19.10.2009 21:22:41 WIB
Oleh A. LATIF
LAHIR, dewasa, serta beranak dan bercucu, di antara tumpukan tampa dan senek lidi, selain menikmati suara, rasa, dan aroma sungai Musi. Itulah hidup yang dijalani Duani selama 45 tahun di lorong Prajurit Nangyu, 3 Ulu, Palembang. Hidupnya jauh dari kata sejahtera.
“Sejak matahari terbit hingga tenggelam, aku nih sibuk buat tampa lidi ini bae. Tapi, hidup kami nih saro (susah, red) seperti inilah,” kata Duani yang kedua orangtuanya berasal dari Kelampayan, Kabupaten Ogan Ilir, yang ditemui Senin (19/10/2009).
Satu hal yang dimimpikan Duani, yakni dapat naik haji atau berhaji. “Kalau ado rezeki, aku nih ingin naik haji. Tapi, penghasilan yang ada saat ini hanya cukup buat makan,” kata bapak dari lima anak ini.
Dari membuat tampa dan senek, ini, Duani dalam satu hari mendapatkan penghasilan berkisar Rp25 ribu. “Itu pun kalau ada yang mesan. Kalau tidak ada yang mesan, ya, tidak dapat duit,” katanya.
Harga tampa dijual Rp5.000 per buah, dan senek Rp1.000 per buah.
“Tapi sebenarnya banyak peluang buat menjual keluar Palembang, tapi kita tidak punya modal buat membuatnya. Sebab mereka mesannya dalam jumlah banyak,” ujar Duani.
“Harapan kami nih, kalau bisa ada bantuan dari pemerintah. Berupa pinjaman tidak apa-apa. Asal tidak berbunga dan agunan,” harapnya.
Profesi membuat tampa dan senek di lorong Prajurit Nangyu, 3 Ulu, yang hanya beberapa meter dari sungai Musi, ini sudah berjalan selama ratusan tahun, jauh sebelum Duani maupun pengrajin lidi lainnya lahir.
