29.03.2010 00:42:48 WIB
Oleh MARCELA VALENTE
BUONES AIRES (IPS) – “PRESIDEN Anda bersedia menghadapi gerombolan liar lawan-lawannya, bukan penggemar sepakbola,” ujar Presiden Argentina Cristina Fernández berkelakar, suatu ketika.
Sejumlah kelompok yang bekerja untuk menghindari kekerasan di stadion sepakbola di Argentina mengatakan, fenomena ini antara lain disebabkan oleh kurangnya kemauan untuk menghadapi barra bravas –holigan di Argentina– atau hubungan erat antara mereka dan para pemimpin faksi politik, terutama di wilayah miskin.
Barra Bravas seringkali lebih kuat ketimbang pemimpin klub sepakbola, dan terkadang memeras pemain, misalnya, untuk ditukar dengan sorak-sorai dan dukungan selama pertandingan.
Para pemimpin kelompok itu terlibat perdagangan obat bius dan punya bisnis sampingan macam jualan kaos, foto, atau lahan parkir di luar stadion. Mereka mengatur makan malam dengan pemain untuk mendapatkan tiket pertandingan, dan meminta bayaran bagi turis asing yang menonton pertandingan di dekat penggemar tim.
Lima orang tewas dalam perkelahian di antara barra brava dalam beberapa minggu terakhir. Polisi menduga beberapa pembunuh melakukannya dengan tekanan agar mendapat dukungan untuk terbang ke Afrika Selatan pada Piala Dunia Juni mendatang.
"Tak ada kemauan politik yang kuat untuk mengakhiri kekerasan dan korupsi di sepakbola," kata Mónica Nizzardo, ketua Salvemos al Fútbol (Mari Selamatkan Sepakbola), sebuah organisasi nonpemerintah yang berupaya menghapus kekerasan, kepada IPS.
Salvemos al Fútbol, yang melaporkan 249 kasus kematian akibat kekerasan sepakbola sejak 1924, mengatakan barra bravas mendapat dukungan dari aparat keamanan serta keterlibatan pemimpin politik dan olahraga tingkat tinggi.
Padahal fenomena ini kian memburuk dalam beberapa tahun terakhir, khususnya kekerasan yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir. Para pengamat yakin salurannya adalah sebuah prakarasa yang dilucnurkan November lalu oleh pendukung politik Fernández, seperti Marcelo Mallo, yang membentuk kelompok Hinchadas Unidas Argentinas (Persatuan Penggemar Argentina).
Idenya, kata dia, untuk mengubah penggemar jadi " pemimpin sosial antikekerasan" yang akan membantu pembangunan rumah bagi warga miskin dan terlibat dalam upaya-upaya masyarakat lainnya.
Mallo berencana membawa 500 anggota barra bravas ke Afrika Selatan. Hinchadas Unidas Argentinas telah membentangkan spanduk dengan pesan politik, salah satunya "Kirchner Vuelve" –sebuah seruan untuk memilih kembali suami Fernández dan pendahulunya, mantan presiden Nestor Kirchner (2003-2007), pada pemilihan umum 2011.
Mallo mengatakan, tak benar ada kesepakatan dengan barra bravas untuk memberi imbalan atas publisitas dan dukungan politik mereka. Dia juga menyangkal penggunaan dana publik untuk tiket para penggemar ke Afrika Selatan, atau pemerintah berada di balik gerakannya.
Tapi dia mengakui tujuannya agar para pemimpin barra bravas, kebanyakan punya catatan kriminal, menjadi tokoh masyarakat yang bisa merekrut pemilih untuk pemilihan umum atau bertindak sebagai pengawas pemilihan umum.
Lusinan barra bravas yang bergabung dengan Hinchadas Unidas Argentinas belum termasuk La 12, penggemar brutal dari Boca Juniors, atau Los Borrachis del Tablon, pendukung River Plate –keduanya klub paling populer– karena mereka sudah mendapat dukungan untuk pergi ke Afrika Selatan, ujar Mallo.
Sejak peluncuran gerakan itu, sejumlah insiden kekerasan meningkat –bukan dengan rival barra bravas namun di dalam kelompok itu sendiri– mengenai manajemen bisnis dan distribusinya.
Gustavo Grabis, seorang wartawan dan penulis buku La 12: The True History of Boca's Barra Brava mengatakan, kelompok itu adalah "faksi bersenjata" dari penggemar klub dan punya kaitan dengan polisi, sebagaimana terungkap dalam kasus-kasus berbeda di pengadilan.
"Insiden kekerasan meningkat, dan pembentukan Hinchadas kian memanaskan suasana, karena mereka berjanji membawa 500 penggemar ke Afrika Selatan dan kini ternyata tak mampu memenuhinya, meski separuhnya," ujar Grabia kepada IPS.
Tapi dia menambahkan, pembunuhan terakhir melampaui dunia sepakbola dan bisa dikaitkan dengan perang wilayah internal untuk mengontrol bisnis obat bius dan perdagangan gelap lainnya.
Pada 19 Maret, Roberto Caminos, mantan ketua barra brava dari klub Old Boys di Newell, dari pusat kota Argentina: Rosario, ditembak dan tewas di pintu masuk bar. Orang-orang terdekatnya mengatakan, dia pernah bilang sedang dibuntuti polisi.
Beberapa hari sebelumnya, Juab Bustos, mantan pemimpin barra brava dari Rosario Central –klub populer lainnya di kota itu– terbunuh di luar rumahnya. Dan Marcos Galarza, anggota barra brava dari klub divisi dua Defensa y Justicia, juga ditikam hingga tewas.
Juga ada kasus-kasus lainnya.
"Ini mematangkan pembentukan Hinchadas," ujar Nizzardo. "Hukum akan menghukum siapapun yang menciptakan dan mendukung kelompok-kelompok kekerasan dengan satu hingga enam tahun penjara, dan di sini Anda melihat jelas siapa orang-orang yang mengompori kekerasan," katanya.
Pada November, Salvemos al Fútbol mengajukan gugatan hukum agar pengadilan menyelidiki dugaan hubungan antara Hinchadas Unidas Argentinas dan anggota-anggota pemerintah, termasuk kepala kabinet Anibal Fernández, mantan sekutu politik Mallo. Tapi tak ada perkembangannya di pengadilan.
Nizzardo menegaskan, banyak anggota barra bravas yang terlibat di gerakan Hinchadas punya catatan kriminal. "Satunya dipenjara sejak Desember karena pemerasan dan kejahatan lainnya, dan yang lainnya menghadapi dakwaan kepemilikan senjata api ilegal dan keterlibatan dalam pembunuhan," katanya.
"Bagaimana bisa orang-orang dengan catatan seperti ini direkrut untuk pergi ke ke Afrika Selatan?" ujarnya.*
Translated by Imam Shofwan
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS
