19.01.2012 17:48:05 WIB
Oleh Sujoy Dhar
KOLKATA, INDIA (IPS) – DI bagian timur kota Kolkata, seorang turis yang baru saja kembali dari liburannya di pulau Andaman, India, pekan lalu berperilaku pongah dengan melemparkan pisang ke anggota suku Jarawa dan diam-diam memotret saat mobilnya melintasi hutan.
Ini terjadi setelah sebuah kelompok suratkabar London mengunggah sebuah video perempuan dari 403 anggota suku yang terancam punah itu, telanjang setinggi pinggang, menari di depan para turis atas perintah penyedia tur. Para turis berkata itu hal biasa di wilayah Jarawa di Andaman Trunk Road untuk mengambil gambar dan meminta mereka menari.
Ini adalah atraksi yang ditawarkan penyedia tur di Kepulauan Andaman di Teluk Benggala. Banyak turis pulang membawa kenang-kenangan berupa gambar dan video suku Jarawa.
“Kadang ada protes ringan dari supir lokal. Tapi mereka menari di depan turis, yang melemparkan makanan ke mereka dari mobil,” kata Rajkumar, nama disamarkan, seorang turis dari Kolkata.
Andaman merupakan rumah bagi suku-suku primitif seperti Onge, Sentinelese, Jarawa, Great Andamanese, Shompen, dan Nicobarese. Jarawa adalah suku yang paling terancam.
Menurut sebuah lembaga nirlaba Survival International, sebelum terancam punah akibat polisi yang korup dan penyelanggara tur, nenek moyang Jarawa dan suku lain dari Kepulauan Andaman diyakini merupakan bagian dari migrasi manusia pertama yang berhasil keluar dari Afrika.
Jarawa berburu dengan busur dan panah, serta mengumpulkan biji-bijian, buah, dan madu. Mereka hidup nomaden dan hidup berkelompok antara 40 hingga 50 orang. Sekitar 1998 beberapa anggota Jarawa mulai meninggalkan hutan menuju kota dan perkampungan terdekat untuk kali pertama.
Mereka mengatakan ancaman utama terhadap Jarawa berasal dari perambahan tanah mereka untuk pembangunan jalan raya, Andaman Trunk Road (ATR), menerabas hutan mereka pada 1970-an. Hal itu membuat mereka terancam penyakit dan pemburu gelap.
Video kontroversial di situs The Observer dan The Guardian diperoleh wartawan Inggris Gethin Chamberlain. “Video itu beredar di antara penyedia tur. Saya yakin itu direkam dalam beberapa tahun terakhir, meski kita tak tahu kapan persisnya,” katanya kepada IPS.
Cerita video itu memicu amarah nasional dan mengundang serangan dari aktivis dan antropolog, sementara pemerintah berjanji melakukan penyelidikan dan tindakan.
“Ini benar-benar tercela dan memalukan. Saya datang ke sana untuk mengecek situasinya dari sumber pertama,” kata Menteri Urusan Suku India V. Kishore Chandra Deo kepada IPS dari New Delhi.
Para aktivis hak-hak suku asli mengecam otoritas Andaman dengan upaya membuat video pada 2002 meski datanya diklaim tak wajar.
“Suku ini sangat terancam dan setidaknya beberapa orang harus didakwa atas penghinaan terhadap pengadilan karena ART diperintahkan ditutup bagi turis oleh Mahkamah Agung India pada 2002,” kata Prof Shekhar Singh, yang ditugaskan sepuluh tahun lalu oleh pengadilan sebagai kepala komisi satu-satunya untuk merekomendasikan langkah-langkah melindungi suku.
“Semua dari 430 anggota suku Jarawa tak tinggal di pinggir jalan. Sekitar 20 sampai 30 orang berpencar. Tapi mereka gampang terjangkit penyakit dari kita. Maka jalan harus ditutup,” kata Singh kepada IPS.
“Ada sekitar 46 rekomendasi dari kami, termasuk penutupan ATR, tapi sangat sulit dilakukan. Mereka terpapar penyakit seperti cacar air, dan mereka harus punya akses layanan kesehatan ketimbang disuruh melakukan seperti binatang di hadapan turis.”
Singh berkata pentingnya mengetahui bahasa mereka dan kemudian menawarkan pilihan tentang kesejahteraan mereka. “Mereka harus memiliki pilihan daripada kita memaksakan diri kita. Seorang ibu suku Jarawa harus memutuskan apakah anaknya akan diobati dengan jamu atau dibawa ke rumahsakit modern.”
Menurut Survival Internasional, “Jalan raya membawa para pemukim, pemburu, dan pembalak ke jantung tanah mereka. Perambahan ini berisiko membawa penyakit terhadap suku Jarawa, yang tak punya kekebalan tubuh, dan menciptakan ketergantungan dari pihak luar. Pemburu mencuri anggota suku Jawara yang mahir berburu, dan ada laporan eksploitasi seksual terhadap perempuan suku Jarawa.”
Menurut Samir Acharya dari Perhimpunan Ekologi Andaman dan Nicobar (SANE), jalan raya kontroversial itu sebetulnya bukan jalur utama bagi para petani untuk mengangkut hasil bumi mereka seperti diklaim pihak otoritas.
“Jalan raya itu lebih utama dipakai para turis dan pejabat pemerintah. Para petani menggunakan perahu dan lebih suka jalur sungai,” kata Acharya, yang tinggal di Port Blair, ibukota kepulauan Andaman dan Nicobar.
“Sulit menjauhkan turis dari suku itu jika jalan dibuka. Maka lebih baik menutup jalan itu bagi turis, menghormati keputusan Mahkamah Agung 2002.”
Para aktivis berkata telah terjadi serangan gencar terhadap gaya hidup suku Jarawa, dan masyarakat umum getol memaksa mereka mengubah cara hidup mereka.
“Mereka tinggal di sini selama lebih dari 60.000 tahun dan kita melihat melalui penyelidikan bahwa seorang Jarawa rata-rata lebih bugar dari seorang polisi. Metabolisme seorang Jarawa berbeda dari kita dan tubuh mereka dipakai untuk kehidupan yang kasar, serangan dari dunia kita yang membahayakan mereka.”
Dia berkata Jarawa makin terpapar malaria dan penyakit lain akibat kontak dengan orang biasa. ”Kita membuat mereka memakai baju tapi belum mampu mengajari mereka bahwa baju tersebut seharusnya dicuci. Kita merampok pengetahuan tradisional mereka tapi tak tahu sama sekali bagaimana berurusan dengan mereka. Kita lebih baik membiarkan mereka berada di wilayah 700 kilomter persegi dari kita.”*
Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik
