SEA Games 2011

Korsel, Awalnya Lumbung Gol Kini Kuda Hitam

coba

13.12.2009 11:26:14 WIB

Oleh SUMARDONI

AWALNYA kehadiran Korea Selatan di ajang Piala Dunia hanya menjadi “lumbung” gol bagi lawannya. Namun, Korea Selatan kemudian berkembang menjadi tim “kuda hitam” yang menakutkan setiap kali digelar Piala Dunia.

Pada Piala Dunia 1954 di Swiss, penampilan pertama Korea Selatan sungguh memalukan. Mereka menjadi lumbung gol tiap tim yang melawannya. Lalu 32 tahun kemudian mereka tampil di Piala Dunia 1986 di Meksiko. Saat itu Korea satu grup dengan Argentina, Italia dan Bulgaria. Di sanalah untuk kali pertama negeri ginseng ini mendapatkan poin pertamanya setelah berhasil menahan imbang Bulgaria.

Berbekal capaian sukses itu Korea pun tak pernah absen dalam tujuh kali edisi Piala Dunia secara beruntun, mulai dari 1986-2010. Dari penampilan semua itu, Piala Dunia 2002 menjadi titik penting buat Korea Selatan.

Sebagai tuan rumah bersama dengan Jepang, Korsel mampu mencapai babak semi-final sebelum dikandaskan Jerman 1-0. Capaian itu tercatat membuat Korsel sebagai tim Asia pertama yang prnah melakukannya.

Korea Selatan memastikan dirinya tampil ke Afrika Selatan sebagai salah satu tim Asia paling awal dari laga kualifikasi. Pada putaran final kualifikasi, mereka harus bersaing ketat dengan Saudi Arabia, Iran, Korea Utara, dan kuda hitam Uni Emirate Arab. Meski sempat terseok di awal kualifikasi, namun Korsel memperlihatkan kelasnya sebagai tim unggulan di Asia.

Modal paling berharganya adalah kekompakan yang telah menjadi tradisi orang-orang Korea. Kekuatan lainnya lagi, kerja keras para pemain Korsel. Sebut saja di antaranya Park Ji-sung yang telah memperlihatkan karakter gigihnya bersama klub Manchstr United.

Persoalan postur tubuh dan juga gap yang menganga antara pemain utama dan lapisnya. Jika saja kiper Park Chu young cedera maka akan sungguh sulit mencari penggantinya yang pantas. Hal yang sama juga terjadi pada Park Ji-Sung dan Le Chung-Yong yang berada di posisi sayap. Untuk peran kedua pemain itu belum ada pengganti yang sepadan. Begitu juga, tanpa kehadiran Ki Sung-Yong rasanya akan sangat sulit mengatur bola dari lini tengah ke depan.

Huh Jung-Moo adalah sosok pemain legendaris dari Korea. Ia pernah bermain di Eropa bersama PSV Eindhoven di awal dekade 1980-an. Ia dikenal juga dengan sapaan Anjing Jindo. Dalam Anjing dalam tradisi Korea dikenal dengan keberaniannya, dan itu ditunjukkannya dengan spirit bersaingnya yang sangat menggebu-gebu. Selama ditanganinya, Korsel lebih fokus memperkuat sektor pertahanannya ketimbang berusaha untuk menampilkan permainan agresif menyerang.

Inilah para bintan tim Korea Selatan:

Park Ji-Sung (Manchester United, Inggris)
Popularitasnya begitu menjulang berkat kerja kerasnya. Tak heran kalau dia dijuluki sebagai Park Dengan Tiga Paru-paru karena tak pernah kenal lelah dalam setiap bermain..

Park Chu-Young (AS Monaco, Prancis)
Chu-young juga memperlihatkan performa yang tak kalah berbeda dengan Park Ji-Sung. Dia juga telah menjelma sebagai salah satu pemain bintang di AS Monaco bersama dengan Nene.

Lee Chung-Yong (Bolton Wanderers, Inggris)
Di usianya yang kini baru 21 tahun, Lee menjadi salah satu bintang muda bersinar di Korea. Dia memiliki kemampuan dalam menyerang dan memberikan umpan-umpan silang yang bagus..

Tak ada lagi yang paling sulit dilupakan ketika Korea Selatan bisa masuk ke semi-final Piala Dunia 2002. Momentum golden goal yang dibuat Ahn Jung-Hwan di babak 16 besar ke gawang Italia akan selalu menjadi kenangan terindah buat publik Korea Selatan.

Harapan masih tetap besar setidaknya bisa mencapai babak 16 besar untuk kali pertama dalam penyelenggaraan Piala Dunia di luar negerinya sendiri. Di Jerman, mereka nyaris saja mengulang sukses yang pernah dibuat empat tahun sebelumnya.

Rekor Penampilan di Piala Dunia: 1954, 1986, 1990, 1994, 1998, 2002, 2006. (goal/dll)

Komentar


Berita Terkait