Internasional

Kesehatan Ibu dari Rumah ke Rumah

coba

24.12.2010 12:24:09 WIB

Oleh Damakant Jayshi

KATHMANDU (IPS) – SELAMA 17 tahun terakhir, Keshari Maharjan mengunjungi rumah demi rumah di daerah pinggiran ibukota Nepal. Dia memberi tahu masyarakat tentang layanan yang tersedia di pusat kesehatan di tempat mereka sekaligus bagaimana mencegah penyakit tertentu.

Ini tak selalu mudah bagi Maharjan dan para relawan kesehatan masyarakat lainnya. Bahkan, katanya, ”Sangat sulit karena orang-orang mencurigai (kami) punya niat buruk.”

Namun mereka sudah bertindak benar selama ini. Menurut Maharjan sendiri, dia mencatat ada peningkatan kesadaran tentang sanitasi, penyakit, dan layanan pusat kesehatan dalam beberapa tahun terakhir.

Manik Ratna Shakya, kepala Pos Kesehatan Satungal, mengatakan, ”Bersama pemerintah serta bantuan dan inisiatif beberapa donor, kontribusi mereka (para relawan) –yang tanpa pamrih– sangat besar dalam memenuhi target menurunkan tingkat kematian ibu dan anak.”

Ini bukan pencapaian yang bisa diabaikan. Ia menunjukkan bahwa negara miskin di pegunungan Himalaya ini berpeluang memenuhi Tujuan Pembangunan Millenium (MDG) kelima dalam meningkatkan kesehatan ibu hamil.

Faktanya, September lalu, Nepal dipilih Komite Penghargaan MDG, bekerjasama dengan Badan Perserikatan Bangsa Bangsa untuk Kemitraan, sebagai satu dari 49 negara paling miskin yang mencatat pencapaian signifikan dalam kaitannya dengan MDG. Nepal dipuji atas kepemimpinan nasional, komitmen, dan kemajuan yang luar biasa dalam meningkatkan kesehatan ibu hamil.

MDG adalah delapan tujuan yang disepakati negara-negara di dunia pada 2000 dan harus dipenuhi pada 2015. Tujuan-tujuan ini berkisar dari penghapusan kemiskinan hingga peningkatan kesehatan ibu dan anak, dari pencapaian pendidikan dasar hingga menjamin kelestarian lingkungan.

Di antara target MDG di Nepal adalah menurunkan rasio kematian ibu (MMR) menjadi 213 jiwa per 100.000 kelahiran hidup pada 2015.

Nepal melakukannya dengan baik, sehingga National Safe Motherhood Plan tahun 2002-2017 menyusun target lebih ambisius untuk mengurangi MMR menjadi 134 jiwa per 100.000 kelahiran hidup.

Pada 1990, rasio kematian ibu di Nepal mencapai 850 jiwa per 100.000 kelahiran hidup. Saat itu, bidan hanya bisa menangani tujuh persen dari setiap kelahiran. Pada 2000, MMR di Nepal mencapai 415 jiwa per 100.000 kelahiran hidup, yang turun drastis hingga 229 jiwa tahun ini.

Terutama, saat ini 30 persen kelahiran ditangani bidan-bidan terlatih.

Sharad Kumar Sharma, ahli kependudukan senior di bagian layanan kesehatan Departemen Kesehatan, menjelaskan peranan relawan kesehatan masyarakat dalam kisah sukses ini: ”Mereka memberikan dukungan tak ternilai dengan menyebarkan kesadaran, membujuk perempuan (dan laki-laki) untuk mengunjungi pos kesehatan dan rumahsakit, serta mengambil tindakan pencegahan guna mengurangi terjadinya penyakit dan komplikasi yang menyebabkan kematian.”

Ahli kesehatan lainnya mengatakan kesadaran menjadi kunci ketika menghadapi situasi hidup dan mati.

Riset Kampanye Millenium PBB pada 2009, misalnya, menyoroti dua kasus di mana kesadaran akan layanan kesehatan membantu persalinan yang aman, sedangkan ketidaktahuan berkontribusi pada kematian.

Laporan itu menceritakan, Kancchi Maya Tamang tinggal di sebuah desa di dekat Kathmandu. Di sana terdapat beberapa petugas kesehatan terlatih. Rumahnya juga dekat dengan pos kesehatan, sementara rumahsakit terdekat hanya berjarak 30 menit dengan jalan kaki. Namun perempuan berusia 38 tahun ini meninggal saat melahirkan anak keenamnya di rumah akibat pendarahan hebat.

Bibinya, kini mengurus anak itu yang sekarang berusia 2 tahun, mengenang, ”Ini kali keenam dia melahirkan, maka tak ada yang khawatir. Proses persalinannya sangat lancar. Namun, setelah itu dia mulai mengalami pendarahan dan sebelum seseorang dapat melakukan sesuatu, dia meninggal.”

Sebagai perbandingannya adalah Jarsikala Kami, penduduk desa terpencil di distrik Jumla –sekitar 900 kilometer dari Kathmandu– yang tak memiliki masalah ketika melahirkan anak keduanya.

Perempuan berusia 20 tahun ini, anggota masyarakat (termarginalkan) dari suku Dalit, rajin memeriksa kehamilannya secara rutin. Dan saat tiba waktunya melahirkan, dia pergi ke klinik bersalin di pos kesehatan desa dan banyak bidan terampil membantunya.

Pemerintah Nepal menyediakan layanan antar-jemput 24 jam di 75 distrik di Nepal. Sharad Kumar Sharma dari Departemen Kesehatan juga menunjuk Program Insentif Layanan Penyelamatan yang sudah berjalan selama lima tahun, di mana perempuan yang datang ke fasilitas kesehatan menerima uang tunai sebagai ganti biaya perjalanan mereka –1.500 rupee (sekira 189 ribu) untuk mereka yang tinggal di pegunungan, 1.000 rupe (126 ribu) untuk warga di perbukitan, dan 500 rupe (56 ribu) bagi yang tinggal di dataran rendah.

Layanan di pusat-pusat kesehatan pemerintah gratis. Pemerintah juga menyediakan subsidi bagi beberapa fasilitas kesehatan swasta, sehingga dapat memberikan layanan gratis. Dan ketika para bidan datang untuk membantu persalinan di rumah, mereka mendapat insentif uang tunai sebesar 300 rupee (36 ribu).

Namun Keshari Maharjan masih khawatir karena kesadaran kesehatan masih kurang di beberapa daerah, meski di tempat lain memuaskan. Laporan perkembangan tahun 2010, yang disiapkan Komisi Perencanaan Nasional dan Program Pembangunan PBB, juga mencatat upaya untuk meningkatkan kesehatan ibu di negara ini masih menghadapi tantangan.

Says the report: "The three delays – in seeking, reaching, and receiving care – are… important (causes) of poor maternal health status in Nepal."*



Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS

Foto: celsias.co.nz

Komentar


Berita Terkait