11.05.2011 19:35:53 WIB
Oleh Taufik Wijaya*)
KRISIS pasokan gas ke PT Pupuk Sriwidjaja (PT Pusri), sebagai dampak melejitkan harga gas di pasaran international. Melejitnya harga gas ini diperkirakan sebagai dampak krisis politik yang berlangsung di negara-negara Timur Tengah dan Afrika.
“Makanya kami, para karyawan PT Pusri, selalu berdoa agar krisis politik di Timur Tengah dan Afrika Utara, seperti yang saat ini masih berlangsung di Libya segera berakhir,” kata Manager Humas PT Pusri, Zain Ismed, Rabu (11/05/2011).
Memang dampak dari krisis politik itu, harga minyak bumi dan gas di pasaran international terus melejit. Dampaknya PT Pusri yang merupakan salah satu penghasil pupuk terbesar di Indonesia, harus cemas, sebab biaya produksinya menjadi meningkat. Padahal gas merupakan bahan baku utama dalam menghasilkan pupuk.
Ironinya, secara teori, PT Pusri tidak perlu khawatir dengan kondisi tersebut, sebab mereka berada di provinsi yang kaya dengan sumber migas. Lumbung energi. Ternyata gas yang melimpah itu, lewat kebijakan yang dilakukan pemerintah pusat, banyak tersalurkan ke Singapura dan sejumlah industri di Jawa.
Gubernur Sumsel Alex Noerdin merasa khawatir dengan kondisi tersebut. Dia memastikan para petinggi yang ada di Jakarta mengkaji ulang kebijakan yang dilakukan selama ini, setelah tahu PT Pusri kini terpaksa beralih ke energi lain yakni batubara, lantaran gas yang dihasilkan Sumatra Selatan dikirim ke Singapura dan industri di Jawa. Saat ini kontrak PT Pusri dengan gas di Sumsel tinggal 5-10 tahun lagi.
Menurut Alex, harusnya pusat mengkaji kebijakan membawa keluar gas Sumsel karena Pusri sudah 40 tahun berjasa dalam menjaga stabilitas ketersediaan pangan di negeri ini. Namun dalam rangka menjaga NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) maka Sumsel tidak akan ribut, apalagi lagi memisahkan diri dari Jakarta.
Maka dicari solusi lain, dengan membangun pabrik gas berbahan baku butabara dan dikirim ke PT Pusri yang akan membangun pabrik pupuk terbesar di Asia Tenggara, di kawasan Tanjung Api-api tanpa ketergantungan dengan pasokan gas alam lagi.
“Tapi kebijakan itu harus tetap dipikirkan ulang, bagaimana ke depannya, kita tidak perlu lagi mengirim gas ke Singapura yang digunakan untuk membangkitkan pembangkit listrik,” kata Alex Noerdin.
Bahkan Alex Noerdin, menawarkan gagasan kenapa Indonesia tidak membangun pabrik listrik sendiri, sehingga listriknya dijual ke Singapura, sehingga keuntungan berlipat-lipat untuk Indonesia, dan secara politis Indonesia memiliki nilai tawar yang tinggi.
“Begitu juga keinginan saya terhadap PT Pusri sehingga tetap dipertahankan berada di Sumsel dan tidak pindah ke tempat lain, seperti Kaltim, karena ketidaktersediaan pasokan gas lantaran gas kita terikat kontrak dengan Singapura dan Jawa,” kata Alex.
Seandainya pabrik PT Pusri keluar dari Palembang, maka dikhawatirkan ratusan ribu warga Sumatra Selatan, Lampung, Bengkulu, Jambi, yang bekerja di pabrik tersebut, akan kehilangan pekerjaan.
“Bahkan masyarakat di luar Pusri pun akan kehilangan pendapatan, sebab banyak dari mereka memiliki aktifitas ekonomi terkait dengan Pusri, baik buruh, pedagang, maupun pengusaha,” ujar Zain Ismed.
*) Wartawan detik.com
Foto: Kompas
