Pendidikan

Mahasiswa Indonesia Berhasil Meraih Summa Cum Laude

coba

13.06.2010 01:20:45 WIB

Nasrullah Djasam, salah seorang mahasiswa Indonesia di Kerajaan Maroko berhasil mempertahankan disertasi doktoralnya yang berjudul “Pengaruh Agama-Agama dan Kepercayaan Lokal Terhadap Tradisi Islam di Indonesia” di Universitas Abdelmalek Essaadi, Tetouan pada hari Rabu 9 Juni 2010.

Dihadapan empat orang tim penguji yang terdiri dari: Prof. Dr. Abdullah Al Murabith At Tirghi (Ketua), Dr. Abdul Aziz Chahbar (Promotor), Dr. Taufiq Al Ghabzuri (Anggota) dan Dr. Abdul Latif Syahboun (Anggota), Sdr. Nasrullah berhasil mempertahankan disertasinya dengan mendapat nilai Summa Cum Laude. Sidang yang dilaksanakan di Auditorium Konferensi Fak. Adab dan Ilmu Humaniora berlangsung selama 3 jam (10.00-13.00) dan dihadiri langsung oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko Tosari Widjaja beserta istri, civitas akademika Universitas Abdelmalek Essaadi dan mahasiswa-mahasiswa Indonesia serta Maroko.

Dalam disertasi setebal 300 halaman yang ditulis dalam bahasa Arab dengan referensi hampir 70% berbahasa Indonesia, penulis mengemukakan bahwa Jauh sebelum Islam datang, agama Hindu dan Budha sudah lebih dulu eksis di Nusantara. Bahkan sebelum kedua agama tersebut masuk, telah ada bentuk keyakinan yang dianut oleh masyarakat Indonesia yaitu Animisme dan Dinamisme. Hanya saja dua keyakinan tersebut sulit untuk disebut sebagai agama karena bentuk kekuatan yang diyakini oleh penganutnya bukanlah kekuatan mutlak seperti yang terdapat pada sebuah agama.

Dalam perkembangannya kemudian, di samping agama Hindu dan Budha yang sudah ada di wilayah Nusantara, masuklah agama Islam ke wilayah Nusantara dengan cara penetration pacifique (jalan damai: melalui hubungan dagang, perkawinan, dan sebagainya), sehingga tidak muncul resistensi dari masyarakat yang sebelumnya sudah memeluk Hindu-Budha. Menurut mereka, ajaran Islam yang dibawa oleh para da'i pada prinsipnya sama dengan ajaran Hindu-Budha, yaitu sama-sama mengajarkan budi pekerti yang luhur dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Sehingga, ketika mereka berpindah agama, mereka tidak merasa pindah dari agama lama (Hindu-Budha) ke agama baru (Islam). Proses inilah yang kemudian dinamakan adhesi, yaitu proses pemindahan dari agama lama ke agama baru tanpa meninggalkan ajaran agama lama. Tradisi-tradisi Hindu-Budha yang sudah melekat pada masyarakat Indonesia tidak serta merta dihilangkan oleh para da'i, bahkan dijadikan sebagai media dakwah dengan mempertahankan “kulit luar”nya dan mengubah substansinya menjadi Islami. Tradisi-tradisi inilah yang dibahas dan dipaparkan dalam disertasi Nasrullah Jasam. Disertasi ini ingin membuktikan bahwa sebagai wilayah yang proses islamisasinya melalui jalan damai, Islam di Indonesia memiliki keistimawaan tersendiri yaitu ramah terhadap budaya lokal, sangat menghargai pemeluk agama lain dan tidak memandang mereka sebagai lawan yang harus dimusnahkan.

Dalam sidang disertasi tersebut, penulis juga memaparkan alasan pemilihan judul di atas untuk disertasi doktoralnya, antara lain: Menampilkan wajah Islam Indonesia kepada publik Maroko, mengingat Indonesia adalah negara Islam terbesar di dunia dari segi kuantitas. Karena setelah DR. Ahmad Syalabi, seorang pemikir Arab yang banyak menulis tentang Islam Indonesia, praktis tidak ada lagi pemikir Arab sekaliber beliau yang memiliki perhatian terhadap Islam di Indonesia. Untuk mengatasi kevakuman ini, cara yang paling efektif adalah mahasiswa-mahasiswa yang ada Timur Tengah menulis tesis atau disertasi mereka tentang Islam Indonesia agar hubungan pemikiran dan sosial budaya yang sudah berjalan berabad abad antara wilayah Timur Tengah hingga ke wilayah Barat Islam seperti Maroko ini dengan wilayah Nusantara tidak terputus. Alasan lainnya, sebagai wilayah yang proses islamisasinya melalui jalan damai, Islam di Indonesia memiliki keistimawaan tersendiri yaitu Islam yang ramah terhadap budaya dan tradisi lokal tanpa harus kehilangan kemurniannya.

Beberapa catatan penguji terhadap disertasi ini antara lain: Terdapat beberapa kesalahan dari segi bahasa baik sisi nahwiyah (gramatikal), uslubiyah (gaya bahasa) maupun tarkibiyah (susunan bahasa), meskipun para penguji sedikit memaklumi mengingat penulis bukan orang Arab. Catatan lainnya penulis dianggap kurang lengkap dalam menjelaskan sikapnya mengenai tradisi-tradisi tersebut dari sisi theologis. Namun, secara umum para penguji memberikan pujian dan apresiasi terhadap isi disertasi ini. Menurut mereka, untuk publik Maroko disertasi ini bisa memberikan informasi berharga mengenai karateristik Islam di Indonesia. Bahkan secara khusus diungkapkan oleh DR. Abdullah Al Murabith At Tirghi ketua sidang, melalui disertasi ini nampak jelas beberapa kesamaan tradisi Islam yang di praktekkan di Indonesia dan Maroko yang dapat menjadi bukti bahwa hubungan tali agama Islam dan kebudayaannya telah lama menyatukan dua negara yang masing-masing berada di kutub dunia yang berbeda, yaitu ujung Barat dan ujung Timur Islam.

Komentar


Berita Terkait