Lingkungan Hidup

Hanya Negara Maju yang Diuntungkan

coba

07.12.2009 19:14:04 WIB

Oleh FLORENCIA MARCELINA RAMADHONA

Biofuel merupakan energi bersih, yang dimaksud bersih adalah hasil dari pengelolaannya. Dimana hasilnya dinikmati oleh negara-negara besar, dan pengelolaannya dimana proses yang kotor dilakukan di negara berkembang seperti Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan Julian Juniadi, Majelis Petani Serikat Petani Indonesia (SPI), pada saat Fokus Group Discussion (FGD) tentang Sosialisasi Riset Biofuel Sumatra, Senin (7/12/2009) pukul 09.30 WIB, di Hotel Sahid Imara, Jalan Jendral Sudirman Palembang.

“Hal ini merupakan ketidakadilan iklim,” tegasnya. Karena banyak sumber daya alam Indonesia yang dianggap tidak begitu berpotensial, namun sangat membantu kita. Seperti rawa yang dianggap lahan marginal.

“Kebun rakyat yang dianggap kurang produktif juga telah meningkatkan pendapatan negara. Dibeberapa desa terbukti dapat meningkatkan pendapatan masyarakat,” katanya.

Sementara Tarech Rasyid, seorang akademisi, mengatakan dibutuhkan data pembanding antara setiap negara yang telah ada project Biofuel, dan kajian-kajian perbandingan biofuel yang dapat meyakinkan bahwa biofuel memang tidak bermanfaat banyak bagi Indonsia, malah hanya merugikan saja.

“Mungkin 10-20 tahun lagi kita akan merasakan dampaknya, karana tanaman sawit kita akan merasakan tanah yang kering. Bila lebih banyak mudoratnya, maka kenapa kita harus menerima project ini,” katanya.

Hal ini berdampak pada konflik sosial, lanjutnya, karena biofuel membutuhkan tanah yang besar, akhirnya tanah rakyatlah yang menjadi sasaran. Ini juga dapat mengakibatkan kemiskinan desa.

“Yang kita tahu kemiskinan dapat menyebabkan konflik sosial bahkan kerusuhan social,” tegasnya.
Hal ini, lanjut Tarech, adalah industri berbahaya, yang hanya menguntungka negara besar. Tidak ada transfer teknologi, ekonomi, pengetahuan, atau papun dari negara besar untuk negara berkembang.

Komentar


Berita Terkait