Budaya

Harta Karun Sungai Musi, Kabar Banyak Bukti Kurang

coba

01.09.2009 07:02:21 WIB

Oleh ADIS OKTAVIANI

KABAR atau isu mengenai penemuan harta karun di sungai Musi, ternyata sudah berlangsung sejak lama. Tahun 1970-an, sering terdengar kabar ada orang yang menemukan sisir emas atau benda-benda berharga lainnya di sungai Musi. Tapi kabar itu sampai sekarang hanya isu belaka, dan belum ada pihak yang memperlihatkan benda berharga yang ditemukan tersebut.
"Lihatlah nanti, tidak akan ditemukan harta karun atau benda-benda berharga tinggi yang didapatkan mereka. Sejak remaja aku sudah sering dengar soal kabar itu, tapi tidak pernah terbukti. Tapi, entah kalau mereka memang diam-diam menyimpannya," kata Do'ak (49), seorang pengacara yang masa mudanya dihabiskan di daerah 35 Ilir Palembang, dalam sebuah perbincangan, Selasa (01/09/2009) pagi.
"Kalau pun mereka mendapatkan cincin emas, giwang, atau kalung emas, ya itu wajar saja, sebab sungai Musi memang tempat orang beraktifitas terutama tempat mandi dan mencuci," katanya. "Coba diteliti benda-benda yang mereka temukan, ya, umumnya masih berusia baru atau muda," katanya.
Do'ak menilai ramainya warga menambang atau memburu harta karun di sungai Musi, pada dasarnya lantaran faktor ekonomi Indonesia yang lagi terpuruk. "Semua orang mencari kemungkinan untuk mengatasi persoalan ekonomi. Termasuk melakukan hal-hal yang menurut orang tertentu masuk diakal. Jadi, kalau ekonomi kita baik, akan jarang kita temukan orang-orang yang mengadu nasib seperti di sungai Musi itu," ujarnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, sampai hari ini (01/09/2009) masih banyak warga yang melakukan penambangan atau mencari harta karun di sungai Musi. Mereka menggunakan sejumlah perahu ketek dan membentuk sebuah tim terdiri 5-6 orang. Saat ini ada sekitar 40 perahu yang menyusuri sungai Musi dari bawah jembatan Ampera sebelah Ilir hingga pelabuhan 35 Ilir, buat melakukan penambangan atau mencari harta karun tersebut.

Komentar


Berita Terkait