09.05.2011 13:26:40 WIB
Oleh Taufik Wijaya*)
SELAIN sebagai sumber kehidupan, saya percaya sungai Musi, sungai yang membelah bumi Sumatra Selatan, digunakan manusianya sebagai sumber ilmu pengetahuan. Bukan tidak mungkin mereka mengadopsi karakter atau perilaku sungai Musi, termasuk perilaku makhluk yang lebih dahulu hidup.
Buktinya, rupa hewan banyak diadopsi sebagai simbol karakter seperti ditemukan pada artefak-artefak prasejarah dalam tradisi megalitik Pasemah, atau dalam penyebutan sosok atau identitas, misalnya simbol harimau atau gajah.
Dan, menurut saya, transformasi karakter hewan atau binatang kepada manusia, sampai sekarang masih berlangsung, terutama makhluk hidup yang berada di sungai Musi, seperti ikan.
Beranjak dari itu, saya mencoba membaca manusia di Sumatra Selatan berdasarkan karakter ikan, terutama terkait soal cara makan. Tentunya pembacaan ini memiliki sejumlah kelemahan.
Dukungan lainnya, saya merasakan “kedekatan” manusia Sumatra Selatan dengan ikan, dilihat dari menu makanannya yang banyak menggunakan bahan baku ikan, seperti masakan pindang, pekasem, pempek, tekwan, brengkes, sale, dan lainnya.
Dalam beberapa hal, manusia Sumatra Selatan juga telah mengadopsi ikan sebagai sebuah simbol atau kiasan, misalnya "Juaro" buat orang yang jagoan yang licik, "kelakar Betok" untuk manusia yang sering bercerita yang tidak masuk diakal atau sudah kuno, atau "seluang" buat manusia yang hanya ikut-ikutan.
Cara Ikan Makan
IKAN Semah (Tor douronensis) yang hidup di sungai Musi bagian Ulu, tepatnya di sekitar gunung Dempo, merupakan ikan yang memiliki tubuh yang indah. Warna sisiknya yang putih atau merah keemasan, sangat enak dipandang. Mereka yang cenderung bertubuh besar ini, memang suka berkelompok, tapi dalam jumlah yang tidak besar. Ikan ini memakan apa saja.
Lalu, agak ke hilir, kita akan menemukan ikan purba nan buas seperti ikan gabus (Channa striata) dan ikan toman (Channa micropeltes). Ikan yang hidup di sungai, rawa, danau, sawah, hingga di parit-parit ini, memakan makhluk hidup apa saja, seperti serangga, ikan kecil, kodok, atau berudu.
Jadi, tak heran, ikan gabus dan ikan toman menjadi hama bagi komunitas ikan air tawar lainnya. Bahkan gabus atau toman yang telah berukuran besar, dapat mencapai panjang sekitar 1-2 meter, juga berbahaya bagi manusia. Dalam sejumlah kasus, ditemukan ada tangan atau kaki manusia pernah digigit toman atau gabus.
Hebatnya, mereka mampu hidup beberapa menit di darat, tanpa membutuhkan air. Mereka memiliki organ labirin, yang mampu mengambil udara secara langsung. Pada musim kemarau, mereka mampu hidup berbulan-bulan atau bahkan bertahun dengan cara berendam di dalam lumpur.
Sama seperti ikan gabus dan ikan toman adalah ikan betok (Anabas testudineus). Bedanya, ikan ini memiliki ukuran yang lebih kecil, maksimal panjangnya 25 centimeter, lalu mereka pun hidup di pinggiran sungai Musi atau anaknya, seperti di rawa-rawa, kolam atau parit. Betok juga mampu bertahan hidup di darat untuk sekian lama. Bahkan, kecepatan berjalan di darat lebih cepat dari gabus atau toman. Insangnya yang digerakan dengan dimekarkan seperti menjadi "kaki depan" betok saat bergerak.
Kian ke hilir, tepatnya pada sungai Musi yang melintasi kota Palembang, kita akan menemukan gerombolan ikan juaro (Pengasius). Meskipun ikan ini juga ditemukan di sejumlah daerah agak ke hulu dari sungai Musi. Ikan yang masuk ordo Osthariophysi, seperti ikan baung, termasuk ikan yang paling rakus. Selain memakan ikan kecil, serangga, ikan ini juga memakan kotoran manusia dan buntang. Jadi, dapat dikatakan ikan juaro selalu hadir di sekitar manusia.
Selain jenis ikan di atas, cara makan yang menarik dari ikan yang hidup di sungai Musi atau perairan yang airnya berasal dari sungai itu adalah ikan seluang bada (Rasbora daniconius) dan ikan sepat (Trichogaster pectoralis). Ikan ini suka bergerombol dan mereka juga memakan apa saja, meskipun tidak sebuas atau serakus ikan gabus, toman, semah, juaro, atau betok.
CARA makan ikan-ikan air tawar yang hidup di sungai Musi, atau yang berada di perairan yang dialiri sungai Musi, di atas, kita tranformasi kepada karakter manusia, kita akan menemukan manusia seperti ikan semah, ikan gabus, ikan toman, ikan betok, ikan seluang, atau ikan sepat. Karakter ini lebih ditekankan pada caranya mencari makan atau profesinya dalam kehidupan sehari-hari.
Manusia yang berpenampilan menarik, anggun, memesona banyak orang, dan suka pamer, tapi dapat memakan apa saja, sehingga membuat kita terkejut terhadap kontradiksi antara penampilan dengan apa yang dimakannya, dapat dibaratkan ikan semah. Kelemahan manusia ini, mereka gampang ditaklukkan, lantaran tidak jagoan, atau hanya mengandalkan daya tarik fisiknya.
Lalu, manusia yang suka menunjukkan dirinya jagoan, memakan apa saja. Kian besar kian rakus dan jagoan, serta tidak peduli dengan penampilan dirinya, dan lingkungannya, dapat diibaratkan ikan gabus atau ikan toman. Manusia seperti ini tidak membutuhkan komunitas, tapi mereka membutuhkan pengakuan bahwa mereka harus ditakuti. Manusia seperti ini sulit ditaklukkan. Mereka dapat hidup meskipun lingkungan yang didiaminya dalam kondisi sulit.
Manusia yang rakus, hidup dalam kondisi apa pun, ganas jika diganggu, tapi tidak mau menunjukkan dirinya kepada banyak orang, dapat diibaratkan seperti ikan betok. Manusia jenis ini pun tidak peduli dengan penampilan diri maupun lingkungan tempat hidupnya.
Kemudian, manusia yang senang bergerombol, tambeng, makan secara bersama, serta memakan apa saja, termasuk jenis ikan juaro. Manusia jenis ini sulit sekali dimusnahkan, sebab meskipun tidak jagoan, manusia ini mampu mereproduksi dirinya sedemikian rupa. Mereka pun tahan terhadap segala jenis arus, suara, limbah atau racun perkotaan. Sementara komunitas yang jauh lebih lemah dari juaro, yakni manusia seperti ikan seluang. Apapun jenis makanan yang diberikan akan diburu komunitas ini, meskipun itu hanya segumpal air ludah. Tapi, ada komunitas seperti ini yang tidak mau berani tampil di muka umum, atau hanya bermain di pinggiran. Mereka ini mungkin termasuk jenis ikan sepat.
Tidak Bermoral
JADI, dapat disimpulkan karakter manusia yang meniru cara makan ikan yang hidup dari air sungai Musi, secara moral tidak dapat dibanggakan. Selain memalukan, juga menjadi parasit, mengancam keberadaan manusia lainnya. Pertanyaannya, apakah manusia yang hidup di Sumatra Selatan semuanya meniru cara makan ikan yang hidup di sekitar dirinya, atau sebaliknya ikan-ikan itu meniru cara makan manusia yang hidup di sekitar dirinya? Tidak gampang menjawabnya, sebab belum ada satu pun penelitian mendalam mengenai cara makan ikan dengan cara makan manusia dalam lingkungan yang sama.
Meskipun begitu, saya membaca fenomena manusia transisi di Sumatra Selatan memiliki kesamaan dengan ikan yang hidup di sungai Musi, setidaknya dalam cara makannya. Karakter yang paling menonjol yakni tidak atau malas berbagi dengan orang lain. Kecenderungan yang ada, yakni menikmati apa yang didapat secara individu, meskipun makanan itu didapat secara bersama seperti halnya ikan juaro, seluang, atau sepat. Bahkan, tidak akan berhenti sebelum makanan itu habis dilahap.
Dari yang berpenampilan yang menarik maupun berpenampilan buruk, dari yang jagoan maupun yang penakut, semuanya memburu makanan, dan demi kepentingan pribadi. Tidak peduli makanan itu halal maupun tidak halal. Bahkan, tidak jarang mereka pun akan memakan kawan atau anak-anaknya, seperti yang dilakukan ikan gabus dan ikan toman.
Yang mengejutkan, semua jenis ikan di atas, diakui sangat enak buat disantap. Bahkan, ikan juaro yang suka makan kotoran manusia atau buntang itu, dipercaya rasanya paling enak di antara ikan-ikan lainnya. Hanya, yang harus diperhatikan yakni cara menangkap atau menyiangnya. Ini tentu berbeda dengan cara menangkap ikan mas atau ikan mujair, yang banyak hidup di luar Sumatra Selatan.
Maka, tidaklah heran, seganas dan serakus apa pun manusia di Sumatra Selatan, sejak dahulu gampang ditaklukan para pendatang, yang tentunya telah mengerti karakter mereka. Umumnya dengan cara diracuni, ditipu, atau dengan kelembutan. Jarang sekali manusia di Sumatra Selatan ditaklukan dengan cara-cara kekerasan. Ini terbukti dengan kuatnya pengaruh ajaran Budha dan Islam di Sumatra Selatan. Mereka masuk dengan cara yang lembut, menyejutkan, sehingga manusia di Sumatra Selatan menerima dua ajaran tersebut. Ini berbeda dengan kekuatan Hindu, yang cenderung datang dengan kekerasan, sehingga mereka tidak mampu bertahan lama di Sumatra Selatan.
Cara ini pula yang dilakukan VOC dan kolonial Belanda. Setelah letih dengan cara-cara kekerasan, mereka pun menawarkan konsep damai atau bahkan menampilkan karakter orang baik, buat menguasai manusia di Sumatra Selatan. Hanya dengan memberi gaji, pangkat, atau gaya hidup ala Eropa, manusia di Sumatra Selatan rela simbol kekuasaan mereka sebelumnya dibubarkan atau dihilangkan.
Menyukai Kebebasan
SAYA percaya manusia di Sumatra Selatan akan menerima sistem liberal. Bebas. Sebab dengan jaminan kebebasan seperti itu, setiap manusia Sumatra Selatan menunjukkan kekuatan dirinya.
Ibarat tiap komunitas ikan memiliki kebebasan untuk hidup dan wilayahnya seperti yang berlangsung saat ini. Mereka dengan senang hati berkompetisi mendapatkan makanan dengan cara apa pun. Mulai dari menggunakan akal sehat, hingga menggunakan kekerasan atau hal-hal yang magis. Cara berkompetisi ini pun beragam, dari yang berjuang sendiri-sendiri hingga yang berkelompok.
Jadi, jika hari ini manusia Sumatra Selatan dikirim ke Amerika Serikat, mereka akan cepat beradaptasi. Mereka mampu menjadi cowboy yang kejam, asal mereka mendapat kepastian soal makanan atau kehidupan yang makmur. Begitupun sebaliknya. Mereka dapat memerankan orang baik, jika langkah itu memberi jaminan makanan dan tempat tinggal yang layak. Tidak penting cara dalam berkompetisi, yang penting ada jaminan mengenai makanan.
Dengan karakter ini, kekuatan kapitalis memiliki peluang buat menaklukan manusia Sumatra Selatan. Sebab kekuatan kapitalis sangat mengagungkan kebebasan, memiliki kemampuan bermain lembut, dan jago menerapkan strategi. Apalagi, kaum kapitalis paling pintar menjanjikan makanan enak atau gaya hidup yang enak.
Persoalannya, dengan cara ini sejumlah manusia Sumatra Selatan akan hilang. Mereka yang tidak memiliki kecerdasan, kelicikan, atau kekuatan fisik, saya pikir akan tersingkir. Bahkan, bukan tidak mungkin liberalisasi ini mendorong manusia Sumatra Selatan melakukan ekspansi ke daerah lain, seandainya persediaan makanan di Sumatra Selatan habis atau menipis.
Bagi mereka yang ingin mengembalikan kejayaan kerajaan Sriwijaya, sistem liberal merupakan pintu yang paling tepat dan ideal. Sebab dengan cara kebebasan ala purba, Sriwijaya mampu menjadi besar dan kuat di Nusantara.
SISTEM yang mungkin paling tidak disukai manusia Sumatra Selatan adalah fasisme. Ini terbukti ketika Soeharto memimpin Indonesia selama 32 tahun lalu. Meskipun Soeharto telah mengangkat banyak wong Sumsel sebagai kaki tangannya, tapi tetap saja penolakan muncul dan lahir.
Puncaknya, ketika Soeharto jatuh, jutaan manusia Sumatra Selatan memilih kekuatan politik yang menentang Soeharto. Bahkan, sejumlah manusia yang sebelumnya dienakkan Soeharto justru berada di depan buat melawan Soeharto.
Fasisme Soeharto dibenci lantaran manusia Sumatra Selatan diatur sedemikian ketat, tapi mereka tidak mendapatkan penghargaan, jatah makanan yang minim, serta selalu mendapatkan kekerasan bukan kelembutan.
TAPI, bukankah di masa lalu manusia Sumatra Selatan pernah dikuasai kerajaan? Benar. Namun, yang harus dicatat, kerajaan yang pernah berkuasa di Sumatra Selatan tidak pernah memerankan fasisme. Bahkan, Kesultanan Palembang Darussalam tidak memiliki tentara. Para raja atau sultan, memimpin dengan cara membagi tiap komunitas dengan kedudukan dan fungsi, yang kemudian menjadi strata sosial. Mereka mengerti, yang mana berwatak gabus, toman, seluang, atau juaro. Tiap komunitas itu diberi pangkat, uang, makanan, serta kesenangan duniawi seperti istri bagi para pemimpin tiap komunitas.
Cara ini yang akhirnya ditiru VOC dan Belanda, saat berkuasa di Sumatra Selatan. Jadi, tidak heran, bila sebagian masyarakat Palembang berujar, "Hidup lebih enak dijajah Belanda dibandingkan merdeka."
Tepatnya, manusia Sumatra Selatan tidak keberatan dirinya dipimpin oleh seorang raja, dari bangsa atau suku apa pun, asal raja tersebut mampu mensejahterahkan dan menyenangkan hidup mereka. Namun, seandainya raja itu tidak mampu memerankan manusia baik, mereka akan melakukan perlawanan, baik secara terbuka maupun tertutup. Seperti perlawanan Parameswara terhadap raja yang tidak berpihak pada rakyat, dengan cara membawa semua keluarga dan pendukungnya ke Tumasik.
DARI gambaran di atas, saya menyimpulkan bahwa manusia Sumatra Selatan, seperti halnya karakter-karakter ikan di sungai Musi, hanya membutuhkan kebebasan yang fairness, serta pemimpin atau system yang mampu membuat mereka sejahtera dan bahagia. Mungkin, ini sama seperti keinginan semua manusia di muka Bumi ini. Hanya, manusia Sumatra Selatan lebih terbuka dalam memandang sosok identitas kebangsaan seorang pemimpin. Bahkan, bukan hal yang mustahil manusia Sumatra Selatan menerima seorang pemimpin yang berasal dari Amerika Serikat, asal dia mampu mewujudkan kesejahteraan, kebahagiaan, dan kebebasan. Seperti halnya, pada masa lalu, pernah menerima keturunan Syailendra dari Jawa buat memimpin kerajaan Sriwijaya. Selanjutnya menerima Cheng Ho dari Tiongkok buat menitipkan keluarganya dalam penyebaran Islam di Nusantara, sebab Tiongkok menjamin keamanan dan ekonomi manusia Sumatra Selatan.
Tetapi, jahatnya, jika pemimpin dari suku-bangsa tertentu telah berbuat jahat, atau membuat kesengsaraan, manusia Sumatra Selatan selamanya menjadikan mereka musuh. Jika tidak mampu melawan di dalam, mereka akan keluar Sumatra Selatan buat menyusun kekuatan. Perlawanan seperti ini, pada rezim Orde Lama dan Orde Baru, banyak dilakukan para pekerja seni atau intelektual di Sumatra Selatan.
Menata Ulang
MENGHADAPI realitas manusia Sumatra Selatan hari ini, menurut saya, ada beberapa cara buat mengoptimalkan manusia Sumatra Selatan menjadi sesuatu yang berguna bagi Indonesia, yang harus dilakukan pemimpinnya:
Pertama, menempatkan kemampuan dan pengetahuan manusia Sumatra Selatan sesuai fungsinya. Langkah ini dapat dilakukan dengan cara pendataan atau report terhadap tiap komunitas maupun actor menonjol dari tiap komunitas.
Kedua, memenuhi kebutuhan dasar tiap manusia Sumatra Selatan. Minimal akses atas kebutuhan dasar ini memiliki unsur keadilan dan pemerataan. Misalnya masyarakat yang berada di pesisir Timur Sumatra Selatan membeli satu kilogram minyak sayur, harganya sama seperti yang dibeli warga Palembang.
Ketiga, jangan segan-segan memberi penghargaan terhadap komunitas maupun individu yang menonjol atau berprestasi. Tetapi, penghargaan ini jangan bersifat diskriminatif, atau harus bersifat fairness. Penghargaan juga harus diberikan terhadap keyakinan atau kepercayaan mereka. Sejauh perbedaan yang mereka pilih, tidak bersifat progresif atau menyerang keyakinan atau kepercayaan yang lain.
Keempat, para pemimpin jangan bersikap sombong atau merendahkan identitas manusia Sumatra Selatan yang dipimpinnya. Juru masak hargailah masakan yang dibuatnya, tukang kebun pujilah taman yang dibuatnya, seniman hargailah karyanya, orangtua hargailah pengalamannya.
Kelima, seorang pemimpin tidak boleh kikir. Dia harus mampu bersedekah. Tapi, jangan pula setelah bersedekah, apa yang telah diberikan kemudian "dibangkelkan" atau diungkitkan.
DARI lima tindakan di atas, saya menilai selain kekuatan kapitalis, adalah ajaran Islam yang memiliki peluang menguasai manusia Sumatra Selatan. Kapitalis memiliki peluang lantaran mereka memiliki kekuatan pada alat produksi, akses international, dan kelompok pendukung, sementara Islam memiliki sistem nilai yang ideal, akses international, dan kelompok pendukung. Kini, persoalannya, tinggal keduanya bersaing untuk memberikan jaminan kemakmuran, kesejahteraan, kebebasan, kedamaian, seperti yang dicitakan Pancasila dan UUD 1945.
Teror Antu Banyu
TETAPI, siapa pun yang berkuasa atas manusia Sumatra Selatan, mereka harus berhadapan dengan teroris. Lo? Sejak beradab lalu, manusia Sumatra Selatan selalu diteror Antu Banyu atau yang berarti "Hantu Air" yang hidup di sungai Musi.
Cara kekerasan maupun kelembutan terbukti tidak mampu menaklukan atau menghancurkan Antu Banyu. Mereka terus mengincar manusia, tidak peduli anak-anak, orang dewasa, perempuan maupun laki-laki, kaya atau miskin, pribumi atau bule, penjahat atau orang baik, buat disantap dengan cara mengisap darahnya melalui umbun-umbun di kepala.
Jadi, kalau Antu Banyu diibaratkan manusia, dia merupakan sosok yang dikenal misterius, sadis, kejam, dan sulit ditaklukan atau ditangkap. Mereka juga tidak suka menonjolkan dirinya. Tertutup. Dan, selalu muncul sendirian. Tidak bergerombol atau berkelompok seperti ikan-ikan di sungai Musi.
Sosok manusia seperti Antu Banyu ini, yang saya sebut sebagai teroris. Kaum agamis menyatakan Antu Banyu merupakan sosok jin yang jahat, atau manusia setengah syetan. Sementara kelompok positivisme menyebutnya sebagai binatang purba, yang sangat ganas dan liar. Sayang, sampai sekarang sosok Antu Banyu tidak dapat dimusnahkan atau ditangkap, dikurung, sehingga kita mampu melihat dan mempelajari sosok fisiknya.
Harapan saya, suatu saat manusia sejenis Antu Banyu ini dapat dimusnahkan, atau setidaknya mereka tidak menjadi pemimpin Sumatra Selatan. [*] Penulis adalah pekerja seni dan jurnalis.
Foto: kotasungaipenuh.co.cc
