01.10.2010 15:10:02 WIB
Oleh Marwaan Macan-Markar
BANGKOK (IPS) – KEBERHASILAN parsial Kamboja dalam mengurangi tingkat kematian anak menunjukkan garis yang salah dalam hal ketidakadilan, yang memberi kesempatan lebih besar bagi penduduk urban ketimbang penduduk desa yang miskin.
Namun negeri ini, di mana 35 persen dari 14 juta penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan, tak sendirian dalam mengurangi tingkat kematian anak, ujar para ahli hak anak.
Negara-negara lain di kawasan itu menunjukkan tren serupa, 10 tahun setelah para pemimpin dunia berkomitmen memenuhi delapan target guna membantu kaum miskin di dunia pada 2015. Target keempat dari delapan Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) PBB adalah berusaha mengurangi dua per tiga tingkat kematian anak pada 2015.
”Untuk bersikap adil kepada negara-negara di Asia Tenggara, tingkat kematian anak memang menurun di mana-mana,” ujar Ben Phillips, direktur strategi kantor Asia Save the Children, organisasi kemanusiaan berbasis di Inggris. ”Namun angka penurunan itu lebih rendah ketimbang yang mereka capai pada 2000.”
”Di Asia Tenggara, tingkat kematian anak hampir separuh dari level pada 2000,” katanya kepada IPS. ”Namun kawasan ini secara substansial tertinggal dalam memenuhi target dua per tiga, yang tinggal lima tahun lagi.”
Sebuah laporan terbaru dari Save the Children berjudul “A Fair Chance At Life” menunjukkan bahwa Kamboja menurunkan 32 persen angka kematian anak di antara “20 persen orang mampu” di negara itu, tapi hanya 18 persen penurunan angka kematian anak di antara “20 persen orang miskin.”
Indonesia, raksasa di kawasan itu dengan 16 persen dari 225 juta penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan, mencatatkan “kemajuan yang wajar,” tulis laporan setebal 37 halaman itu. Duapuluh persen dari orang miskin sudah menurunkan angka kematian anak sebesar 29 persen, sementara 20 persen dari orang mampu menunjukkan penurunan sembilan persen.
Negara junta militer Burma (juga dikenal Myanmar) tertinggal di belakang dengan angka kematian anak yang buruk. Menurut laporan itu, 104 balita meninggal setiap 1.000 kelahiran hidup. Sebaliknya, Kamboja mencatat 82 balita meninggal setiap 1.000 kelahiran hidup. Laos, negara termiskin di kawasan ini, memiliki 75 balita meninggal setiap 1.000 kelahiran hidup.
Kelompok hak-hak anak memuji Thailand, Malaysia, dan Vietnam yang dinilai bekerja baik memenuhi target 2015. Negara terkaya di kawasan ini, negara-kota Singapura, berjalan sendirian menurut sebuah kajian jurnal kesehatan Inggris, The Lancet, sebagai satu-satunya negara di dunia yang berhasil menurunkan tingkat kematian anak, sekitar 75 persen sejak 1990.
Ketimpangan dalam tingkat kematian anak di negara-negara seperti Kamboja dan Filipina –dengan 32 balita meninggal per 1.000 kelahiran hidup– ”sebagian karena perbedaan kota-desa,” ujar Phillips. ”Tak ada diskriminasi sadar, tapi sebuah kecenderungan alamiah karena para suster dan dokter bekerja di kota.”
Terkadang, jarak ke akses layanan kesehatan jauh, ongkosnya mahal, dan makan waktu bagi keluarga yang ingin mengobati penyakit yang bisa menyebabkan kematian, seperti radang paru-paru, diare, dan sepsis.
”Jika Anda tinggal jauh dari layanan kesehatan, Anda akan menjangkaunya lebih lama ketimbang orang yang tinggal dekat petugas layanan kesehatan,” kata Basil Rodriques, penasihat regional untuk kelangsungan hidup anak dan pembangunan di Kantor Asia Badan PBB untuk Anak-anak (UNICEF). ”MDGs menyebutnya ‘buah yang menggelantung rendah’ akan terjangkau lebih dulu.”
Untuk mengatasi tren ini, negara-negara di Asia Tenggara didorong untuk memperkuat layanan kesehatan masyarakat di pedesaan, termasuk menempatkan bidan-bidan terlatih di desa tempat mereka lahir. ”Ini akan membuat perbedaan,” ujar Rodriques dalam sebuah wawancara. ”Pemerintah akan mencari cara bagaimana melatih para pekerja yang tumbuh dan kembali hidup di komunitas mereka.”
Diagnosis dini atas penyakit seperti radang paru-paru adalah kunci untuk menyelamatkan nyawa anak-anak, ujar Rodriques, menekankan pencapaian di Indonesia. ”Ada pengakuan yang tumbuh atas pendekatan berbasis komunitas, karena petugas kesehatan masyarakat dilatih untuk melihat persoalan dan memberikan perawatan cepat.”
Sukses Vietnam dengan program layanan kesehatan masyarakat serupa di seluruh desa juga menjadi model lain untuk kawasan tersebut. Catatan kematian anak adalah 17 bayi meninggal setiap 1.000 kelahiran hidup.
”Benar-benar sulit memisahkan keadilan dari paradigma pembangunan,” ujar Rodriques. ”MDGs, sesuai tujuannya, menjadi pendorong bagi negara-negara di Asia Tenggara agar berbuat lebih keras.”
Ben Phillips dari Save the Children menaksir seluruh wilayah Asia membutuhkan dua juta pekerja kesehatan, meliputi bidan, suster, dan dokter kebidanan, untuk memenuhi terget kematian anak pada 2015. ”India akan membutuh satu juta dan Asia Tenggara memerlukan sepertiganya,” ujarnya.
”Ini butuh perubahan dramatis dalam kebijakan dan sumberdaya untuk memperkuat sistem layanan kesehatan pedesaan,” ujarnya. ”Jika Anda tak fokus mengenai keadilan, hasilnya akan timpang.”
“Petugas kesehatan tak hanya mengobati; mereka juga mencegah,” katanya. ”Pemerintah perlu menempatkan lebih banyak orang di sekolah-sekolah perawat.”*
Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS
Foto: wvfitzgerald.instablogs.com
