16.09.2011 20:44:27 WIB
Oleh Dadang Sulaiman
Praktisi politik
SILUMAN merupakan kata atau penamaan terhadap “makhluk halus” yang lahir dari sejumlah cerita rakyat di Indonesia. Dikisahkan siluman melakukan berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari layaknya manusia biasa. Bahkan diyakini siluman memiliki peradaban.
Siluman ini diyakini pula berasal dari manusia yang telah meninggal dunia, atau merupakan makhluk halus sejak dia diciptakan Tuhan.
Nah, di masa lalu, pertemuan antara manusia dengan siluman ini melahirkan berbagai cerita rakyat yang sifatnya misteri. Di Sumatera, siluman dikenal sebagai “orang bunia”. Sementara di Jawa salah satu tokoh siluman yang terkenal yakni Kanjeng Ratu Kidul. Bahkan keberadaan Kanjeng Ratu Kidul dikaitkan dengan legitimasi kekuasaan para raja, pewaris Kerajaan Mataram.
Kisah lainnya para siluman di Jawa misalnya Rawa Lekbok, Prabu Siliwangi dan para pengikutnya di Gunung Gede, serta siluma penghuni Gunung Merapi dan Gunung Lawu.
Ternyata di masa modern ini, cerita mengenai siluman ini terus berlangsung. Bila sebelumnya dikenal dengan “uang siluman”, kini setiap kali dilangsungkan Pemilukada dikenal pula “suara siluman”.
Khusus mengenai “suara siluman” yakni tentang adanya suara yang memilih atau tercatat sebagai pemilih, tapi manusia yang memberi suara ini atau memilih ini tidak terlihat sosoknya alias sebagai makhluk halus atau siluman.
Bedanya lagi, siluman di era modern ini bukan muncul dari hutan rimba, melainkan dari kantor-kantor yang berisi manusia cerdas. Siluman-siluman ini meluncur dari kalkulator dan komputer. Berapa pun siluman yang dibutuhkan dapat disediakan, tergantung dari besarnya biaya yang diberikan atau didasarkan dari kepentingan tertentu.
Guna melahirkan siluman-siluman ini dibutuhkan kerjasama yang rapih dan sistematik antarlini. Dimulai dari mesin ketik di dusun, kemudian meluncur ke desa, dipoles di kecamatan, dan terakhir dimanusiakan di kabupaten atu kota.
Jadi, para manusia yang berwujud jangan bingung bila dalam sebuah pemilihan kepala daerah akan mendapatkan suara siluman. Persoalannya, apakah kita rela menerima kehadiran suara siluman itu atau menolaknya.
Pemimpin Siluman
Jika kita mendapatkan sebuah pemilihan kepala daerah, yang mana terdapat banyak suara siluman, maka sudah jelas kepala daerah yang menang bukan saja sebagai perwakilan manusia, juga perwakilan siluman. Para siluman berhak mengklaimnya sebagai kepala daerah mereka.
Seorang kepala daerah yang mewakili manusia tentunya akan melahirkan berbagai program atau agenda kerja yang terukur atau dirasakan manusia. Misalnya jalan, jembatan, air bersih, listrik, gedung sekolah, sembako, yang dapat dilalui, dirasakan, atau dinikmati.
Sementara kepala daerah yang mewakili siluman, tentu saja akan melahirkan berbagai program yang tidak dapat dilihat, dirasakan, dan dinikmati manusia. Semua programnya akan dinikmati para siluman.
Bagaimana kalau dia merupakan kepala daerah yang dipilih manusia dan siluman? Ya, tentu saja hanya sebagian program kerjanya yang dapat dinikmati manusia. Lainnya dinikmati para siluman.
Terhadap kepala daerah seperti ini, kita jangan protes atau terkejut jika jalan di dusun kita kurang baik. Sebab dia tengah membangun jalan yang mulus bagi masyarakat siluman. Bila kita krisis air, kita pun tak boleh protes, sebab dia tengah membuat ratusan sumur bor atau memasang ribuan meter pipa PAM bagi masyarakat siluman.
Apa ciri-ciri siluman? Sebagaimana Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk paling sempurna di muka Bumi ini, maka siluman merupakan makhluk yang tidak baik atau jahat dibandingkan manusia. Mereka suka melakukan berbagai tindakan yang menyusahkan manusia, suka berbohong, menipu, mencuri, bahkan berani mengorbankan jiwa dan jasad manusia guna kepentingan dirinya.
Berdasarkan uraian di atas, apakah kita mau dipimpin oleh kepala daerah siluman, yang artinya kepala daerah yang dipilih oleh suara-suara siluman? Jika itu terjadi, bukan hanya sebagai tindakan bodoh, juga menjerumuskan manusia sebagai makhluk yang tidak beradab atau tidak benar. Jika sudah begini, kita akan merugi di dunia maupun di akhirat. [*]
