Internasional

Aksi Asia untuk Lindungi Harimau

coba

26.11.2010 18:35:13 WIB

Oleh Stanislaus Jude Chan

BANGKOK (IPS) – IA adalah hewan nasional di beberapa negara Asia. Namanya dipinjam untuk berbagai merek seperti maskapai penerbangan hingga minuman beralkohol, dan fitur-fitur terkenal dalam mitologi Asia, termasuk zodiak China. Tapi jika tak ada perubahan dramatis, ujar para konservasionis, harimau bisa punah sebelum Tahun Harimau (dalam shio China) 2022.

Secara khusus, Asia perlu menghentikan pasar gelap di Burma, Thailand, dan bagian perbatasan China, yang memainkan peran penting dalam memudahkan perdagangan gelap harimau dan spesies langka lainnya, ujar kelompok-kelompok perlindungan satwa liar.

Mereka mengangkat keprihatinan ini dalam International Tiger Forum –pertemuan politik tingkat tinggi yang membahas satu spesies– di St Petersburg, Rusia, pada 21-24 November.

"Perdagangan ilegal adalah ancaman paling nyata dan mengerikan bagi kelangsungan hidup harimau. Selain itu, menempatkan seluruh kucing besar di Asia dalam risiko serius," kata William Schaedla, direktur TRAFFIC kawasan Asia Tenggara.

"Aturan hukum mengenai satwa liar di Myanmar (atau Burma) dan Thailand jelas melarang perdagangan harimau dan kucing besar lainnya. Kami mendesak pemerintah untuk menjatuhkan hukuman berat bagi para pelakunya," tambahnya.

Bekerjasama dengan Greater Mekong Programme di World Wildlife Fund (WWF), TRAFFIC- Asia Tenggara meluncurkan laporan berjudul “The Big Cat Trade in Myanmar and Thailand” di sini pada 19 November. Isinya mendokumentasikan penjualan pasar gelap atas berbagai bagian tubuh dari sekira 400 kucing besar liar selama hampir satu dekade penyelidikan di Burma dan Thailand.

Laporan itu disertai sebuah video dokumenter, Closing a Deadly Gateway, yang berisi wawancara dengan para pemburu gelap dan potongan mengerikan dari harimau-harimau yang dijagal.

"Dengan sedikitnya 3.200 harimau liar di seluruh dunia, perdagangan skala besar yang masih berlangsung dan terdokumentasi dalam laporan ini tak bisa dianggap enteng," kata Schaedla. ??

Menurut studi TRAFFIC, pasar-pasar provinsi dan outlet-outlet ritel di kota Mong La di Burma, dekat dengan perbatasan China dan Tachilek, di perbatasan Thailand, memainkan peranan penting dalam distribusi skala besar atas bagian-bagian tubuh kucing besar itu, termasuk kulit, tulang, cakar, penis, dan gigi. ??

Ironisnya, kegagahan harimau yang legendaris menggiringnya pada kematian yang cepat. Dari konsumsi tradisional sebagai "obat tradisional”, kata Schaedla, saat ini perdagangan harimau "lebih didorong oleh kemakmuran, uang baru di Asia, dan orang-orang mengambil hal-hal ini sebagai bagian dari mode atau semacam aktivitas trendi." ??

"Ada kebutuhan mendesak untuk meningkatkan upaya-upaya jika kawasan ini hendak menyelamatkan penurunan populasi harimau. Kita perlu meningkatkan pengumpulan informasi serta memastikan lembaga-lembaga pemerintah dan nonpemerintah berbagi informasi secara transparan dan tepat waktu, dari tingkat lokal hingga skala regional, "kata Dr Peter Cutter, koordinator Greater Mekong Region di WWF, lembaga konservasi harimau di Thailand. ??

Populasi harimau di wilayah Mekong –termasuk bagian barat-daya China, Kamboja, Laos, Burma, Thailand, dan Vietnam– menurun drastis dari sekira 1.200 selama Tahun Harimau terakhir pada 1998 menjadi sekira 350 saat ini. ??

"Sebagai peringatan, bentangan alam antara Myanmar dan Thailand menjadi harapan terbesar bagi pemulihan populasi harimau di kawasan ini," kata Cutter. "Tapi ini hanya bisa terjadi jika ada upaya regional yang terkoordinasi dan belum pernah terjadi sebelumnya untuk mengatasi perdagangan satwa liar ilegal." ??

"Sebagai bagian penting dari penyelamatan harimau liar, perdagangan ilegal organ-organ tubuh harimau harus ditutup," kata Michael Baltzer, kepala Tigers Alive Initiative di WWF'. Dengan semua negara sebaran harimau menghadiri International Tiger Forum yang "penuh terobosan" di Rusia, ujar Baltzer, "perdagangan ilegal seperti ini tetap menjadi pusat negosiasi." ??

Temuan yang diluncurkan baru-baru ini menyingkap titik-titik perdagangan ilegal harimau dan satwa liar lainnya yang menjamur di seluruh Burma, sekalipun ada hukum nasional dan internasional. Mayoritas perdagangan ini terjadi di daerah-daerah di luar kontrol pemerintah antara utara Burma dan selatan China, yang membuatnya sulit untuk mengambil tindakan penegakan hukum yang efektif. ??

Untuk mengakhirinya, International Tiger Forum berharap dapat menggalang dukungan untuk melipatgandakan jumlah harimau di alam liar pada 2022, membentuk sebuah konsorsium internasional untuk memerangi kejahatan terhadap satwa liar, dan menagih janji untuk memperketat perlindungan oleh 13 negara sebaran harimau –India, Indonesia, Bangladesh, Nepal, Rusia, Bhutan, China, Kamboja, Laos, Vietnam, Burma, Thailand, dan Malaysia.

"Birokrat bisa membuat perbedaan, seorang pejabat senior baik di kabupaten dapat membuat perbedaan, direktur kebunraya yang sangat baik (dan) tahu apa yang harus dilakukan dapat membuat perbedaan besar," kata konservasionis harimau Valmik Thapar dalam video dokumenter Closing the Deadly Gateway. Tapi, Thapar menambahkan, "Ke mana mereka? Mengapa mereka begitu sedikit dan saling jauh? Kita semua menunggu." ??

"Kita tak sedang berilusi bahwa kita akan benar-benar memberantas ini (perburuan dan penyelundupan harimau), tapi kita perlu menganggunya. Dan dengan menangkap pemain-pemain besar kita mengganggunya," kata Schaedla. ??

Di Malaysia, misalnya, ujar Schaedla, ada sedikitnya dua pedagang satwa liar yang besar selain Anson Wong, yang pada bulan September dijatuhi hukuman penjara selama enam bulan dan didenda 61.300 dolar AS karena mengekspor secara ilegal 95 ular boa. Pada bulan Oktober, pihak berwenang Malaysia juga menyita dua harimau Bengal yang dimiliki oleh Wong dari peternakan pribadinya di Penang. ??

Karena perburuan, perdagangan gelap, dan pelanggaran batas tanah untuk membuat jalan bagi pembangunan perkotaan, tiga dari sembilan subspesies harimau –Bali, Jawa, dan harimau Caspian– punah selama abad ke-20. Harimau China Selatan, spesies induk dari seluruh subspesies harimau, secara fungsional punah di alam liar.*



Translated by Imam Shofwan?
Edited by Budi Setiyono?
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS

Foto: centralasia.foreignpolicyblogs.com

Komentar


Berita Terkait