Pendidikan

Membaca Karakter Pramuka Hari Ini

coba

08.07.2011 13:30:31 WIB

Oleh Taufik Wijaya

SAMPAI saat ini, Indonesia merupakan negara kedua di dunia yang memiliki anggota Pramuka atau Kepanduan terbanyak di dunia, setelah Amerika Serikat, yakni mencapai sekitar 8,1 juta anggota. Itu tak heran, sebab organisasi Kepanduan di Indonesia berdiri di masa Kolonial Belanda, yakni lima tahun setelah Robert Baden Powell, seorang letnan jenderal angkatan laut di Inggris pada tahun 1907,
bersama William Alexander Smith, seorang pendiri Boy’s Brigade mengadakan perkemahan kepanduan pertama—yang kemudian dikenal sebagai jambore—di Kepulauan Brownsea, Inggris. Tepatnya Kepanduan di Indonesia berdiri pada tahun 1912, baik untuk putra maupun putri. Kata
Pramuka sendiri dipakai oleh pemerintah Indonesia menggantikan Kepanduan pada tahun 1961.

Di masa Kolonial Belanda, banyak pemuda Indonesia yang bergabung dengan Kepanduan, sehingga sejarah menunjukkan bahwa adanya korelasi yang kuat antara perjuangan Kemerdekaan Indonesia dengan gerakan Kepanduan di Indonesia. Sebab Kepanduan mendorong anak muda Indonesia
saat itu bersemangat untuk bersatu.

Organisasi Kepanduan di Indonesia dimulai adanya cabang "Nederlandsche Padvinders Organisatie" (NPO) pada tahun 1912, yang pada saat pecahnya Perang Dunia I memiliki kwartir yang cukup besar, tapi pada 1916 berubah menjadi "Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging" (NIPV).

Sementara organisasi Kepanduan yang diprakarsai oleh orang Indonesia yakni Javaansche Padvinders Organisatie yang diprakarsai S.P. Mangkunegara VII pada 1916.

Di masa awal Republik Indonesia, Kepanduan juga mengambil peranan penting dalam melahirkan berbagai sosok pemuda nasionalis. Tidak sedikit hampir semua pemimpin Indonesia lahir dari Kepanduan atau Pramuka.

Dan saat ini saya sangat terkejut ketika puluhan anggota Pramuka yang mengikuti Jambore Nasional Pramuka IX di Bumi Perkemahan Telukgelam, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, melakukan unjukrasa buat memprotes fasilitas yang diterima mereka dari panitia pelaksana. Mereka protes lantaran bahan makanan, yang dinilai layak, seperti menu mi instan, susu tak layak, dan sayuran layu.

Di luar dari ketidakprofesional yang diperankan panitia pelaksana, ada dua hal yang membuat saya terkejut atas peristiwa tersebut.

Pertama, ternyata semangat berunjukrasa kini telah masuk pada masyarakat Pramuka. Ini sungguh berbeda dalam kehidupan Pramuka di masa sebelumnya. Yang mana setiap ada persoalan, Pramuka selalu mengatasinya dengan cara yang lebih beretika. Mereka sejauh mungkin menghindari keributan. Misalnya dengan cara berdialog atau bermusyawarah.

Kedua, sejak Kepanduan yang dipelopori Robert Baden Powell, seorang letnan jenderal angkatan laut di Inggris pada tahun 1907, bersama William Alexander Smith, seorang pendiri Boy’s Brigade, bertujuan untuk membentuk karakter orang muda yang tangguh, bertanggungjawab, mandiri. Hal yang sama yang diinginkan Bung Karno saat mencanangkan Pramuka di Indonesia pada 1961.

Artinya, dalam kondisi apa pun seorang Pramuka mampu mengatasi persoalan dirinya. Di dalam kehidupan sehari-hari, seperti di alam terbuka, mereka diajarkan untuk mampu survive dan mampu mengatasi persoalan yang ada. Bukan mengeluh apalagi protes, yang terkesan manja.

Di bawah tahun 2000-an, yang mana Pramuka menjadi kegiatan ekstrakurikuler yang favorit, setiap kali dilakukan perkemahan, para peserta didorong untuk survive. Mereka hanya dilepas bermodalkan tali, pisau, terpal, korek api, minyak tanah secukupnya, beras, bumbu masak, serta bahan berupa mi instan, sarden, dan ikan asin.

Para peserta membangun sendiri tenda, mencari makanan, dengan memanfaatkan lingkungan yang ada, tanpa merusak lingkungan.

Dalam proses perkemahan seperti ini, para anggota Pramuka dengan latar belakang ekonomi yang beragam mampu membaur, bekerjasama, prihatin, dan survive dengan segala keterbatasan. Bahkan bila di antara mereka ada yang sakit ringan, seperti demam, rekan-rekan satu regunya berusaha mengobatinya.

Tujuan dari perkemahan seperti itu, bukan buat menyiksa tapi sebuah metode pendidikan agar anggota Pramuka benar-benar tertempa mental dan fisiknya.

Krisis Karakter
Meskipun unjukrasa tersebut terlihat sederhana, tapi itu menunjukkan potret kecil karakter anggota Pramuka hari ini. Mohon maaf, apabila saya menyebutnya sebagai cermin dari krisis karakter pada generasi muda di Indonesia.

Maka tak heran, meskipun jumlahnya mencapai 8,1 juta, para anggota Pramuka tidak mampu berperan dalam meredam berbagai fenomena kekerasan di kalangan anak muda Indonesia saat ini. Seperti perkelahian antarkampung, unjukrasa berakhir bentrokan, bunuh diri, termasuk kriminalitas seperti pembunuhan.

Krisis karakter ini sudah dirasakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sejak beberapa tahun terakhir. Maka pada tahun 2010 lalu, dia mencanangkan pentinganya Pendidikan Karakter di Indonesia. Dia pun berharap Pramuka mampu mengambil peranan tersebut.

Dengan fakta di Jambore Nasional Pramuka IX, dan bukan untuk mendramatisir keadaan, sebaiknya Pramuka Indonesia sudah selayaknya mereformasi diri, agar mampu mengambil peran penting dalam pendidikan karakter generasi muda Indonesia.

Karakter yang memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa; peduli terhadap bangsa dan tanah air, peduli sesama hidup dan alam seisinya, peduli terhadap diri pribadinya, serta sebagai anggota Pramuka taat kepada Kode Kehormatan Pramuka.

Kehilangan Orangtua
Memang seperti diajarkan banyak agama, maupun falsafah hidup berbagai bangsa di dunia, setiap kali ada persoalan di kalangan anak muda, maka pihak yang paling bertanggungjawab adalah orangtua.

Tampaknya generasi muda Indonesia hari ini, termasuk para anggota Pramuka, telah kehilangan orangtua sesungguhnya. Mereka memiliki banyak orangtua, tapi beragam hal yang diajarkan. Ada yang terus mengajarkan hidup manja dan terus berbelanja, ada yang mengajarkan cara menipu dan korupsi, ada yang mengajarkan kemarahan dan kekerasan.

Meskipun masih ada orangtua yang mengajarkan cinta dan kasih, tapi mereka merupakan orangtua minoritas.

Oleh karena itu, guna menjadikan Pramuka seperti gerakan Kepanduan di masa kolonial Belanda, yang mana menjadi candradimuka anak muda Indonesia menuju pergerakan nasional, maka para orangtua sudah selayaknya bercermin. Berkaca. Membenahi diri sebagai orangtua sesungguhnya; orangtua yang mengajarkan Pancasila sebagai dasar hidup dan perilaku bangsa Indonesia hari ini dan di masa mendatang. [*]

Komentar


Berita Terkait