Turis mancanegara pun tak mau ketinggalan, berebut posisi agar dapat menyaksikan peristiwa langka ini.
Suara penonton menyeruak menggegerkan suasana, teramat riuh. Apalagi lima orang penonton mendadak kesurupan. Tak ada yang tahu, mengapa peristiwa diluar nalar 'berbau klenik' itu terjadi? Para dukun desa, atau yang akrab disapa "pawang" menyesalkan roh-roh halus tak sudi mampir dan merasuki gadis perawan desa. Para sesepuh adat marah dan berspekulasi, bahwa jin asal Madura dan jin dari partai politik sengaja menggagalkan prosesi ritual magis itu. "Mereka ingin desa ini dilanda bencana," teriak sesepuh desa.
Mendadak bunyi gamelan terdengar mengalun begitu ritmis, dibawah teriknya matahari di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Penonton bersorak, berformasi berjajar hingga melingkar, sembari meneriakkan "Horeeee...!" tatkala menyaksikan gadis perawan berhasil disusupi roh halus. Gerakan yang sarat kekuatan magis itu ditarikan oleh gadis perawan desa yang belum memasuki masa haid.
Dengan bermahkotakan daun pisang dan aneka bunga yang disebut "omprok", gadis perawan menggerakkan tangannya yang lentik, menggoyang pinggulnya yang sintal sambil matanya terpejam dalam tidur. Prosesi ritual seblang yang sarat klenik ini merupakan kepercayaan suku Using, yang diyakini secara turun temurun hingga kini .
Bagi penduduk suku Using di desa Olehsari, ritual seblang merupakan perwujudan dan persembahan warga desa sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus penolak bala-- agar desa dan warganya terbebas dari penyakit menular, bencana alam dan kegagalan panen. Ritual seblang ini dilaksanakan pada bulan syawal, saat perayaan Idulfitri, berlangsung selama 7-10 hari. “Bumi harus dihormati, karena manusia selalu menyusu kepada bumi seperti bayi merah. Bumi itu ibarat ibu kita, jadi jangan dirusak bumi ini! “ujar sesepuh seblang.
Di ujung desa, gadis perawan dipilih secara supranatural oleh dukun desa yang sakti. Tak sembarang gadis boleh menarikan ritual seblang, hanya keturunan penari seblang yang berhak menjadi tokoh kunci. Konon, ritual ini telah berumur puluhan tahun, hingga tak terlacak jejaknya. Upacara adat diawali dengan pembacaan “mantra-mantra” oleh dukun desa. Si dukun menyalakan dupa, sedangkan si gadis perawan dengan mata ditutup tangan oleh para ibu-ibu-- berdiri sambil memegang tempeh (nampan bambu).
Bila tempeh terjatuh ditanah, itu pertanda si gadis perawan kesurupan roh-roh halus yang dimasukkan kedalam tubuhnya. Maka pertunjukan magis pun dimulai. Gadis perawan dengan mata terpejam, menari tak karuan. Ia kejiman roh selama 4 jam, menari dengan gerakan pelan yang monoton mengikuti arah sang dukun. Lalu bergerak cepat dan menghentak, diiringin tetabuhan gending-gending oleh para nayaga, juga alunan suara para pesinden.
Gadis perawan itu didampingi para sesepuh seblang, lelaki dan perempuan tua. Sesekali gadis perawan yang menari melempar kain sampurnya pada kerumunan penonton, teriakan histeris pun menggema. Bila penonton terkena lemparan sampur, ia harus siap (mau) beradu tarian dengan gadis perawan. Bila ditolak, si penari yang kerasukan roh itu akan mengamuk sejadi-jadinya.
Tak ada yang menolak ritual itu, karena warga desa percaya ritual seblang memiliki banyak makna. Bila gagal terlaksana, warga desa percaya malapetaka akan melanda desa. "Dulu ditahun 1970-an, wabah penyakit mematikan menghancurkan desa, hingga banyak yang meninggal," ujar sesepuh desa. Bahkan para janda dan perawan desa Olehsari pun berebut kembang yang telah dibubuhi mantra oleh dukun desa yang dipercaya akan mendatangkan jodoh.
Ritual adat seblang yang turun-temurun itu tetap terjaga hingga kini. Pemerintah Daerah pun tetap melestarikan kebudayaan masyarakat setempat. Bila dipahami, ritual seblang merupakan bentuk kearifan lokal suku Using pada alam dan lingkungannya. Warga desa takut, bila alam dan bumi (yang dianggap ibu) akan murka, bila ritual seblang ini gagal terlaksana. Dan rusaknya alam dan lingkungan akan mendatangkan karma yang lebih besar. Tak heran bila, suku Using enggan menggali tanah untuk sumur, sebab air begitu melimpah. Menggali tanah sama dengan melukai bumi berarti melukai ibu. (beritalingkungan.com)
