Budaya

Mitos-Mitos Harta Karun di Sungai Musi

coba

29.08.2009 01:06:40 WIB

Oleh SUMARDONI

BEBERAPA mitos soal harta karun di sungai Musi, sampai saat ini masih berkembang ceritanya dari mulut ke mulut pada masyarakat Palembang. Misalnya ada sultan yang senang menyimpan batangan emas di kolam dekat sungai Musi, harta karun pulau Kemaro, serta cerita-cerita lainnya. Mitos ini mendapat legitimasi sejarah, sebab Palembang merupakan kota tertua di Indonesia, yang sejak berabad lalu tempat bertemunya berbagai suku-bangsa di nusantara maupun dunia.
Mitos pertama yakni soal Sultan Palembang yakni Sultan Mahmud Badaruddin I, yang sering menyimpan batangan emas di dalam kolam di depan istananya di kawasan Benteng Kuto Besak. Pada masa Sultan Mahmud Badaruddin I ini memang Palembang tengah makmur-makmurnya. Eksport timah, rempah-rempah, dan lainnya begitu marak dilakukan Kesultanan Palembang.
Nah, batangan emas itu konon kabarnya tidak ditemukan setelah sultan itu meninggal dunia. Dulu, sudah banyak pihak melakukan pencarian batangan emas sultan ini, tapi mereka belum menemukannya atau menyimpan ceritanya bagi yang berhasil.
Mitos kedua yakni soal asal usul pulau Kemaro--sebuah delta di sungai Musi--yang berlatarbelakang percintaan Siti Fatimah, salah satu putri Raja Sriwijaya dengan seorang pangeran dari Tiongkok.
Dikisahkan untuk melengkapi pinangannya terhadap Siti Fatimah, sang pangeran mengutus perwira pengawalnya pulang ke Tiongkok untuk meminta cindera mata kepada orangtuanya.
Selang berapa lama sang perwira pengawalnya datang kembali ke Palembang dengan membawa cindera mata dalam kapal beserta hulubalangnya. Tanpa sepengetahuan sang perwira pengawal dan hulubalangnya, rupanya ketika di Tiongkok, orangtua sang pangeran menyamarkan guci, keramik dan uang (emas atau perak yang berbentuk perahu) di bawah tumpukan sayur dan buah-buahan. Maksudnya untuk kejutan kepada calon mantu ketika menerima buah pinangan sang pangeran.
Ketika kapal akan sandar sang pangeran memeriksa kapal untuk meyakinkan isinya sesuai yang dia harapkan. Tapi ternyata yang keliatan hanya sayuran, buah-buahan, dan hasil pertanian lainnya. Sang Pangeran pun panik, karena dia berharap orang tuanya mengirimi cinderamata yang mewah dan mahal untuk menyenangkan sang putri.
Setelah dia mengobrak-abrik kapal sampai putus asa, akhirnya dia marah besar karena malu, dia melempar semua muatan kapal ke sungai Musi dan menenggelamkan beberapa kapalnya. Ketika sebagian besar hasil bumi sudah dibuang ke sungai, baru sang pangeran melihat ada uang di antara hasil bumi tersebut.
Merasa menyesal sudah membuang semua sang pangeran menyuruh seluruh hulu balangnya untuk mengambil sayuran yang sudah terlanjur dibuang ke sungai Musi. Karena arus bawah sungai Musi yang deras sebagian besar hulu balangnya mati tenggelam, dan hanyut terbawa arus. Sang Pangeran pun kemudian menyuruh perwira pengawalnya untuk menyusul mengambilnya. Dan seperti hulubalang lainnya, sang perwira pengawal pun tidak pernah timbul lagi ke permukaan sungai Musi.
Merasa penasaran dan panik, akhirnya pangeran ikut nyebur untuk mengambil sendiri buah pinangan dari dasar sungai Musi. Tapi seperti halnya hulubalang dan perwira pengawalnya, sang pangeran pun tidak pernah timbul lagi ke permukaan sungai.
Melihat kejadian itu sang putri ikut panik karena calon suaminya tidak timbul lagi ke permukaan sungai, dia pun ikut terjun ke sungai Musi untuk menolong calon suaminya. Tapi sang putri pun tidak pernah timbul lagi ke permukaan sungai. Tidak lama berselang dari tenggelamnya sang putri dari dasar sungai timbul gundukan tanah ke permukaan sungai yang akhirnya menjadi cikal bakal delta pulau Kemaro.
Nah, harta pangeran dari Tiongkok ini yang diyakini masyarakat Palembang masih tertimbun di sungai Musi.
Cerita lainnya, yakni banyaknya kapal dagang atau perang yang diserang perompak di muara sungai Musi, di daerah Sungsang. Soal fakta ini dibenarkan budayawan dan sejarawan Palembang, "Kalau di muara sungai Musi, kemungkinan harta karun cukup besar. Sebab dulunya banyak kapal dagang tenggelam atau dirampok di sana,"kata Djohan.

Komentar

11.10.2011 22:47:33 WIB | Adrian :

Ini Mitos apa Legenda si?



Berita Terkait