23.12.2010 12:20:18 WIB
Oleh Zofeen Ebrahim
KARACHI (IPS) – SEBAGAI pengantin baru yang patuh, Rubina Ikram pindah ke rumah mertuanya. Dia membawa mas kawinnya, bukan hanya pakaian, mebel, dan linen, tapi juga beragam peralatan elektronik –dari pemutar DVD hingga mesin cuci.
Tiga minggu sesudah pernikahan, alat-alat elektronik itu masih tersimpan di kotak masing-masing di dua kamarnya di distrik Lyari Karachi.
”Apa gunanya?” tanya mertua Rubina, Kulsum Begum. ”Kita tak punya listrik untuk menjalankan alat-alat ini!”
Rumah Ikram termasuk di antara 40 persen rumahtangga Pakistan yang terhubung jaringan listrik nasional. Namun, Kulsum Begum berujar, ”Kami seperti hidup di Zaman Kegelapan. Pasokan listrik hanya separuhnya. Puncaknya saat musim dingin; pasokan gas mulai berkurang dan tak bisa mengalir dengan lancar.”
Situasi ini dapat menjelaskan mengapa Pakistan mempertimbangkan serius penggunaan batubara untuk mengatasi masalah energi, meski sudah ada keputusan dari kesepakatan perubahan iklim di Meksiko pada Desember. Dari seluruh bahan bakar fosil, batubara adalah yang terkotor; penggunaannya menghasilkan uap beracun termasuk karbondioksida, sulfurdioksida, bahkan merkuri.
Bahkan April lalu, Bank Dunia menolak untuk membiayai eksplorasi batubara di Pakistan karena terkait masalah lingkungan, dan lebih mendorong inisiatif energi terbarukan.
Mahfooz Bhatti, direktur Thar Coal and Power Project dari pemerintahan Sindh, menegaskan cara-cara bersih dalam ekstraksi dan pembangkit tenaga listrik sangat mungkin “melalui proses perubahan batubara menjadi gas (gasifikasi) dan penggunaan teknologi bersih dan ramah lingkungan (supercritical)” serta mematuhi standar keamanan sosial dan lingkungan internasional.”
Kamran Kamal, penasihat senior pengembangan bisnis dari Engro Powergen Ltd, menjelaskan bahwa teknologi pembangkit listrik supercritical menggunakan sedikit batubara untuk menghasilkan lebih banyak energi listrik. ”Artinya emisi karbondioksidanya rendah,” ujarnya. ”Terjangkau dan ekonomis dan yang lebih penting lagi memenuhi pedoman emisi Bank Dunia.”
”Benar,” tambah Prof Khalid Rashid, ahli fisika dan lingkungan yang konsen dengan teknologi pembangkit listrik. ”Pembangkit supercritical dan gasifikasi batubara tak merusak lingkungan seperti pembangkit listrik tenaga batubara konvensional.”
”Pembangkit listrik supercritical beroperasi pada temperatur yang jauh lebih tinggi dan mendorong tungku pemanas dan membakar batubara secara efesien,” katanya. Setiap kilogram batubara menghasilkan sekira 20 persen tenaga listrik lebih banyak dan 40 persen karbondioksida lebih sedikit, tambahnya.
Dia menjelaskan bahwa batubara dioksidadi untuk menghasilkan campuran hidrogen dan karbonmonoksida, yang disebut syngas. ”Syngas ini dipakai untuk memanaskan ketel guna menghasilkan uap yang menjalankan turbin dan memproduksi energi listrik dengan kandungan karbondioksida berkurang hampir 30-40 persen, tergantung desainnya,” ujarnya.
Menurut Rashid, pembuatan pembangkit listrik dengan teknologi macam ini dan meninggalkan pembangkit listrik tenaga batubara konvensional menjadi tren global. Penelitian Badan Energi Internasional (IEA) menyebutkan, penggantian pembangkit listrik lama dengan yang lebih efesien, emisi gas rumahkaca dapat dikurangi sekitar 5,5 persen.
China, Jerman, Amerika Serikat, India, Yunani, dan Afrika Selatan menggunakan teknologi ini untuk pembangkit listrik batubara mereka, tambah Kamran Kamal.
Engro Powergen, anak perusahaan salah satu konglomerasi terbesar di Pakistan, Engro Corp, bekerja dengan pemerintah provinsi Sindh untuk tambang batubara dari Thar Block II di padang pasir Tharparkar dan menghasilkan sekira 1.200 megawatt tenaga listrik dari pembangkit yang sudah beroperasi.
Cebakan batubara terbaru yang dapat menghasilkan sebanyak 185 milyar ton ditemukan di gurun Tharparkar menurut riset tahun 1992 oleh Geological Survey of Pakistan.
Bhatti berkata karena “ketersediaangas murah, kurangnya infrastruktur, dan tantangan institusional terhadap operasi sektor batubara skala besar,” cadangan batubara negeri ini tetap tak tersentuh selama hampir dua dekade. Departemen Pertambangan Sindh menyatakan cadangan batubara di Pakistan berpotensi menghasilkan 200.000 megawatt tenaga listrik –cukup untuk 100 tahun ke depan, berdasarkan tingkat konsumsi sekarang.
Ini sama dengan cadangan minyak di Arab Saudi sebanyak 246 milyar barel, atau setara seperempat total cadangan dunia. Tapi banyak yang mengatakan perbandingan ini keliru karena batubara tak dapat diperdagangkan seperti minyak bumi.
Sementara itu, proyek ini akan makan waktu sampai enam tahun sebelum pembangkit listrik Engro mulai menghasilkan tenaga listrik. Bhatti menegaskan, sesudah beroperasi, energi listrik yang dihasilkan Engro dari cebakan Tharparkar dapat menunjang kebutuhan energi Pakistan selama setengah abad.
Ia juga menghemat pengeluaran negara satu milyar dolar setiap tahun, menurut kalkulasi Engro. ”Menurut Buku Tahunan Energi Pakistan 2010, Pakistan membelanjakan hampir empat milyar dolar untuk mengimpor bahan bakar bagi pembangkit listrik. Merujuk kapasitas pembangkit kami sekitar 14.000 megawatt dan sekira 35 persen berasal dari RFO (bahan bakar minyak residu), ini berarti sekitar 5.000 megawatt. Proyek pertama kami akan menghasilkan 1.200 megawatt, yang akan menghemat sekitar 1 milyar dolar per tahun,” ujar Kamal.
Rencana pemerintah Pakistan untuk tenaga listrik 2010 meliputi 49 persen gas alam, 27 persen minyak bumi, 13,9 persen pembangkit air, 9 persen batubara, 1,1 persen energi terbarukan, dan 0,9 persen nuklir.
Pada 2030, akan terjadi kenaikan menjadi 162.590 megawatt, meliputi 45 persen gas alam, 19 persen batubara, 18,5 persen minyak bumi, 2,5 persen energi terbarukan,10,8 persen pembangkit air, dan 4,2 persen nuklir.
Negara ini kini punya proyek eksplorasi pembangkit gas dari batubara yang mengurangi polusi karbondioksida, menghasilkan 50 megawatt tenaga listrik. Pakistan Electric Power Co yang menjalankan proyek batubara sebanyak 1.200 megawatt ini.
Kamal menyuarakan kegusarannya atas kritik tambang batubara. Dia mengatakan pembangunan tak dapat selalu bersesuaian dengan urusan lingkungan. ”Jika negara-negara kaya di dunia –juga penghasil polusi terbesar– peduli dengan emisi karbon, mungkin mereka dapat memberikan contoh dengan menutup pembangkit listrik tenaga batubara mereka dan beralih ke energi yang ramah lingkungan,” ujar Kamal.
Dia mengatakan, batubara masih merupakan sumber energi terbesar di AS, China, Eropa, dan bahkan negara tetangga India, meski mereka berusaha mengurangi ketergantungan terhadapnya. Pakistan masih termasuk kecil, menyumbang tak lebih satu persen dari emisi gas rumahkaca di dunia, dia menyimpulkan.*
Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS
