SEA Games 2011

Agar Tak Pergi Jauh Untuk Berobat

coba

26.07.2011 01:02:40 WIB

PENOLAKAN atas pembangunan Siloam Hospital di Palembang oleh sebagian kalangan masyarakat mungkin seperti membendung laut. Pasalnya rumah sakit berlabel internasional itu sudah berdiri di banyak tempat dan tengah terus memperluas keberadaannya tanpa pernah dihambat pro-kontra masyarakat.

Sebelum rencana pembangunan di Palembang, RS Siloam sudah ada di tujuh tempat. Meliputi Siloam Hospital Jakarta, Lippo Village Karawaci, Siloam Hospital Kebon Jeruk, Lippo Cikarang, Siloam Hospital Surabaya, Siloam Jambi, dan Siloam Balikpapan.

Hampir serentak dengan di Palembang dan Makassar, Lippo Group juga mempersiapkan RS Siloam di sejumlah daerah lain, termasuk di Aceh dan di Papua, yang keseluruhannya akan mencapai 25 buah.

RS Siloam yang sedang dibangun di Palembang dicanangkan sebagai RS Siloam kedelapan. Tetapi tampaknya RS Siloam Palembang akan ‘dilangkahi’ oleh RS Siloam Makassar yang lebih dulu selesai meski dibangun belakangan.

RS Siloam Palembang yang semula disiapkan untuk menyambut momen SEA Games XXVI menghadapi kendala. Izinnya tersendat saat fondasi dan tiang-tiang pancang sudah tegak. Kehadiran RS Siloam belum sepenuhnya diterima masyarakat Palembang, terutama alim ulama. RS Siloam dituding membawa misi agama.

Boleh dibilang di luar Palembang, kehadiran RS Siloam diterima oleh semua lapisan masyarakat. Tidak ada penolakan yang membonceng alasan sensitif dari masyarakat. Menurut Danang Kemayan Jati, Humas Lippo Group, hal ini disebabkan tujuan RS Siloam yang tak lain untuk memberikan pelayanan kesehatan dengan standar internasional.

“Kami tidak menjual ideologi, tidak membawa misi agama. Tapi yang kami bawakan di sini bagaimana membuat orang sehat dengan layanan berstandar internasional,” kata Danang kepada rombongan wartawan yang datang ke RS Siloam Karawaci.

Danang menyambut rombongan wartawan bersama Dr dr Andry,MM,MHKes, Direktur Siloam Lippo Village Karawaci, Dr David Santoso, GM Corporate Medical Affair, Direktur Keperawatan Siti Komariah, Corporate PR Manager Heppi Nuafianto, dan Sharon Tjokrorahardjo Head of Marketing & Communication.

Selama dua jam dari pukul 11.00, mereka menjelaskan seputar RS Siloam, termasuk silang sengketa di Palembang. Dari auditorium lantai 11 para wartawan diajak keliling ke sejumlah ruangan.

Para dokter umum dan dokter spesialis di Siloam Hospital melayani berbagai keluhan dan penyakit. Ada bidang akupunktur, bedah anak, jantung, thorak, pembuluh darah, bedah plastik, bedah saraf, bedah saluran cerna, saluran kemih, ortopedi, tumor, dan bedah umum. Ada pula yang khusus menangani genetika, gigi, jantung dan pembuluh darah, jiwa, kebidanan dan kandungan. Untuk layanan paru-paru dan penyakit dalam juga disediakan puluhan dokter spesialis, termasuk saraf, psikologi, rehabilitasi medik, telinga, hidung, dan tenggorokan.

Dalam sebulan ada sekitar 1.300 pasien yang dirawat di RS Siloam Karawaci. Sekitar 1,5persen atau 15-20 pasien berasal dari Palembang. “Ini berdasarkan KTP pasien. Mungkin bisa lebih dari jumlah itu, bila pasien asal Palembang tidak menggunakan KTP asal, tapi menggunakan KTP Jakarta atau daerah lain padahal dia berasal dari Palembang,” kata Dr Andry.

Banyaknya pasien dari Palembang atau Sumatarea Selatan menjadi salah satu alasan bagi Lippo Group membangun RS Siloam di Palembang. “Alasan lainnya karena banyak warga Palembang yang berobat ke Singapura. Terlebih sebentar lagi akan ada SEA Games di Palembang. Kami berharap bisa membendung pergerakan masyarakat Palembang yang berobat ke luar negeri agar bisa menghemat devisa negara. Menurut catatan kami cukup banyak warga Palembang yang berobat ke Singapura, termasuk ke Malaysia,” sambung dr David.

Khusus pembangunan di Palembang, karena masyarakatnya dinilai update teknologi, akan dibangun tujuh lantai, dengan 200 bed. Rumah sakit tipe B ini menyediakan 30 persen layanan kelas 3. “Kami memberi layanan kepada semua segmen. Ada kamar kami yang harganya Rp75 ribu satu malam, tapi ada pula yang 2 jutaan. Kami berupaya menggapai semua segmen. Kelas terbagi menjadi kelas 1, 2, 3, dan VIP. Kami juga kerja sama dengan puskesmas dan akan memberlakukan jamkesmas. Kalau askes sudah lama kami layani, untuk semua jenis,” kata Dr Andry.

Komentar


Berita Terkait