08.04.2011 23:13:28 WIB
Oleh Dedy Pranata
MATINYA ribuan ikan di Danau Ranau, yang berada di provinsi Sumatra Selatan, Bengkulu, dan Lampung, menarik perhatian Staf Khusus Presiden Bidang Sosial dan Bencana. Peristiwa tersebut, dapat saja menandakan sesuatu yang tidak biasa.
“Segmen di situ (Danau Ranau, red) sudah tidur sejak tahun 1933, saat gempa bumi dengan kekuatan 7,5 SR. Belerang di Danau Ranau mungkin keluar dari Patahan Sumatra,” kata Dr Danny Hilman, anggota tim ahli Staf Khusus Presiden Bidang Sosial dan Bencana, Jumat (08/04/2011).
Dijelaskan Danny, Danau Ranau memang dilalui Patahan Sumatra, yang dalam beberapa tahun terakhir ini kembali menunjukkan reaksinya berupa gempa di sejumlah daerah di Sumatra.
Sementara menurut Andi Arief, Staf Khusus Presiden Bidang Sosial dan Bencana, terhadap kondisi Danau Ranau tersebut, pihaknya akan melakukan penelitian lebih lanjut. “Saat ini tak ada salahnya kita waspada. Terhadap bencana, kita lebih baik merasa ditipu alam daripada alam benar-benar memberikan bencana bagi kita, tanpa memberikan sinyalnya,.” katanya.
Tim ahli yang akan melakukan penelitian di Danau Ranau dan Gunung Dempo, yakni tim yang selama ini melakukan penelitian terhadap gempa bumi dan gunung berapi di Patahan Sumatra, antara lain Dr. Danny Hilman (Pakar Gempa dari LIPI), Dr. Wahyu Triyoso (ahli Gempa dari ITB), Dr. Andang Bachtiar (Penasehat Geologi/Penasehat IAGI).
