Budaya

"Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh"

coba

04.05.2010 17:21:06 WIB

DRAMA “Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh” merupakan versi baru dari drama “Nyai Ontosoroh” yang diadaptasi oleh Faiza Mardzoeki dari novel "Bumi Manusia" karya Pramoedya Ananta Toer. Nyai Ontosoroh versi panjang (dengan durasi 3 jam) telah dipentaskan 9 kali oleh 9 sutradara di 9 wilayah di Indonesia pada tahun 2007.

Dari 9 kali pertunjukan, satu di antaranya dipentaskan selama 3 malam di Jakarta, ditonton oleh sekitar 3000 orang dan mendapatkan perhatian besar dari berbagai media, dengan sutradara Wawan Sofwan.

November 2008, Faiza Mardzoeki melakukan perjalanan ke Belanda. Di sela-sela kegiatannya pada saat itu, ia mempromosikan kerjasama dengan berbagai institusi kebudayaan di Belanda untuk menggelar pertunjukan teater Nyai Ontosoroh dengan membawa misi dialog peradaban antar dua bangsa yang pernah terkait sangat erat pada masa kolonial hingga saat ini. Cerita Nyai Ontosoroh mengandung kisah hubungan kedua bangsa, Belanda dan Indonesia. Dari hasil perjalanannya itu, Tropentheater Amsterdam, salah satu institusi yang ia kunjungi tertarik dan bersedia bekerjasama untuk membawa teater Nyai Ontosoroh pentas di Belanda dan Belgia.

Setelah pulang, Faiza Mardzoeki dan Institut Ungu kembali mengajak Wawan Sofwan, untuk mempersiapkan proyek teater Nyai Ontosoroh dan memutuskan membuat versi baru dengan judul ”Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh” berdurasi satu setengah jam, naskah digarap oleh Faiza Mardzoeki, yang juga bertindak sekaligus sebagai produsernya dan Wawan Sofwan sebagai sutradara.

Wawan Sofwan menggarap “Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh” menggunakan struktur alur cerita kilas balik/flash back, menjadikan drama perjalanan Kisah Nyai Ontosoroh alias Sanikem dengan menegangkan dan seakan tak bisa ditunggu apa yang seterusnya bakal terjadi. Cerita ini dimulai ketika Annelies harus dibawa ke Belanda. Annelies ingin melihat koper tua ibunya. Sebelum Nyai Ontosoroh menyerahkan koper tua itu kepada Anellies, ia mengeluarkan barang-barang kenangan lama sejak ia masih menjadi Sanikem yang dijual oleh Ayahnya kepada Tuan Mellema. Dari benda-benda di dalam koper itulah cerita dimulai. Benda-benda kenangan yang mengantarkan Nyai menceritakan seluruh kisah hidupnya.

Proyek ini didukung film-video garapan dua seniman film dan video yang sudah banyak menggarap berbagai karya film dan video art, yakni Ariani Darmawan dan Yudith Christianto, musik oleh musisi muda Ricky Setiawan dan desain panggung ditangani oleh Deden Bulqini, seorang penata panggung yang juga telah banyak berpengalaman mendesain tata panggung berbagai pertunjukan teater, sementara kostum dirancang khusus oleh Deden Siswanto, seorang ”fashion designer” ternama di tanah air. Make up dikoordinir oleh Irina Dayasih.

Para aktor yang bermain adalah Sita (RSD) Nursanti (Nyai Ontosoroh), Agni Melati (Annelies), Willem Bevers (Tuan Mellema) dan Bagus Setiawan (Minke).

Jadwal pentas

Di Belanda, teater ”Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh” akan pentas di Tropentheater Amsterdam pada tanggal 20-21 Mei 2010, Tong Tong Festival Den Haag pada tanggal 21-22 Mei. Pentas berlanjut di kota Antwerp, Belgia di Zunderzuis pada tanggal 26 Mei 2010.

Sebelum keberangkatan ke Eropa, atas dukungan Selasar Sunaryo Art Space, team ”Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh” melakukan karantina khusus dan latihan intensif selama seminggu, kemudian pentas di tempat yang sama pada tanggal 7 Mei 2010, jam 20.00. Selain itu, teater ini juga akan pentas pada tanggal 11 Mei 2010, jam 20.00 di Erasmus Huis untuk penonton Jakarta, atas dukungan lembaga kebudayaan Belanda tersebut.

Teater ini diproduksi oleh Institut Ungu dan disponsori oleh Tropentheater Amsterdam, didukung oleh Tong Tong Festival DenHaag, Selasar Sunaryo Art Space Bandung dan Erasmus Huis Jakarta.

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Keluarga Pramoedya Ananta Toer, Gathaya Performing Arts, Galeri Rakuji, Main Teater Bandung, Gedung Rumentangsiang, Jurusan Seni Rupa STSI Bandung dan berbagai media yang mendukung, antara lain Detik Bandung, Bandung TV, PJTV, RRI, Radio SKY, Tribun Jabar, Indonesia seni dan Majalah Arti.

Kami berharap, pementasan ”Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh” dapat berkontribusi bagi perkembangan teater di Indonesia dan dapat membawa misi dialog peradaban antar bangsa, Indonesia-Belanda.

Komentar