Internasional

Masa Lalu Hancur di Era Irak Baru

coba

01.02.2012 02:58:38 WIB

Oleh Karlos Zurutuza

BASRA, IRAQ (IPS) – “SAYA akan mengatakan ada sekira 5.000 dari kami di negeri ini. Tapi jika Anda bertanya kepada saya minggu depan, kami mungkin di bawah 3.000. Setelah 20 abad sejarah di Mesopotamia, kami orang Mandean, sudah menghilang.” Sejarah tentang masa depan kaumnya sudah cukup jelas dari angka yang diberikan Saad Atiah Majid, ketua Dewan Mandaean di Basra.

Dijuluki sebagai “orang Kristen St John” oleh Portugis yang tiba di Basra pada abad ke-17, Mandean mengikuti ajaran-ajaran Yohanes Pembaptis. Pembaptisan –ritual utama mereka–dilakukan di tepi Sungai Tigris dan Efrat selama hampir dua milenia.

“Memang benar bahwa kami berbagai rasa sakit dan kesengsaraan selama masa Saddam. Tapi saat itu orang-orang kami meninggalkan negara ini terutama karena alasan ekonomi. Sebaliknya, setelah tahun 2003, menyusul pelecehan brutal oleh Islam radikal, orang-orang Mandean mulai melarikan diri secara massal ke Kurdistan, Suriah, dan Eropa,” kata Majid.

Di belakangnya, kain putih kecil dan ranting pohon zaitun menggantung di sebuah salib kayu. Mereka menyebutnya drabsa –sesuatu yang lebih dekat dengan bendera Mandean. Di pusat, di mana komunitas ini berkumpul di pusat minyak di Irak selatan, yang dinding-dindingnya tertutup gambar pria berjanggut berpakaian jubah putih, merayakan pembaptisan kolektif di sungai.

Menurut laporan Human Rights Watch yang dirilis Februari 2011, 90 persen dari kaum Mandean telah meninggal dunia atau meninggalkan negara itu sejak invasi oleh pasukan pimpinan Amerika pada 2003. Mandean telah berulang kali menyerukan evakuasi seluruh penduduk mereka.

Pemimpin yang dikultuskan, Syekh al-Jabbar Sattar Hulu, kini tinggal di Australia. Untuk saat ini, Mazin Rahim Naif masih tetap di tempat asalnya, Basra. Pria muda berusia akhir dua puluhan ini adalah pemimpin spiritual setempat.

“Sampai 1991 kami melakukan ritual kami di sungai. Namun situasi keamanan yang memburuk dan polusi memaksa kami memindahkan ibadah kami di kolam kecil di dalam kuil kami,” kata Rahim kepada IPS. Imam itu menambahkan bahwa dewan lokal berulang kali menolak akses mereka ke suatu area di tepi sungai, sebuah penolakan yang sangat menyakitkan menjelang acara keagamaan yang penting.

“Pada 17 Maret, selama lima hari, setiap tahun kami merayakan Pronaya atas penciptaan dunia fana. Coba Anda pikir tempat yang tepat untuk itu?”

Kemudian, tangan pastor muda itu memegang “Khazanah Allah” (Treasure of God), kitab suci komunitas ini yang ditulis dalam bahasa Mandaean-Aramaic.

“Kami menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab karena ada desas-desus di kalangan Muslim yang menghasut untuk murtad,” kenang Rahim. “Kami ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa kami juga percaya pada satu Tuhan, bahwa kami berdoa, dan bahwa kami juga melaksanakan zakat.”

Namun upaya itu tampaknya tak cukup untuk menghindari diskriminasi yang terus meningkat.

“Karena laporan muridnya, anak saya harus memenuhi syarat untuk posisi yang baik sebagai seorang insinyur di industri petrokimia lokal. Tapi dia sudah menganggur sejak lulus tiga tahun lalu,” keluh Tahseen, seorang Mandaean lokal. “Pekerjaan terbaik diberikan kepada keluarga-keluarga yang kehilangan anggotanya dalam perang melawan Iran atau selama penindasan Saddam. Hak-hak istimewa adalah untuk mereka yang menjadi 'martir'. Kami tak dihitung menurut standar mereka.”

Butuh berkendara lima jam dari Basra ke Baghdad untuk menuju hulu Sungai Tigris dan Efrat. Ini adalah jalan yang sering kelebihan beban oleh truk minyak dan mobil dengan peti mati diikat ke atapnya. Ini adalah perbatasan Najaf, tempat setiap Muslim Syiah ingin dikuburkan.

Begitu sampai di ibukota, pos-pos pemeriksaan bertaburan saat kita mendekati pusat utama Mandean di daerah sekitar Qadisiyah di tepi barat Tigris. Di kelilingi dinding beton, markas itu dilindungi tentara dari Departemen Dalam Negeri. Di dalam, kita bertemu Toma Zekhi, ketua Mandaean lokal.

“Ini bukan hanya penindasan agama,” ujarnya. Secara tradisional, kaum Mandean adalah pandai emas dan perak, dan karenanya, selama beberapa tahun terakhir, menimbulkan mimpi buruk karena tingkat kriminalitas. Sebuah laporan Amnesti Internasional pada April 2010 menguatkan kata-kata Zekhi, menggambarkan bahaya yang ditimbulkan oleh perhiasan Mandaean di Irak pasca-Saddam.

Zekhi memilih tetap tinggal, tapi banyak pengikutnya melarikan diri setelah menerima surat “pindah agama atau mati”, juga terjadi di kalangan penduduk Kristen setempat yang kian menipis. Meski serangan telah menurun dalam tiga tahun terakhir, jalan menuju harmoni dan hidup berdampingan di antara rakyat Irak masih penuh dengan rintangan.

“Agama dan etnisitas berjalan beriringan di Irak dan, malangnya, hal itu juga tercermin dalam Konstitusi,” kata Saad Salloum, profesor universitas dan editor Masarat, majalah satu-satunya tentang isu minoritas di Irak, dari kantornya di Baghdad.

“Kaum Mandean sering dimasukkan dalam subkelompok ‘orang Kristen dan kelompok etnis lainnya’, sehingga mereka tak memiliki hak istimewa tertentu seperti kuota perwakilan di parlemen dan dewan lokal.”

Tak jauh dari sana, Hassam Sapty Zaroon mengelola sebuah toko kecil di daerah sekitar Karrada tenggara Baghdad. Dia dengan berhati-hati mengukir sebuah medali perak dengan gambar lebah, singa, kalajengking, dan ular. Ini adalah jimat yang, dalam tradisi Mandaean, melindungi dari kejahatan.

Selama istirahat, Zaroon dengan bangga memperlihatkan sebuah dokumen yang sudah menguning –surat ucapan terima kasih yang ditujukan pada kakeknya dan ditandatangani Winston Churchill atas pemberian kotak cerutu terukir perak dengan profil perdana menteri Inggris.

“Kami adalah sebuah keluarga tradisional yang dilupakan 400 tahun. Kami semua tukang emas dan perak,” Kata Zaroon, keturuan terakhir dari garis pengrajin termasyhur.

Dia menggunakan alat yang sama persis seperti kakeknya. Tapi Hassam Sapty berhenti dan melihat sedih ke arah Sungai Tigris karena dia masuk Islam beberapa tahun lalu.

Bahkan jika lengkah-langkah mendesak dilakukan, motif-motif tradisional Mandaean yang terukir dalam perak hitam akan tinggal jejak terakhir yang tersisa dari budaya kuno sebelum lenyap untuk selamanya.*

Translated by Farohul Mukthi
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik

Foto: marcodilauro.com

Komentar

26.02.2012 00:42:51 WIB | yurtdisi egitim :

Mengapa situs ini tidak mendukung bahasa lain



Berita Terkait