30.06.2010 16:48:51 WIB
Judul Buku : Ziarah Air Mata
Penerbit : Venesia Publishing (Venesia dari Timur Group) dan Tunas Gemilang Press Palembang
Ukuran Buku : 14 x 20 cm
Tebal Buku : xvi + 78 hlm.
Cetakan I : Juni 2010
Bagi saya, menyelami perjalanan menulisnya Syamsu Indra Usman bukan hal mudah. Sebab, selain saya bukan generasi seumur Syamsu Indra Usman, juga disebabkan oleh banyaknya karya sastra Penyair Gunung ini yang tersebar di berbagai media baik terbitan Sumsel, Bengkulu dan Jakarta. Tetapi dengan terbitnya buku ini, telah menandai perjalanan menulis Syamsu Indra Usman, untuk kemudian perlu dijadikan dokumentasi oleh setiap penulis, instansi baik negeri maupun swasta. Kenapa ini menjadi penting? Karena penandaan seorang penyair hanya akan diakui eksistensinya ketika yang bersangkutan telah membuatn tanda kreatifitas dengan buku, yang kini telah terbit. Melalui proses yang tidak pendek tentunya, sehingga Buku “Ziarah Air Mata” ini dapat dipublikasikan. Tunas Gemilang Press dan Venesia dari timur, telah mengambil inisiatif dalam upaya melakukan penandaan bagi seorang Syamsu Indra Usman.
Dalam kata pengantarnya, Syamsu menyebutkan jauh sebelum buku kumpulan puisi ini diterbitkan, kurang lebih empat tahun (2005-2010) sejumlah puisi ini hanya tersimpan dalam kumpulan arsip. Usaha melakukan pengumpulan puisi-puisi yang tersebar di berbagai media baik terbitan Palembang dan Jakarta, tahun 2005 dilakukan oleh Kedai Proses, sebuah lembaga kebudayaan di Bengkulu. Jadilah cetak biru dengan format semi buku. Tetapi karena satu dan lain hal, buku ini belum dapat
diterbitkan sebagaimana harapan awal. Hingga akhirnya sejumlah puisi ini tersimpan dalam tumpukan karya tulis lainnya di rumah saya.
“Niat kuat tetap memacu saya agar buku ini dapat terbit dalam bentuk buku. Pada Mei 2010, saya bertemu dengan sejumlah pekerja seni Palembang, yang tergabung dalam Komunitas Venesia dari timur, sebuah lembaga kebudayaan yang konsen dalam bidang seni budaya, termasuk penerbitan buku dan media. Jalinan kerjasama, akhirnya dilakukan oleh Venesia dengan menggaet Tunas Gemilang Press, salah satu penerbit di Palembang untuk mebantu proses penerbitan, sejak desain sampul, tata letak sampai finishing,” katanya.
Buku Ziarah Air Mata yang anda pegang ini, minimal menjadi bagian kesaksian mata dhohir dan mata batin seorang Indra, untuk kemudian dituangkan dalam cetakan huruf. Dengan kesaksian ini, minimal dapat menjadi pembuka hati bagi siapapun, yang tengah membutuhkan ‘pencerahan intuisi’ melalui puisi.
Amril Canrhas, salah satu pekeja seni di Bengkulu dalam pengantarnya menyebutkan, membaca puisi-puisi Syamsu Indra Usman, seolah kita dihadapkan pada sebuah pemandangan, sebuah realitas sosial. Kita terkesan seolah dihadapkan pada sebuah panorama kemanusiaan, pemandangan alam. Mengutip Herbert Read dalam bukunya Philosphis of Art, seorang pelukis, katanya, menyaksikan alam, mengubah alam menurut pemahamannya. Alam yang dilukiskannya bukanlah alam yang sebenarnya, melainkan alam yang sudah dimasuki proses kreatifnya, dimodifikasi.
Apa yang ditulis Syamsu Indra Usman adalah sebuah panorama air mata, panorama yang lahir dari penipuan, penindasan, dari mayoritas orang yang tidak berdaya yang sudah menjadi bagian integral dari peradaban kita. Sadar atau tidak dalam komunitas sepertiitulah kita hidup.
Syamsu adalah saksi ketidakberdayaan itu (kalau boleh disebut begitu). Setidaknya ia meresponnya dengan menyiarkan ketakberdayaan itu menjadi sebuah kewajibannya sebagai manusia biasa seperti yang diajarkan agama. Itulah yang dituangkannya dalam antologi ini.
Misalnya pada puisi Kepada Ayah Aku Bertanya;
Aku ini anaksiapa?
Sebab antara aku dan mereka
tak sama rupaa
mereka adalah Srigala
sedangkan aku adalah Sapi Perah
Menurut Amril, Syamsu Indra Usman seolah mengajak kita menyaksikan, merenungkan panorama itu. Lalu apa tindakan kita menyaksikan panorama seperti itu? Tergantung kita sendiri. Diam. Itulah selemah-lemahnya iman menurut ajaran agama. Itu sebabnya antologi ini diberinya judul Ziarah Air Mata, ziarahilah panorama air mata Syamsu Indra Usman.
Semoga Anda bisa menjadi saksi danmemberikan reaksi terhadapnya.(Imron Supriyadi, pelaku seni sastra)
